October 24, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

BerandaIslam.com, – Adanya upaya perundingan damai terhadap konflik yang sedang terjadi di Yaman dinilai oleh Prof Sulaiman Al-Muhajiri bahwa terdapat kepentingan politik Inggris dan Amerika disana. Hal itu dinyatakan olehnya di dalam artikel yang berjudul “Ada Apa di Balik Pergerakan Politik Terkini yang Terjadi Antara Kedua Belah Pihak Konflik di Yaman?” sebagaimana dilansir dari alariah.net (23/6).

“Sebagaimana yang nampak dari tindakan ini dan pergerakan yang dilakukan Inggris melalui rekan, agen dan pengikutnya. Ia berusaha melakukan gencatan senjata dan melindungi Kota Minyak Ma’arib dari kekuasaan Houthi dan menjaga kepentingannya, karena Ma’arib dianggap sebagai wilayah vital di Yaman. Hanya saja, Amerika menggagalkan (pergerakan)nya melalui para pengikut dan agen-agennya juga” tulisnya di dalam artikel tersebut.

Ia juga menjelaskan bahwa para pengamat peristiwa dan gerakan politik dari kedua belah pihak akan mendapati bahwa keduanya berusaha menghentikan peperangan, mengusulkan perundingan damai dan penyelesaian politik di Yaman yang masih tersendat hingga saat ini.

Namun di balik itu, mereka memiliki agenda masing-masing. Memang benar bahwa keduanya telah sepakat untuk sampai kepada pernyataan gencatan senjata, tapi keduanya tentu memiliki perbedaan motif untuk mencapai tujuan dan kepentingannya.
Masih dari sumber yang sama ia juga menjelaskan bahwa sebagaimana yang nampak, pertempuran di Ma’arib adalah titik penentu bagi Amerika, pengikut dan para anteknya.

Oleh karena itu, tujuan Amerika bukanlah untuk melakukan gencatan senjata ataupun ikut campur dalam negosiasi politik saat ini, dan juga bukan untuk mendukung apa yang disebut oleh pemerintahan Hadi, akan tetapi Amerika ingin mengulur waktu sampai Houthi menguasai Ma’arib, lalu muncul sebagai kekuatan yang berpengaruh di Yaman.

“Sementara Amerika, jika serius terkait gencatan senjata seperti yang diklaimnya, pasti akan memberlakukan hal tersebut, sebagaimana yang pernah ia lakukan untuk menyelamatkan Houthi dalam Perjanjian Stockholm tahun 2018 di Hudaidah. Ketika itu agen Inggris maju di Hudaidah –yang merupakan garis hidup bagi Houthi dan Amerika, melalui Kerajaan Saud– menekan Hadi untuk menyetujui Konferensi Swedia dan menyetujui apa yang diputuskan olehnya” pungkasnya.

Sumber :
https://www.alraiah.net/index.php/political-analysis/item/6149-what-is-behind-the-recent-political-moves-between-the-two-sides-of-the-conflict-in-yemen