April 17, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Pada tanggal 2 Agustus 2020, kanal Youtube bernama Khilafah Channel menayangkan diskusi mengenai rencana pemutaran film Jejak Khilafah di Nusantara. Diskusi yang dikemas dalam bentuk talkshow ini menghadirkan Ust. Ismail Yusanto dan Ust. Rahmat S. Labib selaku narasumber. Saudara Nicko Pandawa selaku produser film, dan Ust. Felix Siauw selaku host.

Reaksi pro dan kontra muncul di publik pasca talkshow tersebut. Film dokumenter yang rencananya akan tayang pada tanggal 20 Agustus 2020 nanti mendapat reaksi dari berbagai kalangan. Terkait hal tersebut, tim redaksi BerandaIslam wewawancarai salah satu tokoh dari lembaga Pamong Institute Kalimantan Barat, Ustadz Muhammad Kurniawan.

Berikut petikan wawancara singkat tim redaksi dengan Ust. Muhammad Kurniawan.

  • Beberapa waktu lalu telah diselenggarakan diskusi yang disiarkan via youtube tentang rencana penayangan film dokumenter jejak khilafah di nusantara, apakah ust kurniawan menontonnya? Bagaimana pendapat ust tentang diskusi tersebut?

Ya nonton. Saya sangat mengapresiasi diskusi tersebut. Dengan menontonnya saya kemudian mendapatkan gambaran tentang bagaimana nanti gambaran besar film dokumenter tersebut.

Film ini menurut saya akan menjadi film dokumenter yang berkualitas karena didukung bukti-bukti arkeologis dan kesaksian-kesaksian orang yang punya pengetahuan sejarah lokal. Selain itu diperkuat oleh kajian akademis dan pernyataan dari para ahli. Saya kira film ini akan menjadi bukti kuat  bahwa Khilafah adalah bagian integral dan pembentuk wajah sejarah Indonesia.

Sesuatu yang selama ini seolah dikaburkan. Seperti halnya dulu turki ketika dipimpin Mustafa Kamal Attaturk. Ia meminta agar sejarah Turki ditulis dengan menonjolkan kehebatan Turki bukan karena Islam. Melainkan karena Keunggulan bangsa Turki sejak zaman pra Islam. Kebijakan sejarah Turki waktu itu mesti dipahami sebagai upaya sekulerisasi yang dilakukan Mustafa Kamal Attaturk. Nah, saya khawatir kaburnya sejarah jejak Islam yg dibawa Khilafah ke Indonesia juga adalah bagian dari upaya sekulerisasi.

Film Jejak Khilafah di Nusantara ini akan menjadi penantang bagi upaya sekulerisasi tersebut.

  • Sejauh mana ustadz mengetahui hubungan khilafah dengan kerajaan kerajaan Islam di Nusantara?

Tidak sulit melihat jejak khilafah di Nusantara sebenarnya. Jika melihat kubah-kubah masjid yang ada di Indonesia umumnya di puncaknya terdapat lambang bulan bintang.  Bulan bintang adalah simbol yang biasa digunakan oleh kekhilafahan Turki Utsmani. Di Pontianak sendiri, di masjid Jami  sebagai masjid pertama yang didirikan di Pontianak serta istana Sultan Pontianak dapat dengan mudah kita jumpai simbol bulan bintang tersebut. Jika sejarah Kesultanan yang ada di Indonesia digali lebih dalam, saya kira kita akan dapatkan benang merah hubungannya denga kekhilafahan Utsmani.

  • Terkait dengan film yang akan ditayangkan pada awal Muharam ini, ternyata menjadi perbincangan di media sosial terkait “pencatutan nama”. Bagaimana ustadz menanggapi berita tersebut?

Pencatutan nama menurut saya adalah masalah kecil yg dibesar-besarkan. Saya melihat persoalan ini lebih kepada persoalan komunikasi dalam pengutipan. Ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan dan melakukan klarifikasi. Namun sayangnya justru dibesar-besarkan. Barangkali karena topik Khilafah adalah hal  yg masih sensitif bagi sebagian kelompok kepentingan. Terutama seperti yang saya sebutkan di atas bahwa film ini adalah penantang proyek sekulerisasi di Indonesia. Hal ini mengganggu mereka yang diuntungkan dalam proyek sekulerisasi ini. Sehingga arti  penting film ini utk mengingatkan kembali sejarah yang terlupakan justru sengaja dikaburkan oleh hal-hal kecil yg tidak substantif. Tapi mudah-mudahan umat tidak terpengaruh. [gus]