April 22, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Dikisahkan kembali oleh Pay Jarot Sujarwo

Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa Arafah, beliau menjawab, “Puasa Arafah menghapus dosa tahun yang lalu dan tahun yang akan datang…”

HR. Muslim

8 Dzulhijjah, Nabi Ibrahim AS mendapatkan mimpi yang sangat mengejutkan. Di dalam mimpi itu, beliau mendapat perintah untuk menyembelih anak kesayangannya. Mimpi seperti apa ini? Bangun tidur, dirinya diliputi kebimbangan teramat sangat.

Betapa tidak, cukup lama Nabi Ibrahim menantikan buah hati. Istrinya, Siti Hajar tak juga mengandung. Sangat lama sepasang suami istri ini menanti. Hingga akhirnya, di usia yang tak lagi muda, akhirnya sang istri mengandung. Anak itu lahir, diberi nama Ismail. Rezeki tak terhingga dari Allah SWT.

Tapi apa nyana? Ismail kecil, diperintahkan untuk disembelih. Begitu kira-kira kisah dari mimpi Ibrahim AS. Sebagai seorang Nabi, Ibrahim sangat memahami bahwa mimpi kerap dijadikan media datangnya wahyu dari Allah SWT. Tentu saja ini membuatnya gusar. Di satu sisi, beliau beliau begitu menyayangi buah hatinya, di sisi yang lain, mustahil baginya untuk melanggar perintah dari Allah SWT.

Keesokan harinya, 9 Dzulhijjah, Ibrahim kembali mengalami mimpi serupa. Bahwa ia harus mengorbankan putranya. Mimpi kedua inilah yang menimbulkan keyakinan dari dirinya, bahwa ini bernar-benar merupakan perintah dari Allah SWT. Hari ‘keyakinan’ inilah yang kemudian dikenal dengan sebutan hari Arafah.

Nabi Ibrahim kemudian menuju Mekah tempat dimana anak dan istrinya berada. Karena ini sudah menjadi keyakinan, maka diceritakanlah peristiwa dalam mimpi tersebut kepada putranya, Ismail AS. Ternyata jawaban yang mengejutkan datang dari jiwa ikhlas Ismail. Ia meminta agar ayahnya menjalankan perintah Allah SWT.

Luar biasa. Inilah keyakinan untuk tunduk terhadap pemerintah dari pemilik hidup. Tak ada alasan. Tak banyak pertimbangan. Jika Allah sudah meerintahkan, maka tak ada pilihan. Harus dijalankan. Dan jika menjalankannya dengan hati yang ikhlas, maka surga balasannya.

Nabi Ismail ‘alaihis salam berkata,

“Wahai ayahku! Laksanakanlah apa yang telah diperintahkan Allah kepadamu. Engkau akan menemuiku Insya Allah sebagai seorang sabar dan patuh kepada perintah. Aku hanya meminta dalam melaksanakan perintah Allah itu, agar ayah mengikatku kuat-kuat supaya aku tidak bergerak-gerak hingga menyusahkan ayah. Kedua, agar menanggalkan pakaianku supaya tidak terkena darah yang akan menyebabkan berkurangnya pahalaku dan terharunya ibuku melihatnya. Ketiga, tajamkanlah parangmu dan percepatlah pelaksanaan penyembelihan agar meringankan penderitaan dan rasa pedihku. Keempat dan yang terakhir, sampaikanlah salamku kepada ibuku, berikanlah kepadanya pakaianku ini untuk menjadi penghiburnya dalam kesedihan dan tanda mata serta kenang-kenangan baginya dari putera tunggalnya.”

Nabi Ibrahim ‘alaihis salam menjawab,

“Bahagianya aku mempunyai seorang putera yang taat kepada Allah, bakti kepada orang tua, yang dengan ikhlas menyerahkan dirinya untuk melaksanakan perintah Allah.”

Begitulah, awal mula sejarah puasa Arafah. Keyakinan untuk tunduk terhadap syariat. Tanpa tapi. Tanpa nanti. Semoga menjadi ibrah bagi kita semua.

Lalu Kami panggil dia, “Wahai Ibrahim! Sungguh engkau telah membenarkan mimpimu itu. Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesunggunya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.”

QS. Ash-Shaaffaat : 104-106