April 17, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Pemutaran Film dokumenter Jejak Khilafah Di Nusantara (JKDN) telah dilaksanakan pada hari kamis 20 Agustus 2020 / 1 Muharam 1442.

Opini tentang pemutaran film ini telah beredar di dunia maya dan dunia nyata sejak jauh-jauh hari dan mendapat respon dari berbagai kalangan. Seyogyanya ini adalah film yang mencerahkan. Bercerita tentang fakta-fakta sejarah yang barangkali tidak terungkap. Film ini pula telah ditunggu ratusan ribu manusia Indonesia untuk menontonnya.

Tapi pemutaran film JKDN tersebut ternyata tidak berjalan dengan lancar. Tercatat lebih dari tiga kali ada upaya pemblokiran agar film tersebut tak bisa diputar. Penyelenggara terlihat gigih menyiapkan skenario ganda sehingga meskipun tersendat JKDN dapat diselenggarakan hingga selesai.

Mengenai hal tersebut aktivis Islam dan Peradaban Doni Riw membuat catatan khusus tentang ini di akun sosmednya. Menurut Doni, peristiwa pemblokiran oleh rezim dan platform penayang video online itu tak kalah penting dari isi filmnya sendiri.

Doni menyatakan bahwa peristiwa pemblokiran ini menunjukkan pada publik bahwa kebebasan bersuara yang diagung-agungkan oleh pemuja demokrasi hanyalah isapan jempol semata.

Rezim sebagai representasi pelaku demokrasi dalam negeri, dan Platform Penyedia Video populer sebagai representasi pelaku kapitalisme global, sama-sama tak mampu menghadapi kenyataan, bahwa demokrasi dan kapitalisme hanyalah otoritarian berbaju kebebasan.

“Saya sarankan kepada para pemuja demokrasi untuk meminta maaf kepada publik tentang kebohongan yang mereka dengungkan selama ini, bahwa demokrasi dan kapitalisme adalah alam kebebasan dan kemerdekaan.” ungkap doni

Film JKDN adalah kemenangan tiga lapis. Pertama, film ini membuka fakta sejarah yang selama ini ditutupi. Ke dua, pemblokiran film ini menunjukkan bahwa kebebasan demokrasi hanya mitos semata.
Ke tiga, keberhasilan penyelenggara dalam berkelit dari tiga kali pemblokiran adalah kemenangan perang gerilya cyber bu bahkan medan pertempurannya adalah milik kapitalis sendiri.

Selanjutnya Doni berharap bahwa umat tak boleh terlena dengan kemenangan ini. Umat harus segera mempersiapkan diri pada pertempuran besar selanjutnya yang pasti lebih sengit, sekaligus mengubah sejarah peradaban dunia ini.

(PY)