April 17, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

BerandaIslam.com – Mengutip dari Republika, Jumat (11/9), pemerintah Barat, Inggris, dan Amerika Serikat (AS), dianggap mengabaikan Islamofobia institusional mereka sendiri, sementara itu juga secara munafik menentang penganiayaan China terhadap komunitas Muslim Uighur. Hal tersebut diungkapkan, lulusan Sejarah dan Politik Universitas Warwick, Taj Ali.

“Saat kita mendengar tentang penderitaan Muslim Uighur di kamp konsentrasi, kita diingatkan tentang konsekuensi nyata dari retorika Islamofobia. Islamofobia, tentu saja, tidak hanya terjadi di China,” kata Ali dilansir dari laman 5pillarsuk yang dikutip Republika Jumat (11/9).

“Di seluruh dunia, dari Inggris hingga Burma, AS hingga India, telah terjadi peningkatan signifikan dalam Islamofobia. Sebagai seorang Muslim Inggris dari Luton, saya telah menyaksikan secara langsung, konsekuensi dari histeria berbahaya yang mencambuk komunitas Muslim dari para politisi,” lanjut Ali. 

Dia mengungkapkan, organisasi sayap kanan seperti Britain First dan English Defence League telah menjangkiti kota-kota selama bertahun-tahun. Saat para Muslim terus menyaksikan peningkatan kejahatan rasial anti-Muslim di Inggris, politisi mereka tidak melakukan apa-apa untuk menantangnya.  

Baik wanita Muslim yang jilbabnya dirobek dari orang yang lewat di jalan, atau Muslim dicegat dan digeledah secara tidak proporsional, kemudian menjadi sasaran pelecehan melalui program pencegahan Islamofobia, Inggris telah mentolerir pelanggaran hak asasi manusia terhadap Muslim selama bertahun-tahun. Isalmofobia juga terjadi di negara-negara Skandinavia, yang sebelumnya melakukan aksi pembakaran Alquran beberapa bulan yang lalu.

photo

Keterangan Gambar : Muslim Uighur di Cina – (Dokrep)

Sementara itu, di Amerika Serikat, pemerintahan Trump juga menyoroti kasus Muslim Uighur. Namun, mantan ajudannya, Jon Bolton menuduh bahwa Trump sebelumnya telah memberi lampu hijau kepada Presiden China, Xi Jinping untuk membangun kamp konsentrasi. Pemimpin AS menyatakan itu hal yang tepat untuk dilakukan.

“Ini seharusnya tidak mengejutkan kami, bagaimanapun juga, Trump yang mengusulkan larangan perjalanan Muslim. Apakah kita akan terkejut bahwa seseorang yang me-retweet Britain First dan Katie Hopkins tidak memiliki kepentingan terbaik bagi Muslim?” kata dia.

Di tengah perang perdagangan ekonomi dengan China, begitu jelas bahwa AS dan sekutu Baratnya, baru sekarang mulai menyoroti penganiayaan terhadap Muslim Uighur karena secara politis mereka nyaman untuk melakukannya. Jika kebijakan luar negeri Inggris dimotivasi oleh kepedulian terhadap hak asasi manusia daripada kepentingan ekonomi, mengapa diam ketika Muslim dianiaya di India maupun di Rohigya, Myanmar.

Di bawah pengawasan Modi, Muslim telah menderita hukuman mati tanpa pengadilan, dan kejahatan rasial agama terhadap Muslim telah meningkat. Baru-baru ini, pemerintah Modi mencabut kewarganegaraan dua juta, kebanyakan Muslim India di Assam. Kebijakan semacam itu telah dianggap sebagai tindakan pencabutan hak terbesar dalam sejarah manusia.

Belum lagi, penindasan terhadap penduduk yang sebagian besar Muslim di Kashmir. Orang-orang Kashmir menjadi sasaran hukum yang kejam dan penerapan ‘lockdown’ semenjak Agustus lalu. Standar ganda berbicara banyak, dan menyoroti bagaimana penderitaan umat Islam hanya dibicarakan ketika itu sesuai dengan agenda geopolitik.

Tidak jauh berbeda sebagaimana yang terjadi di Rohigya. Baru-baru ini sekitar 100 orang Rohingya, kebanyakan wanita dan anak-anak, tiba di daerah yang sama pada bulan Juni dalam dua kelompok, setelah melakukan perjalanan laut selama empat bulan, dan mereka dipukuli oleh pedagang manusia dan dipaksa minum air seni mereka sendiri agar tetap hidup.

Para pengungsi yang mendarat pada bulan Juni dan kedatangannya kemungkinan merupakan bagian dari sekitar 800 Rohingya yang dilaporkan meninggalkan Bangladesh selatan awal tahun ini. Sekitar 30 migran dalam kelompok asli diyakini tewas di laut.

Islamofobia, seperti bentuk rasisme lainnya, memanifestasikan dirinya secara terbuka melalui tindakan prasangka individu maupun secara kelembagaan, yang secara tidak proporsional menargetkan komunitas Muslim. Islamofobia lebih dari sekadar serangan terhadap Muslim, ini merupakan alat politik, yang digunakan untuk mencapai tujuan kebijakan dalam, dan luar negeri dengan mengkambinghitamkan Muslim untuk masalah masyarakat. Namun di sisi lain, mencoba untuk peduli akan nasib Muslim Uighur dan lainnya.

“Banyak dari politisi kita telah berkontribusi pada fenomena yang ingin mereka soroti di tempat lain. Ini hanya menyisakan satu kesimpulan bagi kita, kekhawatiran palsu mereka tentang Muslim Uighur di China lebih dimotivasi sentimen anti-China daripada kekhawatiran yang tulus tentang kesejahteraan Muslim. Perhatian global pada penindasan terhadap Uighur adalah langkah ke arah yang benar, tetapi politisi dan media kita harus konsisten dalam menentang Islamofobia,” papar Ali. []

Sumber : https://republika.co.id/berita/qghxn6320/muka-2-barat-abai-islamofobia-lalu-peduli-muslim-uighur