August 4, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : W.Irvandi

Merupakan hal yang wajar jika seorang manusia senantiasa membentuk ikatan persahabatan. Termasuk para remaja Muslim, tentu saja mencari sahabat sebagai teman untuk saling curhat, cerita, ngobrol dan bercanda. Persahabatan tersebut dapat terbentuk di berbagai lingkungan, karena mungkin berada di dalam satu sekolah yang sama, satu kampus, lingkungan nongkrong dan bermain atau karena berada di dalam satu komunitas hobi dan kegiatan sosial lainnya.

Paling tidak biasanya sudah terbentuk konsep bahwa sahabat adalah orang-orang yang selalu ada di samping kita. Kita pun dapat mengandalkan kesetiaan sahabat tersebut, dan bebas berbicara dan menceritakan masalah. Bahkan jika ada masalah yang sangat pribadi pun atau sedang membutuhkan nasihat, maka kita akan mencari sahabat untuk menceritakan kepadanya.

Namun, ada perbedaan persahabatan di dalam masyarakat Barat dan di dalam persahabatan dalam pandangan Islam. Masyarakat Barat mengadopsi asas manfaat sebagai ikatan persahabatan. Maksudnya ikatan persahabatan terbentuk karena ada kepentingan yang sama. Sama-sama merasa perlu teman curhat, teman bermain, bahkan tidak jarang mereka saling menyembunyikan aib mereka masing-masing.

Sayangnya banyak remaja Muslim yang mengambil bentuk persahabatan sebagaimana yang ada pada masyarakat Barat. Padahal karena ikatan persahabatan di Barat berdasarkan manfaat maka akan mudah bagi mereka untuk saling memutus ikatan persahabatan itu, saling berselisih bahkan kemudian bermusuhan jika manfaat dan kepentingan di antara mereka sudah hilang.

Kejadian tersebut juga biasanya terjadi pada masalah-masalah sepele, seperti tidak diajak bepergian atau nongkrong, tidak membalas pesan, atau persoalan yang lebih besar misalnya pengkhianatan. Termasuk kadang sudah saling menceritakan aib masing-masing yang diketahui kepada orang lain. Lebih parahnya lagi di masyarakat terjadi perselingkuhan dengan pasangan sahabat mereka.

Masyarakat di Barat juga mejadikan persahabatan sebagai status kehidupan. Merasa bangga jika berada di dalam kelompok-kelompok tertenu agar dikatakan hebat. Biasanya juga kelompok-kelompok tersebut disebut geng memiliki keegoan masing-masing. Karena berasaskan pada manfaat dan kepentingan maka jika ada sahabat yang dianggap tidak lagi berguna maka mereka pun akan ditinggalkan. Apabila ada sahabat yang tiba-tiba berubah atau hijrah menuju kepada Islam dengan menjadi lebih taat maka biasanya terjadi ‘pembullyan’.

Konsep persahabatan di dalam Islam berbeda jauh dengan pandangan Barat. Islam memahmai bahwa memang secara alamiah ada seorang Muslim yang menghabiskan waktu dengan orang-orang tertenu dan merasa nyaman dengan mereka. Walaupun demikian, bukan berarti Muslim yang lain tidak menjadi teman atau sahabat. Hal ini hanya menunjukkan bahwa ia hanya lebih dekat dengan orang-orang tertenu daripada dengan yang lain, sebagaimana seseorang lebih dekat dengan keluarganya sendiri dibanding yang lain.

Persahabatan di dalam Islam juga memiliki konsep bahwa jika ada yang mempercayakan cerita atau masalah itu karena bertujuan untuk mendapatkan nasehat dan bantuan dari mereka. Demikianlah kadang ada yang bertanya mengenai masalah ekonomi, pernikahan, persoalan keluarga serta berbagai kesulitan lainnnya.

Islam memahami bahwa sahabat akan memberikan pengaruh yang kuat pada diri seseorang, dan bahwa lingkungan juga akan mempengaruhi hubungan antara manusia dengan Allah SWT. Rasulullah saw bersabda : “Orang itu mengikuti agama teman dekatnya; karena itu perhatikanlah dnegan siapa ia berteman dekat.” [HR Tirmidzi]

Oleh karenanya sudah seharusnya setiap remaja Muslim mencari sahabat yang mau menasehatinya dan mengingatkannya terhadap Allah SWT bukan malah membiarkan sahabatnya terjerumus ke dalma kubangan dosa dan maksiat karena bujukan setan.

Jalinan kasih sayang antara dua sahabat Muslim adalah ikatan yang dapat membuat keduanya saling mempercayai, saling menolong setiap kalii dibutuhkan dan saling meneguhkan komitmen mereka kepada agama Allah SWT. Rasulullah saw pun mendorong agar kaum Muslim bersahabat untuk tidka membatasi persahabatan itu hanya bagi mereka.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa Rasulullah saw bersabda : “Jika salah seorang di antara kamu mencintai saudaranya karena Allah, maka kabarkanlah hal itu kepadanya, kerena hal itu dapat mengokohkan rasa cintanya.”

Abu Hurairah ra juga meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda : “Tidaklah kalian akan masuk surga sampai kalian beriman dan tidaklah kalian (benar-benar) beriman hingga kalian (saling) mencintai. Sukakah kalian jika aku tunjukkan sesuatu yang bila kalian lakukan akan membuat kalian saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR Muslim)

Oleh karena itu ikatan sahabat di dalam Islam bukan karena asas manfaat, melainkan persahabatan dibentuk atas dasar ingin saling menolong dalam menghindari perkara-perkara yang haram. Bagaimana mungkin membiarkan sahabatnya terbakar api neraka, seseorang yang demikian tidak pantas disebut sahabat, melainkan seorang musuh yang paling buruk. Oleh karena itu, kaum Muslim harus saling mengingatkan dan menasehati. Rasulullah saw bersabda:

“Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya. Apabila melihat aib padanya, maka ia akan segera memperbaikinya.” (HR Tirmidzi)

Maka dari itu seharusnya kita bersyukur ketika ada sahabt yang sedang menasehati kita, mengajak kita kepada kebaikan dan ketaatan kepada Allah. Mengingatkan kita untuk bersama-sama mengkaji dan belajar agama Islam, dan bersama-sama mendakwahkannya kepada siapapun untuk menambah jumlah sahabat mereka.[]

Wallahu’alam Bisshowwab