August 4, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Ilustrasi resesi ekonomi akibat pandemi virus corona. (Kompas.com)

Kondisi Pandemi dan Dampak Ekonominya di Indonesia Saat Ini

BerandaIslam.com – Berbagai kebijakan untuk mengatasi pandemi Covid-19 sampai saat ini tidak mampu untuk menahan laju penyebarannya. Pembatasan sosial berskala besar (PSBB), dan New Normal yang saat ini diterapkan juga tidak menunjukkan hasil yang siginifikan.

Sebagaimana dilansir pada laman Kompas (1/9), hingga Selasa (1/9/2020) kemarin, ada 177.571 orang yang dinyatakan positif Covid-19. Dari jumlah tersebut, 128.057 orang dinyatakan sembuh. Sementara 7.505 orang meninggal dunia. Kasus Covid-19 kini sudah tercatat di semua provinsi atau 34 provinsi dan 488 kabupaten/kota.

Tingkat positivity rate Indonesia juga masih tinggi di angka 14 persen, jauh dari standar WHO sebesar 5 persen. Angka fatality rate atau kematian di Indonesia juga lebih tinggi dari rata-rata dunia, yakni 4,2 persen berbanding 3,36 persen.

Di tengah laju penularan yang terus terjadi setiap harinya, Indonesia masih memiliki sejumlah masalah lain. Selain masalah pemeriksaan spesimen, munculnya hoax vaksin, hingga diduga adanya korupsi pada dana yang digunakan untuk mengatasi pandemi tersebut. Selain menimbulkan dampak dari sisi kesehatan, pandemi juga memunculkan krisis di sektor ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi RI minus 5,32 persen. Pemerintah telah menggelontorkan berbagai bantuan dan stimulus untuk membantu masyarakat dan membangkitkan perekonomian. Namun ternyata belanja pemerintah pusat dan daerah juga terus dikebut agar ekonomi kembali tumbuh positif.

Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengatakan, pemerintah telah menganggarkan Rp 356,5 triliun untuk pemulihan ekonomi nasional (PEN) tahun 2021. (Kompas.com, 1/9/2020)

Mengutip dari Majalah al-waie edisi April 2020 dinyatakan bahwa potensi resesi ekonomi global, juga berdampak pada Indonesia, berpeluang besar terjadi jika wabah Corona menjadi semakin masif dan berkepanjangan.

Menurut Addin al-Fatih, Ph.d dalam tulisannya yang berjudul “Solusi Islam Mengatasi Krisis Ekonomi Global” dari sumber yang sama dinyatakan bahwa penyebab utama krisis ekonomi dan keuangan dapat diringkas kedalam lima kelompok.

Pertama, kelakuan buruk pelaku ekonomi yaitu terkait keserakahan, individualisme, hedonisme, spekulasi, gharar dan curang selain itu ada prilaku monopoli, penimbunan, kontrol harga, manipulasi, informasi asimetris (tidak seimbang), serta tidak ada keadilan distributif.

Kedua, faktor dan peristiwa eksternal diantaranya adalah siklus bisnis, bencana alam, wabah penyakit menular, sistem moneter internasional, ketidakstabilan politik dan sosial.

Ketiga, tata kelola yang buruk diantaranya administrasi, korupsi, kurangnya regulasi, kontrol harga, menempatkan orang yang salah di tempat yang salah, serta adanya korupsi.

Keempat, sistem moneter/keuangan yang tidak stabil diantaranya adalah sistem bunga ribawi, uang kertas, sistem perbankan cadangan fraksional, sistem leverage, derivasi produk dan penciptaan kredit melalui kartu kredit.

Kelima, sistem fiskal yang tidak berkelanjutan, diantaranya pajak yang berlebihan, utang negara dan pengeluaran yang berlebihan, manajemen persediaan komoditas strategis yang buruk dan sistem fiskal yang tidak efektif.

Islam memberikan solusi untuk mencegah krisis global tersebut dengan cara penerapan sistem Islam dalam aspek ekonomi, sosial maupun politik serta aspek lainnya.

Kebijakan politik ekonomi Islam bertujuan memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan pokok kepada individu dan pemerintah atau negara (Khilafah) yang akan melaksanakan politik dalam dan luar negeri.

Adapun titik berat sasaran pemecahan permasalahan dalam ekonomi Islam terletak pada menyelesaikan masalah ekonomi secara individu bukan pada tingkat kolektif (negara dan masyarakat), yaitu dengan menjalankan seluruh mekanisme syariah Islam. (WI)