April 17, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Godaan bagi para remaja muslim saat ini selain masalah pergaulan atau interaksi dengan lawan jenis adalah serangan life style atau gaya hidup. Gaya hidup bisa dilihat dari cara berpakaian, kebiasaan, dan lain-lain. Beberapa kebiasaan dan gaya hidup yang sedang mempengaruhi remaja saat ini diantaranya adalah game online, fashion, movie, music, sport dan sebagainya. Akhirnya banyak waktu remaja yang tersia-siakan.

Hal ini disebabkan remaja tidak memiliki prioritas dan penentuan aktivitas utama. Padahal prioritas waktu adalah perkara penting bagi kehidupan remaja. Waktu inilah yang bisa menimbulkan permasalahan. Bahkan tidak sedikit para remaja juga duduk seharian di kedai-kedai cafe, hanya untuk ngobrol atau hanya sekedar bermain game. Inilah kondisi remaja sekarang. Orang tua sulit melakukan komunikasi, hingga membentuk prilaku yang tidak sopan maupun kelirunya pemahaman.

Para ulama telah memberikan contoh terkait bagaimana menghabiskan waktu. Imam Ibnu Aqil dan Imam Ibnul Jauzi adalah mercusuar ulama dalam soal manajemen waktu. Mereka sadar nilai dan harga dari setiap waktu. Termasuk kegigihan mereka dalam mengisi waktu dengan amal-amal produktif, mengambil pelajaran dari setiap peluang yang ada pada setiap hal.

Imam Ibnu Aqil berkata “Tidak boleh bagiku menyia-nyiakan sesaat pun dari umurku. Kalau lisanku berhenti berdzikir atau berdiskusi, dan mataku tidak digunakan membaca, maka aku gunakan pikiranku saat sedang beristirahat sambil berbaring. Saat aku bangkit, sudah ada sesuatu yang aku tulis. Saya mendapatkan ambisi saya pada usia 80 tahun untuk menuntut ilmu, justru lebih besar daripada saat berusia 20 tahun.

Bahkan salah satu karya beliau adalah Kitab Al-Funun terdiri dari 800 jilid, dan itu hanya salah satu karya beliau. Al-Hafizh Dzahabi menjelaskan, “Di dunia ini tidak ada karya tulis yang diciptakan setara dengan kitab ini. Demikian diceritakan oleh orang yang baru melihat jilid keempat ratus sekian.” Ibnu Rajab menjelaskan, “Sebagian orang mengatakan bahwa jumlahnya adalah 800 jilid.” Hal ini ditemukan berdasarkan penelitian Dr. George Al-Maqdisi. (Fattah, 2008)

Sedangkan Imam Ibnul Jauzi tak rela jika waktunya terbuang sia-sia. Beliau mampu menghasilkan 500 karya ilmiah karena berhasil mengatur dan memanajemen waktunya. Imam Ibnul Jauzi berkata “Seorang manusia selayaknya mengenal nilai dari perputaran masa, dan harga dari waktu yang ia miliki. Jangan sampai ia menyia-nyiakan sejenak pun tanpa amal kebajikan. Dan harus dicari secara prioritas, amalan apa saja yang terbaik. Niat untuk berbuat kebajikan itu harus senantiasa tegak dan tak boleh mengalami kelesuan, sehingga ia mampu melakukan hal yang tak sanggup dilakukan oleh badan. Seperti disebutkan dalam sebuah hadis yang mulia ‘Niat seorang mukmin lebih berharga daripada amal perbuatannya’.

Ada juga ulama masa kini, beliau adalah Syekh Taqiyuddin An-Nabhani, pendiri kelompok partai politik Hizbut Tahrir. Waktunya digunakan untuk aktivitas dakwah. Di luar aktivitas dakwah politiknya, Syekh Taqiyuddin kerap meluangkan waktunya untuk dengan menulis buku. Beliau telah menyusun berbagai macam kitab penting yang dapat dianggap sebagai kekayaan pemikiran yang tak ternilai harganya.

Karya-karyanya tersebut menunjukkan bahwa Syekh Taqiyuddin merupakan seorang cendekiawan dan tokoh Islam yang mempunyai pemikiran brilian dengan analisis yang cermat. Sedikitnya terdapat 25 hasil karya Syekh Taqiyuddin al-Nabhani yang paling terkenal, yang memuat pemikiran dan ijtihadnya. Walaupun karyanya sedikit namun merupakan tonggak untuk membangun peradaban Islam.

Karena itu, selama di Mesir, beliau yang memang mempunyai kecerdasan luar biasa itu waktunya dihabiskan untuk mengikuti talaqqi, membaca, menulis dan berdiskusi. Beliau tidak banyak bicara, kata Syaikh as-Sya’rawi, tapi kalau bicara seperti mutiara. Maka, masih menurut murid beliau, ketika di Mesir beliau sudah menghabiskan 25,000 kitab. Menjelang wafatnya, putra beliau menuturkan, tidak kurang dari 30,000 kitab. Bahkan, di dalam kondisi sulit sekalipun, setiap hari beliau masih bisa mengkhatamkan 1 buku.

Lantas, bagaimana kita sebagai remaja seharusnya menghabiskan waktu? Sebaik-baik aktivitas untuk mengisi waktu dan mendekatkan diri kepada Allah SWT dan sekali lagi niatnya harus tertanam. Sehingga cara terbaik untuk mengisi waktu dan menyibukkan diri adalah senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT diantaranya menuntut ilmu dan beraktivitas di dalam dakwah. ilmu untuk menguatkan ibadah, sedangkan dakwah untuk mengokohkan diri.

Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” [TQS. Muhammad : 7]

Terkait manajemen waktu, maka caranya kita bisa membagi setiap kegiatn sesuai waktu yang dibutuhkannya. Ada waktu utama, waktu penting dan waktu tidak penting. Untuk waktu utama, maka ia adalah waktu yang menjadi poros seluruh aktivitas. Di waktu utama inilah para remaja harus mengutamakan daripada aktivtitas lainnya. Waktu utama tersebut adalah menuntut ilmu dan dakwah.

Sedangkan untuk waktu penting adalah waktu-waktu ibadah wajib lainnya, terutama kewajiban individu dalam beribadah. Termasuk pemenuhan kebutuhan pokok misalnya bekerja, makan, istirahat dan lain-lain, untuk mendukung aktivitas-aktivitas lainnya. Sedangkan waktu tidak penting adalah waktu lain sebagaimana kebutuhan aktivitas-aktivitas yang hukumnya mubah. Untuk waktu ini, maka pilihlah aktivitas yang dapat mendatangkan manfaat.

Jika untuk menuntut ilmu, maka dapat dibagi beberapa aktivitas, ada waktu untuk berfikir biasa, karena sifatnya ringan dan mudah dikerjakan. Seperti mengutip kitab, menelaah ulang pelajaran, membaca sekilas dan lain sebagainya. Karena hal ini tidak membutuhkan pemusatan pikiran yang jernih, konsentrasi tinggi, serta pemikiran yang dalam dan cermat.

Sedangkan ada waktu untuk berfikir jernih, kemauan yang kuat, pemahaman yang dalam bahkan waktu-waktu yang ada keberkahan didalamnya. Misalnya waktu sahur, waktu fajar dna pagi hari, saat keheningan malam dan sebagainya. Maka di waktu-waktu inilah harus dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang rumit dan problematika yang pelik, ditambah dengan senantiasa tempat untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT.

Waktu yang berkualitas tersebut dapat juga untuk merivisi tulisan, memperbaiki kesalahan, memperjelas ungkapan, menghafal, memahami, dan sebagainya, yang kesemuanya digunakan sebagai modal untuk berdakwah. Demikianlah, waktu merupakan perkara penting bagi para pemuda dan remaja. Dengan waktu itulah yang akan menentukan apa yang akan mereka dapatkan di masa depan.

Wallahualam bisshowwab