October 18, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Diantara sahabat-sahabat Nabi saw banyak yang memiliki keutamaan dan kebijaksanaan, diantaranya adalah Mush’ab bin Umair dan Sa’ad bin Mu’adz ra. Sa’ad bin Mu’adz ra adalah ahlu al-nushrah Nabi saw dari kaum Anshor. Dukungan beliau ra menjadi sebab terjadinya peristiwa besar bersejarah, Baiat ‘Aqabah II. Pada peristiwa tersebut Rasulullah saw dibai’at untuk memimpin kaum Muslim dalam sebuah institusi negara Islam di Madinah Munawwarah untuk menegakkan risalah Islam.

Sa’ad bin Mu’adz ra masuk Islam atas jasa dari seorang sahabat Nabi saw lainnya yaitu Mush’ab bin Umair ra, seorang pemuda yang meninggalkan berbagai macam kemewahan dan gemerlapnya dunia, dan menggantikannya dengan menuju jalan dakwah untuk menyebarluaskan risalah Islam. Setelah peristiwa Bai’at ‘Aqabah I, Rasulullah saw menyertakan Mush’ab bin Umair dalam rombongan kaum Anshor untuk menyampaikan Islam di Madinah.

Suatu saat, As’ad bin Zurarah dan Mush’ab bin Umair ra berjalan menuju rumah Bani ‘Abd al-Asyhal dan rumah Bani Dhafar. Keduanya masuk ke salah satu kebun milik Bani Dhafar dan duduk di dalamnya. Orang-orang yang sudah masuk Islam ikut berkumpul bersama keduanya.

Ketika itu, Sa’ad bin Mu’adz dan Usaid bin Hudlair adalah pemimpin Bani ‘Abd al-Asyhal dan belum masuk agama Islam. Pada saat keduanya mendegar kedatangan Mush’ab bin Umair, Sa’ad pun berkata kepada Usaid “Semoga engkau tidak mempunyai ayah. Pergilah kamu kepada dua orang yang datang ke perkempungan kita untuk menipu orang-orang lemah kita. Laranglah keduanya, dan cegahlah keduanya dari memasuki perkampungan kita. Seandainya As’ad bin Zurarah bukan termasuk orang kita, seperti yang engkau ketahui, maka cukup aku saja yang menangani masalah ini. Dia anak bibiku dan aku tidak berani berhadapan dengannya.”

Usaid segera berdiri mengambil tombaknya dan pergi menemui As’ad dan Mush’ab bin Umair dengan marah ia berkata “Kalian berdua datang kepada kami hanya untuk menipu orang-orang lemah kami. Pergilah kalian berdua dari tempat kami, jika kalian berdua mempunyai keperluan.” Mush’ab bin Umair pun berkata “Kenapa kamu tidak duduk, kemudian mendengar ucapanku. Jika kamu menyukainya, kamu menerimanya. Jika kamu tidak menyukainya, maka tahanlah dari dirimu apa yang tidak engkau sukai”. Usaid bin Hudlair berkata “Kamu berkata benar.”

Usaid pun menancapkan tombaknya di tanah dan duduk di hadapan As’ad dan Mush’ab, lalu Mush’ab menjelaskan Islam kepada Usaid dan membacakan Al-Quran kepadanya. As’ad dan Mush’ab pun berkata “Demi Allah kami melihat Islam di wajah Usaid bin Hudlair sebelum ia bicara. Wajahnya bersinar dan terlihat ramah.” Usaid berkata “Sungguh indah dan menawan perkataan ini! Apa yang kalian kerjakaan jika kalian ingin masuk ke dalam agama ini?”

Demikianlah akhirnya Usaid bin Hudlair masuk Islam. Ia mengambil tombaknya kembali dan pergi menemui Sa’ad bin Mu’adz yang sedang bersama kaumnya yang ketika itu sedang duduk di balai pertemuan mereka. Usaid pun menjelaskan peristiwa yang sebenarnya ingin memancing dan membawa Sa’ad bin Mu’adz untuk hadir dan menemui As’ad dan Mush’ab. Sa’ad bin Mu’adz merasa marah dan khawatir apa yang ia dengar dari Usaid, ia juga mengambil tombak dari tangan Usaid dan pegi menemui As’ad dan Mush’ab.

Sesampainya disana As’ad dan Mush’ab tetap menunjukkan ketenangan. Sa’ad berdiri dihadapa keduanya dengan marah dan berkata “Hai Abu Umamah (As’ad), demi Allah, jika di antara kita tidak ada hubungan kekerabatan, engkau tidak menginginkan ini dariku, kenapa kamu membawa sesuatu yang kita benci ke dalam perkampungan kita?”

Mush’ab bin Umair pun berkata “Kenapa kamu tidak duduk, kemudian mendengar ucapanku. Jika kamu menyukainya, kamu menerimanya. Jika kamu tidak menyukainya, maka tahanlah dari dirimu apa yang tidak engkau sukai”. Sa’ad bin Mu’adz berkata “Kamu berkata benar.” Sa’ad pun menancapkan tombaknya ke tanah lalu duduk hingga iapun akhirnya menerima Islam yang ditawarkan kepadanya. As’ad dan Mush’ab pun berkata “Demi Allah kami melihat Islam di wajah Sa’ad bin Mu’adz sebelum ia bicara. Wajahnya bersinar dan terlihat ramah.”

Sahabat sekalian dari peristiwa di atas paling tidak ada beberapa poin penting yang dapat kita ambil hikmah dan memetik pelajaran. Pertama, iman kepada Allah SWT adalah perkara pokok yang dipegang oleh Mush’ab bin Umair sehingga rela melepaskan kemewahan untuk menyebarkan risalah Islam, dengan iman ini pula mejadikan para pemuda Anshor lainnya Usaid bin Hudlair beserta Sa’ad bin Mu’adz untuk memilih dan memeluk agama Islam.

Kedua, bersikap sabar terhadap perjuangan dan aktivitas dakwah harus senantiasa di lakukan, terlebih ketenangan di dalam menyampaikan risalah Islam. Dengan ketenangan dan kesabaran tersebut bisa jadi melalui perantaraan kitalah hidayah Allah SWT akan tertunjuki kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan tentu saja hal ini lebih baik daripada dunia dan seisinya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Demi Allah, sungguh satu orang saja diberi petunjuk (oleh Allah) melalui perantaraanmu, maka itu lebih baik dari unta merah.” Imam Al Bukhari rahimahullah membuat judul bab dari hadits di atas, sebagai bab Keutamaan seseorang memberi petunjuk pada orang lain untuk masuk Islam.

Ketiga, bersedia untuk duduk di masjelis ilmu, mendengarkan kalam ilhai, dan melepaskan sifat sombong dan amarah adalah salah satu jalan untuk mendapatkan hidayah Islam kepada kita. Inilah sikap bagi para pemuda yang harus dilakukan untuk meraih perubahan pribadi dan masyarakat.

Keempat, segera menyambut seruan Islam dan menjadi ahlu nushroh untuk menolong agama Allah SWT. Karena hanya dengan inilah kita jadi mulia dan mendapatkan balasan dari Allah SWT. Insyaallah Allah tidak akan pernah menyelisihi janji-Nya. Peran perubahan dari para pemuda dan remaja sangatlah penting karena yang akan meneruskan estafet perjuangan dakwah Islam.

Wallahua’lam bisshowwab