October 18, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Secara alamiah dan fakta seseorang senantiasa akan menghabiskan lebih banyak waktu bersama dengan orang-orang tertentu, dan akan merasa nyaman bersama mereka dalam memecahkan problem dan persoalan pribadinya masing-masing. Sebagaimana juga seeseorang akan lebih dekat dengan keluarganya daripada yang lain. Kebersamaan tersebut seperti kehidupan seorang sahabat yang saling membantu antara satu dengan yang lain.

Islam memahami bahwa sahabat seringkali memberikan pengaruh yang kuat pada diri seseorang; dan bahwa lingkungan juga memberikan pengaruh yang besar bagi kekuatan hubungan antara manusia dengan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda : “Orang itu mengikuti agama teman dekatnya; karena itu perhatikanlah dengan siapa ia berteman dekat.” (HR. Tirmidzi)

Pergaulan antara remaja tentu saja pergaulan yang harus juga senantiasa dibangun sejak dini. Kehidupan di keluarga, lingkungan tempat tinggal, maupun lingkungan masyarakat. Adapun sahabat yang diharapkan adalah sahabat yang mau menasihatinya dan mengingatkannya terhadap Allah SWT, bukan sahabat yang membiarkannya terjerumus dalam bujukan setan. Diriwayatkan pula bahwa sahabat kita di dunia akan menjadi sahabat kita di akhirat. Maka perlu kita mencari sahabat-sahabat dari kalangan yang baik.

Jalinan kasih sayang antara dua sahabat muslim adalah ikatan yang dapat membuat keduanya saling mempercayai, saling menolong setiap kali dibutuhkan, dan saling meneguhkan komitmen mereka kepada agama Allah SWT. Rasulullah SAW juga mendorong kaum muslim untuk saling bersahabat kepada seluruh kaum muslim lainnya.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Adaabul Mufrad (nomor 191) bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Jika salah seorang di antara kamu mencintai saudaranya karena Allah, maka kabarkanlah hal itu kepadanya, karena hal itu dapat mengokohkan rasa cintanya.” Abu Hurairah ra juga meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Tidaklah kalian akan masuk surga sampai kalian beriman, dan tidaklah kalian (benar-benar) beriman hingga kalian (saling) mencintai. Sukakah kalian jika aku tunjukkan sesuatu yang bila kalian lakukan akan membuat kalian saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR Muslim)

Ikatan persahabatan dalam Islam tidak dilandasi pemikiran untuk saling memanfaatkan satu dengan yang lain; bahkan sebaliknya, persahabatan dibentuk atas dasar keinginan saling menolong dalam menghindari perkara-perkara yang haram. Bagaimana mungkin seseorang bisa membiarkan sahabatnya terbakar api neraka, sedangkan ia sama sekali tidak berbuat untuk menyelamatkannya? Seseorang yang berbuat demikian tidak pantas disebut sebagai seorang sahabat.

Oleh karena itu, kaum muslim harus selalu saling mengingatkan dan menasehati, Rasulullah SAW bersabda : “Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya. Apabila melihat aib padanya, maka ia akan segera memperbaikinya.” Allah SWT juga berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-‘Asr ayat 1-2 yang artinya : “Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”

Apa saja anjuran islam agar terjalin interaksi antar sahabat? Diantaranya adalah saling mengucapkan salam, saling mengunjungi para sahabat ketika mereka sedang sakit, menanyakan kabar termasuk kabar keluarga mereka, memberi makan ketika mereka sedang kelaparan, memenuhi hajat mereka, menjaga kerahasiaan mereka, serta memberikan sebagian dari harta kekayaan yang kita miliki. Yang paling utama juga adalah menjaga dan menutupi aib sahabat-sahabat kita.

Selain itu, saling menghormati dan memiliki sifat rendah diri serta menghindari sifat sombong. Saling memberikan harta dan hadiah termasuk bagian dari sikap murah hati dan baik hati, walaupun minimal senyum kepada sesama sahabat. Dan yang paling utama menumbuhkan cinta kepada sahabat karena Allah SWT. Imam Bukhari meriwayatkan : “Tidak sempurna iman seseorang sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”

Sedangkan bagaimana kita berinteraksi dengan teman-teman kita non-Muslim? Baik di sekolah, lingkungan tempat tinggal maupun di masyarakat. Hubungan kepada mereka diarahakan kepada interaksi untuk menyampaikan dakwah Islam, menawarkan mereka untuk masuk Islam dengan keridhaan mereka. Hubungan kita sebagai teman, tentu saja juga tidak ingin mereka tersesat dan tidak menerima Islam, maka menyampaikan Islam adalah bentuk kasih sayang kita kepada mereka.

Perlu juga diingat, bahwa dalam menjalin persahabatan dengan mereka, tidak diperkenankan untuk menjadikan mereka sebagai teman dekat. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 118 yang artinya : “Hai roang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil mejadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (memberikan) kemudharatan bagimu.”

Tidak menjadikan teman dekat maksudnya bahwa kita tidak boleh menyampaikan pemikiran dan perasaan kita yang paling dalam. Karena ikatan iman adalah ikatan yang jauh lebih utama dan lebih kuat daripada ikatan nasab (keturunan) apalagi yang tidak seiman.

Sesama sahabat juga dilarang saling menggunjing, menghina, iri, dengki dan dendam. Muslim yang baik adalah seorang yang dapat dipercaya, dan tidak pernah berbohong dan berkhianat. Inilah yang akan membuat jalinan kasih sayang antar sahabat dalam islam jauh lebih kuat daripada jalinan persahabatan yang dibentuk dari nilai-nilai masyarakat barat.

Islam melarang perasaan iri dan dengki yang seringkali menjadi penyebab timbulnya berbagai perselisihan di antara sesama sahabat. Rasulullah saw bersabda : “Jangan saling membenci, jangan saling memusuhi, jangan saling mendengki, dan jangan memutus hubungan. Jadilah kalian hamba Allah yang saling bersaudara. Tidak diperbolehkan seorang muslim memboikot sesamanya lebih dari tiga hari.” (HR Muslim dan Tirmidzi)

Wallahua’lam.