July 30, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Remaja Muslim di berbagai level pendidikan, baik tingkat sekolah menengah hingga perguruan tinggi sedang menghadapi berbagai problem, rintangan, dan tantangan. Dimanapun mereka berada akan selalu berhadapan dengan permasalahan. Selain masalah dalam proses pembelajaran, beban tugas yang berat, pengaturan waktu, tempat tinggal apabila ia merantau, hingga lingkungan yang tidak kondusif dalam belajar. Semuanya adalah masalah yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Lingkungan pendidikan saat ini dan pergaulan antar remaja sudah membentuk lingkungan yang cenderung ke arah hedonisme. Hedonisme merupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia. Artinya tujuan hidupnya hanya untuk mencari kesenangan atau kenikmatan. Sebenarnya tidak ada yang salah mencari kesenangan, namun bila dalam mencari kesenangan itu dengan cara yang bebas maka itu jadi masalah apalagi melanggar syariah Islam.

Perkara-perkara ini memunculkan suatu dilema dikalangan remaja, apakah harus mengikuti arus dan mengkompromikan identitas dan ciri sebagai muslim; atau tetap teguh dengan prinsip-prinsip islam yang diyakini, namun dengan risiko akan disebut sebagai ‘anti-sosial’? Dan bagaimana remaja muslim mengahadapi dilema-dilema tersebut yang akan senantiasa hadir di dalam kehidupannya?

Ada segolongan remaja yang mungkin menerima semuanya yang berasal dari Barat atau peradaban asing sebagai gaya hidup mereka. Maka boleh jadi mereka tidak lagi melaksanakan sholat, tidak peduli apabila ada musibah dan penindasan terhadap umat Islam yang lain, dan sebagainya. Di sisi lain, ada remaja muslim yang memilih sikap ‘jalan tengah’ atau bersikap ‘netral’. Mereka ini lah yang masih gemar berpesta, bergaul tanpa batas, tapi tetap melaksanakan sholat. Ada pula diantara mereka masih mengkonsumsi alkohol tapi tidak mau makan daging babi.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya banyak di antara remaja muslim melupakan Islam, bahkan dianggap biasa dan sesuatu yang wajar kalau tidak kenal Islam. Ditambah dengan komentar “Maklum, masih muda.” Inilah akibat dari sikap ‘jalan tengah’ sebagaimana yang disebutkan di atas. Maka, jika ada yang melakukan maksiat sekaligus ketaatan, misalnya minum khamr asal tidak mabuk, riba tapi tidak berlipat ganda, berkerudung tanpa berjilbab yang penting menutup diri adalah merupakan sikap yang telah mengkompromikan Islam.

Kompromi adalah suatu sikap yang membuat remaja muslim mengabaikan sejumlah aturan Islam yang tidak cocok dengan gaya hidup mereka yang baru. Sehingga banyak remaja muslim yang membatasi Islam hanya pada segala sesuatu yang bersifat rutinitas belaka. Banyak diantara mereka bermimpi sukses, tapi menyimpan dan membiarkan ajaran Islam tersimpan rapi di rak-rak bukunya.

Salah satu upaya untuk menghadapi tantangan ini, maka remaja muslim harus kembali berfikir tentang tujuan hidup ini. Pertanyaan-pertanyaan fundamental namun terkesan sepele tapi penting untuk dijawab, misalnya “Mengapa saya menjadi seorang muslim?”, “Apa tujuan hidup saya?”, “Apakah ada kehidupan lagi setelah kehidupan di dunia ini?”

Remaja muslim harus menyadari bahwa Islam adalah agama yang jelas kebenarannya. Perkara pokok kehidupan, yaitu bukti tentang keberadaan Allah SWT benar-benar ada, dan bahwa al-Quran adalah kalam Allah SWT. Bukti keberadaan Allah SWT telah dinyatakan di dalam al-Quran untuk merujuk kepada ciptaan-ciptaan-Nya. Allah SWT berfirman dalam ayat Ali Imran ayat 190 yang artinya : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”

Dengan demikian, beriman kepada Allah SWT, Nabi Muhammad saw, dan Al-Quran serta perkara-perkara pokok lainnya, tidak boleh ada keraguan sedikitpun. Dan para remaja dapat dengan mudah menjelaskan, serta menolak berbagai hujjah (pendapat) yang keliru atau yang ingin membelokkan mereka dari jalan Islam.

Sedangkan terhadap hukum-hukum Islam, bagi para remaja muslim apabila mereka sudah memiliki iman yang kokoh dan kuat, maka dipastikan akan dapat menjalani kehidupan mereka sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oeh Islam. Mereka juga akan menjauhkan diri dari ide-ide kebebasan serta konsep hedonisme yang telah menciptakan dan membentuk sebuah masyarakat permissive (serba boleh) dimana kemaksiatan dianggap hal yang wajar.

Memilih sebagian serta membuang sebagian hukum Islam sama juga dengan sikap kompromi. Hal ini juga sudah Allah SWT peringatkan di dalam al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 85, artinya : “Apakah kamu beriman kepada sebahagian al-Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat.”

Maka dari itu, remaja muslim harus mengkaji dan memahami Islam, mana hukum yang boleh dan mana yang tidak. Sehingga, mereka akan menghindari terhadap aktivitas pesta pora yang membuang waktu dan cenderung ke arah maksiat. Menjauhi larangan pergaulan yang didominasi pergaulan bebeas, menghindari hubungan seks pranikah hingga menjaga lisan dan syahwat dari hal-hal yang terlarang adalah hasil pemahaman terhadap Islam.

Walhasil, jika masih ada para remaja yang belum mulai berfikir tentang Islam secara serius, maka dari sekarang lah saat yang paling tepat untuk memulainya. Bagi yang sudah mengamalkan Islam, maka tidak boleh merasa puas dengan apa yang telah dilakukan, bahkan dia harus terlibat aktif untuk membantu teman-teman dan saudara-saudara muslimnya yang lain.

Remaja muslim juga harus ikut terlibat ke dalam lingkungan yang kondusif dan islami baik di sekolah maupun di tempat tinggalnya. Mereka harus terlibat pada kegiatan-kegiatan ke-Islaman, seperti kajian, dialog, diskusi, ceramah dan sebagainya. Lingkungan inilah yang akan membantu remaja muslim untuk tetap kokoh di tengah-tengah pengaruh kehidupan bebas yang sebebas-bebasnya.

Allah SWT berfirman : “Katakanlah, Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” [TQS al-Maidah : 100]. Maka latihlah diri berfikir tentang kehidupan, dan ambil sikap untuk menjadi hamba Allah SWT yang senantiasa berpegang teguh terhadap ajaran Islam.

Wallahua’lam.