April 22, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Perjuangan dakwah bukanlah jalan yang mudah dan bukan pula jalan nyaman untuk dilalui. Apalagi jika ada remaja yang menjadi pejuang dakwah. Di tengah kehidupan masyarakat yang individualistik serta hedonistik ini, bagi remaja yang menjadi pejuang tentu sesuatu hal yang sangat luar biasa. Tantangan dan cobaan yang akan dihadapinya pasti sangat berat. Karena, tantangan bisa datang dari lingkungan pergaulannya, juga termasuk lingkungan keluarganya.

Semangat akan tumbuh, ketika ada dukungan dari lingkungan atau dari keluarganya sendiri. Bantuan dan kerjsama akan digunakan untuk menghadapi tantangan dan rintangan di dalam medan dakwah. Namun, cobaan berat bagi remaja yang sendirian ketika dihadapkan pada rintangan dakwah, dan akan menjadi kuat menghadapinya jika bersama-sama dengan orang-orang yang juga berjuang.

Oleh karenanya , bagi para remaja yang sudah berkomitmen untuk menjadi pejuang dakwah agar tidak terpalingkan dari arah dan langkah dakwah, maka tetap istiqomah di jalan dakwah serta konsisten di medan perjuangan salah satu kunci untuk berada di dalam barisan dakwah. Lantas bagaimana para remaja agar dapat istiqomah dan konsisten? Apa yang harus dilakukannya?

Pertama, tentu saja istiqomah tidak akan lahir kecuali merupakan buah dari iman dan keikhlasan yang ternanam kuat di dalam diri. Iman dan Ikhlas ini lah kunci dari segala amal dakwah. Sedangkan iman akan tumbuh melalui proses berfikir mendalam dan mendasar yang akan mempengaruh cara berfikir seseorang dalam melihat segala sesuatu. Makanya, ratusan ayat di dalam Alquran mengarahkan manusia untuk merenungi dan memikirkan ciptaan-ciptaan Allah SWT, agar tumbuh keimanan yang kokoh dan kuat.

Kedua, aspek pemahaman terhadap dakwah. Bahwa dakwah bukanlah pilihan, akan tetapi merupakan kewajiban dari Allah SWT yang harus dilaksanakan. Akan berbahaya jika dakwah dianggap sebagai pilihan, karena akan ditempuh jika di rasa menyenangkan. Namun ketika sudah ada rintangan maka dakwah akan ditinggalkan karena sudah tidak dirasa menyenangkan lagi bagi dirinya.

Untuk mendapatkan pemahaman terhadap aktivitas dakwah, maka para remaja harus melibatkan dirinya dalam majelis ilmu, terutama majelis ilmu yang berkaitan dengan dakwah. Di sana lah para remaja ditempa dan dibangun keimanan, kepribadian Islam hingga kemampuan dalam berdakwah. Majelis ilmu tersebut juga yang akan mengarahkan dakwah yang harus dilakukan. Apa yang utama dan apa yang paling utama.

Ketiga, pemahaman terhadap aktivitas utama dan penting. Pemahaman ini dapat menjadi motivasi bagi para remaja. Karena dakwah yang akan dilakukan bukan hanya untuk diri sendiri, ataupun keluarga dan lingkungan sekitarnya, akan tetapi akan berpengaruh bagi manusia lainnya. Karena tanpa dakwah Islam, manusia akan jauh dari cahaya kebenaran.

Sikap dakwah hanya untuk diri sendiri akan berdampak pada sikap mementingkan diri sendiri, dan tidak perduli kepada orang lain, adalah sikap yang keliru. Merasa sudah cukup bahwa yang penting dirinya sudah sholat, puasa dan taat, di sisi lain teman-temannya masih ada yang bermaksiat. Ini adalah sikap egois, dan tidak pernah Islam membangun pemahaman seperti itu. Justru Islam menjadikan dakwah sebagai amal yang baik dan yang paling utama.

Keempat, mendekatkan diri pada realitas dakwah. Hal ini berarti ingin menunjukkan bahwa dakwah memiliki konsekuensi. Ada pahit dan getirnya dalam aktivitas tersebut. Bisa jadi diejek, diolok-olok, atau bahkan dianggap orang aneh. Perjuangan dakwah bukanlah sandiwara atau sinetron, yang adegannya bisa kita perkirakan atau mengikuti kehendak produser dan selera penonton. Oleh karena itu, memahami konsekuensi dakwah harus dilakukan terhadap aktivitas-aktivitas nyata bukan sekedar teori.

Kelima, meyakini balasan dan janji Allah SWT adalah pasti. Allah SWT berjanji kepada para pejuang dakwah akan mendapatkan balasan yang luar biasa. Rasulullah saw juga bersabda : “Demi Allah, sungguh Allah SWT memberikan hidayah kepada seseorang dengan (dakwah)-mu, maka itu lebih baik bagimu dari unta merah.” (HR al-Bukhari, Muslim dan Ahmad)

Unta merah yang dimaksud adalah kendaraan yang sangat dibanggakan oleh orang Arab pada saat itu. Pada kondisi sekarang, hal ini berarti sesuatu yang kita banggakan, atau yang dibanggakan oleh seluruh manusia. Maka aktivitas dakwah adalah aktivitas yang paling baik apabila menjadi perantara hidayah kepada seseorang atas kehendak Allah SWT.

Dakwah juga akan menyelamatkan kita dari ancaman Allah SWT berupa tidak adanya pengabulan doa. Padahal betapa besar harapan kita terhadap pengabulan doa dan permohonan yang kita panjatkan kepada Allah SWT. Rasulullah saw bersabada : “Demi Zat Yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian harus melakukan amar makruf nahi munkar, atau Allah akan menurunkan hukuman dari sisi-Nya, kemudian kalian berdoa kepada-Nya dan Dia tidak mengabulkan doa kalian.” (HR Tirmidzi)

Keenam, dakwah secara berjamaah. Berdakwah tidak mungkin sendirian, harus ada kerjasama. Kerjasama tersebut akan muncul ketika dakwah dilakukan secara bersama-sama atau berjamaah. Rasulullah saw dengan para sahabat bersama-sama dalam melakukan aktivitas dakwah, sehingga kita bisa mencontoh hal tersebut. Dan kebersamaan ini memerlukan pengaturan agar tidak berbelok dan mengalihkan dakwah kepada sesuatu hal yang lain.

Ketujuh, Senantiasa berdoa dan berupaya membuka pintu langit dengan harapan dan permohonan. Manusia wajib berusaha dan beramal, namun jangan lupa, manusia adalah makhluk yang lemah serta memiliki keterbatasan. Sebesar apapun usaha manusia ada kehendak Allah SWT di dalam usaha kita. Oleh karena itu, seringlah mengadu, berkeluh kesah kepada Pemilik hati, Penguasa Jiwa, dialah Allah SWT. Remaja yang berdakwah kalau tidak memperbaiki hubungannya dengan Allah SWT, maka akan mudah tergelincir kepada jalan lain.

Wallahua’lam