September 15, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat


Oleh: Dr. Ibrahim At-Tamimi, Anggota Maktab I’lamiy Hizbut Tahrir di Palestina

Telah diumumkan secara resmi bahwa Israel telah memperoleh status anggota pengamat di Uni Afrika (UA). Duta besar Israel untuk Etiopia, Aleli Admasu, menyerahkan kredensialnya sebagai pengamat di UA kepada Ketua Komisi UA, Moussa Faki Mahamat, di kantor pusat organisasi di Addis Ababa. Demikian itu menurut pernyataan kedua belah pihak.

Terkait aksesi ini, Yair Lapid, Menteri Luar Negeri Israel mengatakan, “Ini adalah hari perayaan untuk hubungan Afrika–Israel. Status pengamat akan memungkinkan Israel untuk lebih membantu UA dalam membasmi Covid-19 dan menghadapi aksi terorisme.” Pertanyaannya, apa itu Uni Afrika (UA)? Apa hubungan Israel dengan Afrika? Atas dasar apa Israel menjadi anggota UA? Apa tujuan Israel di balik aksesi ini? Bagaimana seharusnya kita memandang strategi politik ini?

Apa itu Uni Afrika?

Uni Afrika (UA) adalah organisasi supranasional yang mencakup semua negara di Benua Afrika. UA didirikan pada 9 Juli 2002 setelah pembubaran Organisasi Kesatuan Afrika. Markas besar Sekretaris Jenderal dan Komite UA terletak di Addis Ababa, ibu kota Etiopia.

Negara-negara adidaya, terutama Inggris dan Prancis, menggunakan badan tersebut untuk mempengaruhi kebijakan luar negeri berbagai negara di Afrika. Langkah itu dilakukan guna mempertahankan otoritas mereka, mendukung klien mereka di benua Afrika, dan menghadapi ekspansi Amerika. Hal ini tercatat berlaku dalam menghadapi Amerika di negara-negara Afrika Barat. Di antaranya Mali pada tahun 2020, dan Gambia pada tahun 2017, dengan dukungan alat-alat politik lain milik Eropa. Salah satu alat politik terpenting lainnya adalah ECOWAS (Economic Community of West African States) yang mencakup negara-negara Afrika Barat. Hal ini tercatat terjadi juga dalam konflik yang sedang berlangsung di negara-negara Afrika Tengah seperti Chad, Afrika Tengah, dan lain-lain.

Akan tetapi, Amerika juga menambah bebannya terhadap para agennya di UA, seperti di Etiopia, Sudan dan Mesir. Amerika akan melindungi segala aspek yang membantu kemaslahatan dan politiknya, serta berusaha untuk meluaskan otoritasnya. Selain itu, UA juga menjadi pengawas permanen di Majelis Umum PBB.

Apa hubungan Israel dengan Afrika? Atas dasar apa Israel bergabung menjadi anggota di UA?

Sama sekali tidak ada hubungan antara Isarel dengan Afrika. Secara geografis pun, Israel berdiri di atas tanah Palestina yang terjajah, di mana tanah tersebut tidak termasuk bagian dari Benua Afrika. Oleh karenanya, tidak ada alasan lain di balik aksesi Israel ke UA kecuali sebagai upaya formal dan moral demi mendukung dan memberikan perlindungan politik padanya.

Israel telah menjadi anggota pengawas di Organisasi Kesatuan Afrika sebelum dibubarkan pada tahun 2002—ketika itu UA belum dibentuk sebagai penggantinya. Setelah selesai pembentukan UA, Israel segera meminta aksesi. Namun, hal itu ditunda oleh rezim yang berafiliasi ke Eropa dan Amerika agar mendorong Israel menerima solusi dua negara (two state solution) dan didirikannya Otoritas Palestina. Harapannya, Israel dapat berhubungan dengan negara-negara dunia termasuk Benua Afrika. Artinya, Otoritas Palestina pun akan diberikan status diawasi oleh UA, yang dengan begitu akan menjadi pelindung politis atas rancangan solusi dua negara, rancangan Amerika yang keji.

Jadi, apa tujuan Israel dalam aksesi ini?

Ada beberapa tujuan di balik aksesi Israel ke UA, di antaranya:

  1. Israel melegitimasi dirinya sendiri dengan aksesi ke dalam UA, organisasi yang merepresentasikan sebuah benua secara utuh; benua kedua terbesar dari segi luas dan jumlah penduduk. Di dalamnya juga terdapat sejumlah negeri-negeri kaum muslimin yang kuat terutama di utara benua.

Aksesi Israel ini dilakukan sebagai upaya normalisasi dengan negara-negara di benua Afrika. Pasalnya, masih banyak masyarakat Afrika yang memandang Israel dengan penuh kebencian. Mereka juga menolak penjajahan yang dilakukan Israel, setelah trauma penjajahan yang—dulu bahkan hingga saat ini masih—mereka rasakan. Di bawah kendali penjajah Inggris dan Prancis, mereka masih dihantui kehinaan, kemiskinan, kelaparan, kehilangan, perampasan kesejahteraan, dan pertumpahan darah. Pandangan kebencian masyarakat Afrika itu menjadi hambatan bagi penguasa di Afrika untuk menjalin hubungan dengan Israel, meskipun para penguasa itu adalah agen Eropa dan Amerika yang sangat berhasrat menjalin hubungan dengan Israel.

  1. Aksesi ini menjadi pintu masuk bagi Israel untuk menandatangani lebih banyak kesepakatan normalisasi dengan para penguasa di negeri-negeri kaum muslimin di Afrika—seperti Aljazair, Libya, Mauritania, Mali dan Tunisia—setelah Israel berhasil menandatangani kesepakatan normalisasi dengan Sudan dan Maroko baru-baru ini. Hal itu guna merealisasikan keuntungan ekonomi melalui kontrak investasi di bidang energi, teknologi, kesehatan, ekstraksi kekayaan, juga melalui ekspor produk-produk sipil, pengesahan perjanjian-perjanjian militer, ekspor senjata, dan perjanjian perdagangan.

Imajinasi Israel bermain, berharap memiliki dimensi politik regional atau lebih dari itu yang membuatnya memiliki pengaruh politik sesuai dengan impian mereka, “Dari Sungai Nil ke Eufrat”. Namun itu hanyalah imajinasi mereka belaka. Jelas, Israel terlalu kecil dan lemah untuk mengukuhkan pilar-pilarnya di Palestina dan bertolak ke negara-negara sekitarnya. Maka bagaimana mungkin Israel diorientasikan ke arah Afrika? Bahkan kenyataannya ia tidak memiliki bobot politik apa-apa kecuali dengan sejumlah dukungan dari negara-negara besar dan pengkhianatan rezim di sekitarnya, seperti Mesir. Hal itu membuat Israel berharap dapat menciptakan tekanan di masa depan dengan meningkatkan otoritasnya di negara-negara sumber Sungai Nil.

Bagaimana seharusnya memandang strategi politik ini?

Strategi politik ini harus dilihat sebagai bagian dari mata rantai konspirasi internasional yang berkelanjutan atas problematika Palestina. Ia bertujuan untuk mendukung Israel dan menguatkan legitimasinya, terutama setelah terjadinya kesepakatan normalisasi dengan negara-negara Arab yang berada dalam pengawasan Amerika, yang pasalnya telah disahkan pada masa kepemimpinan Trump. Kesepakatan normalisasi tersebut berisi tidak adanya campur tangan dalam pengukuhan negara Palestina, dengan cara mengizinkan para rezim di negeri kaum muslimin dan lainnya yang berkiblat ke Barat untuk menjalin hubungan dengan Israel, sebagaimana hubungan normalisasi yang telah dilakukan oleh UEA, Bahrain, Sudan, dan Maroko.

Biden memuji tercapainya kesepakatan itu, bahkan ia sangat menyanjungnya. Oleh karenanya, jelas bahwa aksesi Israel ke UA dilakukan untuk semakin mengukuhkan dan menunjukkan keberpihakan yang mutlak pada Israel dari Barat. Selain itu juga semakin memperjelas adanya usaha agar Israel diakui secara legal di mata negara-negara internasional, khususnya negara yang penduduknya memandang bahwa Isarel adalah perampas sekaligus penjajah, yang wajib untuk menolak kerja sama dengannya.

Sungguh, untuk mengakhiri konspirasi internasional atas problematika Palestina yang dipimpin oleh negara-negara adidaya sekaligus dikomandani oleh Amerika ini membutuhkan organisasi dan pergerakan politik, serta sistem yang praktis untuk mewujudkan institusi politik yang kuat bagi kaum muslimin, dan itu adalah negara Khilafah Rasyidah yang berjalan sesuai dengan metode kenabian. Khilafah mampu untuk menerapkan ideologi Islam, dan mampu untuk menggerakkan para tentara untuk membebaskan Palestina serta mengembalikan negara kaum muslimin di Afrika ke dalam pangkuan umat Islam, pun mengembalikan otoritasnya. Khilafah juga mampu menyebarkan risalah Islam ke penjuru dunia.[]

Diterjemahkan dari Surat Kabar Ar-Rayah edisi 349, terbit pada Rabu, 18 Zulhijjah 1442 H/28 Juli 2021 M

Sumber :
https://mediamuslimtimurtengah.wordpress.com/2021/08/07/tujuan-di-balik-aksesi-israel-ke-uni-afrika/#more-477

https://www.alraiah.net/index.php/political-analysis/item/6236-number-word-objectives-of-joining-the-jewish-entity-of-the-african-union