September 17, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat


Oleh: Ustaz ‘Ali As-Sa’idi

Hari Rabu (21/7), Perdana Menteri Tunisia mengumumkan pembukaan penyelidikan yudisial terkait adanya “kecerobohan” yang disaksikannya di pusat vaksinasi Covid-19 pada hari pertama Hari Raya Iduladha. Hal ini merupakan penjelasan yang dikeluarkan oleh perdana menteri yang dibawa oleh kantor berita resmi Tunisia.

Menurut penjelasan dalam berita tersebut, Hisham al-Mashishi—kepala pemerintahan Tunisia—menugaskan Menteri Kehakimannya untuk membuka investigasi yang dilakukan oleh kejaksaan umum mengenai pembukaan pusat vaksinasi sebagai pencegahan Covid-19 pada Selasa (20/7). Hal itu dilakukan secara sembarangan tanpa memperhatikan dosis yang diperlukan berdasarkan klasifikasi umur, yang mana semuanya menjadi sasaran imbauan vaksinasi tanpa koordinasi dengan otoritas kesehatan pusat dan daerah serta otoritas keamanan.

Menurut data statistik resmi, setidaknya hingga hari Sabtu (24/7), ada 564.000 orang yang terjangkit Covid-19, 8.369 di antaranya wafat, dan 443.979 dinyatakan sembuh sebagaimana yang diumumkan Kementerian Kesehatan Tunisia. Kasus kematian akibat Covid-19 yang mencapai angka 317 kasus itu merupakan rekor tertinggi dalam satu hari sejak mewabahnya virus di dalam negeri pada Maret 2020.

Di sisi lain, total penerima dosis vaksin hingga Rabu (21/7) sebanyak 2.420.468 orang (20,68% dari seluruh penduduk), termasuk 825.410 yang menerima dosis kedua (7% dari 11.700.000 penduduk).

Dengan menganalisis realitas pendapatan dan data terbaru dari Kementerian Kesehatan, negara ini hidup di tengah dampak tsunami Covid-19 yang sangat ganas. Situasi bencana wabah ini pun eksis disertai dengan peningkatannya yang signifikan dari jumlah korban yang terkena juga jumlah kematiannya, serta terjadinya kelumpuhan total pada sistem kesehatan yang sebenarnya sudah rusak dari dasarnya sejak mereka mengaku-ngaku telah merdeka.

Maka, siapa yang bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi pada negara? Apakah pandemi Covid-19? Atau para politisi dan penguasa?

Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu ditinjau hal-hal berikut:

  1. Situasi Negara Sebelum Pandemi Covid-19

Jauh dari laporan para intelijen, parlemen pemerintahan, dan media yang menghiasi citra, tidak didapati kecuali kebohongan dan pemalsuan, sebagaimana yang mereka lakukan pada saat Ben Ali digulingkan. Situasi Tunisia sejak kemerdekaan—menurut anggapan mereka—adalah situasi bencana di semua bidang, baik ekonomi, sosial, politik, kesehatan, dan yang lainnya.

Rakyat Tunisia sedang berduka atas konsekuensi dari kerja keras para penguasa, juga pengaruh asing yang mengambil alih negara di atas piring emas dan menyebarkan dominasinya atas kemampuan juga kekayaannya, sampai-sampai membicarakannya menjadi salah satu garis merah yang tidak boleh dilanggar dan kejahatan yang akan dimintai pertanggungjawaban. Jadi, bagaimana menuntut pengembalian dan pertanggungjawaban yang telah dicuri?

Sejak revolusi, pemerintah berhasil dengan cepat (dalam jangka waktu satu tahun untuk setiap kepemerintahan) diikuti dengan pergantian dan keruntuhan yang cepat, intensifikasi krisis, dan kesulitan hidup hingga mengancam kematian merata yang menderu di depan pintu.

  1. Situasi Negara pada Masa Pandemi Covid-19

Ketika Covid-19 datang, negara terguncang di bawah api politik untuk menjadikan penguasa patuh terhadap administratif pejabat senior yang memetakan arah untuk mereka. Sehingga, mereka melanjutkan kebijakan yang menjamin kepentingannya saja tanpa peduli tentang kaum yang ditinggalkan di padang pasir yang berkobar dengan api kapitalisme yang biadab.

Semua ini bermula dari krisis ekonomi negara, seperti pertanian, industri, perdagangan, jatuhnya mata uang dinar, biaya hidup yang tinggi, naiknya pajak, dan bertambahnya utang kolonialisme modern oleh agen ruwaibidhah dari rakyat negeri.

Jadi, pandemi Covid-19 tidak lain akan mengungkap keburukan sistem yang mengatur saat ini, segera mengikis peraturan, dasar-dasar, beserta yang menegakkannya. Pandemi Covid-19 juga akan menjelaskan bahwa kerusakan sistem ini telah merajalela akibat dari konstitusi, hukum-hukum, serta penyelesaiannya yang buruk. Adanya lelucon perkataan terkait Covid-19 di Tunisia juga telah mengabarkan tentang keburukan sistem kesehatan.

Apakah di sana benar-benar ada sistem kesehatan? Bagaimana bisa sampai ada keburukan sistem yang diperbincangkan? Sistem mana yang mereka bicarakan? Sedangkan obatnya saja diperjualbelikan di luar rumah sakit umum, pelayanan untuk orang lemah dan yang membutuhkan dihilangkan, alat medis yang digunakan banyak yang rusak, sedangkan yang masih bagus di pelelangan umum malah dicuri atau dijual. Kerangka kerja semimedis dalam spiral untuk kepentingan rumah sakit swasta.

  1. Langkah dan Keputusan Pemerintah dalam Menghadapi Covid-19

Sesungguhnya, siapa saja yang menginvestigasi langkah-langkah yang diambil pemerintah dari awal pandemi, akan melihat dengan jelas kelalaian dan kebodohan para pejabat terkait urusan kesehatan manusia. Mereka baru mengumumkan lockdown total setelah negeri dipenuhi oleh wabah. Pemerintah mulai memutuskan untuk mengakhiri lockdown-nya bersamaan dengan Eropa yang mengakhiri lockdown-nya, padahal negara masih menderita penyakitnya.

Pada awalnya, pemerintah memberlakukan karantina secara menyeluruh, kemudian terpusat, kemudian karantina menyeluruh kembali tanpa memperhatikan kebutuhan hidup masyarakat, yang mana telah ditutup baginya segala jalan keluar.

Pemerintah secara tidak langsung telah mengirimkan rakyatnya kepada kematian, antara mati kelaparan dengan karantina atau mati terjangkit Covid-19 jika menerobos karantina.

Kemudian, kita akan melihat mereka (pemerintah) mengacungkan jarinya untuk menuduh masyarakat dan menyifatinya dengan kesadaran yang kurang. Padahal seharusnya, pemerintah wajib memberikan kebijakan nasional yang mengharuskan terpenuhinya kebutuhan masyarakat, mulai dari pangan, kesehatan, dan materi. Akan tetapi, jika sesuatu telah diketahui penyebabnya, hilanglah ketakjuban padanya. Oleh karenanya, sesungguhnya negara ini bukan negara yang memberi perlindungan, melainkan negara yang mengambil pajak dari rakyat.

Keputusan baru yang diumumkan oleh pemerintah untuk memulai vaksinasi saat Hari Raya Iduladha adalah keputusan yang acak dan tidak bertanggung jawab karena tidak dipersiapkan dengan baik. Kurangnya persiapan baik dari jumlah dosis, dalam ruang yang ditentukan, maupun dalam kerangka medis dan semimedis.

Untuk memastikan vaksinasi dan keselamatan masyarakat, tidak menjadi alasan untuk menciptakan sarang baru akan berjangkitnya epidemi. Adapun pencemaran nama baik membuka penyelidikan, tidak lain adalah dalih yang mereka kaitkan dan sebagai pembenaran untuk menghindari tanggung jawab dan mendandaninya untuk orang lain.

  1. Permasalahan Tunisia Bukanlah Pandemi Covid-19, tetapi Penguasanya

Sesungguhnya, Covid-19 tidak ada hubungannya dengan tragedi Tunisia, kemiskinan rakyatnya, ketiadaan keamanannya, dan perjuangan bangsa-bangsa melawan tragedi tersebut. Maka, tidaklah tragedi tersebut selain merupakan ujian yang diberikan oleh Tuhan ‘Azza wa Jalla.

Tragedi dimulai sejak adanya kunjungan yang secara salah dianggap dan disebut sebagai dugaan kemerdekaan dan kepemimpinan ruwaibidhah sebagai bentuk kesetiaan kepada Barat dengan doktrin memisahkan agama dari kehidupan. Hal ini bagaikan membangun tubuh tanpa kepala, atau tubuh tanpa jiwa!

Sejak kita dipimpin dengan sistem demokrasi, hukum rimba yang berlaku atas kita, juga dengan sistem kapitalisme, kita telah menjadi seperti anak yatim piatu di hadapan para pencela, kita seperti orang kelaparan yang ditelanjangi dan didorong layaknya binatang ternak yang digiring ke rumah jagal. Namun, tidak ada bukti dari situasi menyedihkan di mana kita hidup ini.

Demi Allah, tidak ada solusi lain bagi kalian, wahai penduduk Tunisia dan penduduk negara-negara Islam lainnya untuk menangani musibah ini, selain Islam dan Khilafah.

Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya geraham (hukum) Islam itu berlaku, maka mereka diberlakukan dengan Al-Qur’an sebagaimana mestinya. Sungguh, ada masanya di mana Al-Qur’an dan kekuasaan itu berlepas satu sama lain, maka janganlah kalian melepaskan diri dari Al-Qur’an. Karena sesungguhnya, akan hadir bagi kalian para pemimpin yang menghakimi diri mereka atas sesuatu yang tidak dihakimi kepada kalian. Jika kalian menentang mereka, mereka akan membunuh kalian. Dan jika kalian menaati mereka, mereka akan menyesatkan kalian.” Kemudian para sahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, bagaimana nanti kami melakukan itu?” Rasulullah saw. bersabda, “Seperti apa yang dilakukan para pengikut Isa bin Maryam, hingga mereka digergaji dengan gergaji, kemudian mereka diangkut di atas kayu. Sungguh, wafat dalam ketaatan kepada Allah lebih baik daripada hidup dalam kemaksiatan kepada-Nya.” (HR Thabrani) []

Diterjemahkan dari Surat Kabar Ar-Rayah edisi 349, terbit pada Rabu, 18 Zulhijjah 1442 H/28 Juli 2021 M

Sumber :
https://mediamuslimtimurtengah.wordpress.com/2021/08/07/tragedi-tunisia-perihal-pandemi-covid-19-atau-penguasanya/#more-488

https://www.alraiah.net/index.php/political-analysis/item/6238-2021-07-27-20-23-11