May 19, 2024

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Realitas Kekosongan Presiden di Lebanon

Oleh: Insinyur Magdy Ali

Setiap hari Kamis, parlemen Lebanon yang dipimpin Nabih Berri, masih saja mengadakan pemungutan suara guna memilih presiden Lebanon, meski selalu berakhir nihil karena tidak adanya kandidat presiden yang memperoleh 2/3 (85 suara) pada sesi pertama, ataupun suara mayoritas secara mutlak pada sesi kedua; 1/2 tambah 1 (65 suara).

Maka berlanjutlah kekosongan presiden sejak keluarnya Aoun dari istana negara pada hari Ahad (30/10/2022), sehari sebelum berakhir masa jabatan kepemimpinannya. Perlu diketahui bahwa banyak dari wewenang jabatan kepresidenan di Lebanon yang telah dilucuti, berdasarkan Perjanjian Thaif yang ditetapkan pada tahun 1989 untuk mengakhiri perang saudara di Lebanon.

Posisi itu masih memiliki arti penting—meski hanya secara abstrak—bagi orang-orang Nasrani di Lebanon. Terlebih setelah Perjanjian Thaif menetapkan tradisi yang berlaku, bahwasanya kursi kepresidenan adalah hak umat Kristen Maronit, kursi pemerintahan adalah hak umat Islam Sunni, dan kursi parlemen adalah hak umat Islam Syiah.

Melalui pandangan saksama atas apa yang terjadi, kita dapati bahwa setelah Lebanon jatuh ke dalam krisis ekonomi yang mencekik dan runtuhnya mata uang mereka (pound Lebanon), Amerika dapat menggapai Lebanon dengan dua hal, salah satunya adalah dokumen demarkasi maritim yang mengarah pada normalisasi dengan entitas Yahudi yang merebut tanah Palestina, yang dikelola secara lengkap oleh utusan Amerika, Amos Hochstein.

Dengan demikian, Amerika memperluas kendalinya atas pergerakan ladang gas di Mediterania Timur, yang merupakan dokumen penting bagi Amerika secara internal dan eksternal, terutama dalam krisis gas yang sedang berlangsung akibat konsekuensi dari perang Rusia-Ukraina, di mana Amerika melibatkan Rusia.

Adapun hal kedua yang sedang berlangsung adalah mendorong Lebanon untuk memasuki sistem IMF dan Bank Dunia, setelah meminta politisi korup untuk menyerahkan dokumen rencana reformasi untuk dana tersebut, yang lambat diimplementasikan oleh para koruptor. Amerika menekan Lebanon melalui beberapa dokumen, yang terpenting adalah dokumen kelistrikan yang juga dikelola langsung oleh Amos Hochstein.

Amerika mewajibkan semua pihak untuk menerima demarkasi maritim, yang ditandatangani oleh Aoun, yang kemudian keluar dari istana sehari sebelum masa jabatannya berakhir. Diikuti keluarnya menantu laki-laki Aoun, kepala Gerakan Patriotik Bebas—yang tamak akan kursi presiden, dan merupakan orang yang disanksi Amerika—yang tidak terduga. Hal tersebut menunjukkan berakhirnya peran mereka yang dipercayakan oleh penguasa terkuat di Lebanon (Amerika); bersamaan dengan keberhasilan Amerika membuat pihak oposisi di Lebanon yang dipimpin oleh partai Iran, penyerahan masalah demarkasi kepada negara Lebanon, dan pelepasan diri dari keamanan apa pun terhadap entitas Yahudi sang perampas.

Saat ini, Amerika mempertahankan Lebanon dengan respirator (alat bantu nafas) buatan, ia mengizinkan beberapa bahan bakar pembangkit listrik dari Irak—yang sebagian kecilnya juga dari Iran—, serta listrik dari Suriah dan Yordania. Terlepas dari gangguan listrik yang terus berlanjut—karena penipuan yang dilakukan Amerika mengenai sanksi Kaisar terhadap Suriah—di dua negara itu, ia juga mengizinkan Bank Sentral untuk memanipulasi dolar, melalui anteknya di bank yaitu Riad Salameh, juga para perekayasa keuangannya.

Nabih Berri, ketua parlemen yang memiliki hubungan baik dengan Amerika, mampu mewajibkan parlemen dengan pemahaman secara konstitusional terhadap persoalan sidang pertama dan kedua dalam pemilihan kepala negara, sehingga persoalannya adalah bahwa setiap sidang yang diadakan parlemen untuk pemilihan presiden merupakan sidang baru.

Untuk jabatan kepala negara membutuhkan 85 suara di sesi awal, dan tidak ada satu pun calon yang mendapatkannya, diperkirakan karena tiadanya kesepakatan antara kubu di parlemen tentang presiden Lebanon. Adapun sesi kedua akan diadakan dan pemenang membutuhkan 65 suara, yang tidak—dan tidak akan—terjadi karena mayoritas di parlemen menarik diri dari sesi kedua. Mereka adalah kelompok Berri dan partai Iran di Lebanon, serta sekutu mereka!

Perwakilan merasa keberatan dengan pemahaman konstitusional ini, mengingat jika dipahami lebih dalam, pertemuan pertama yang diadakan setelah jabatan kepala negara kosong merupakan sesi pertama, dan yang setelahnya selalu sesi kedua. Terlepas dari dua pemahaman mana yang lebih benar, pendapat Berri, partai Iran dan sekutunya (yang merupakan kubu terkuat di parlemen) adalah pendapat yang telah diakui.

Oleh karena itu, sandiwara ini muncul setiap hari Kamis di parlemen, dan sesi pertama dihadiri oleh Duta Besar Amerika untuk Lebanon, Dorothy Shea. Dokumennya berada di tangan Amerika dan orang-orangnya memanipulasi secara literal.

Amerika menyadari bahwa ia mampu melalui orang-orang di Lebanon dan bayangan mereka dengan mengendalikan dan mengepung gerakan bulan Oktober 2019, dan membubarkan kekuatan gerakan di antara cengkraman partai-partai otoritas korup. Bukti yang menunjukkan hal tersebut adalah nihilnya pergerakan meskipun krisis dahsyat terjadi berturut-turut. Krisis ini merupakan krisis yang lebih parah berkali-kali lipat dibanding krisis yang memicu pergerakan 2019.

Kekuatan internasional lain yang berpartisipasi dengan Amerika di Lebanon adalah Prancis dan Inggris, mereka berada dikondisi terlemah di Lebanon. Batalnya kunjungan Macron ke Lebanon setelah pengeboman di pelabuhan Beirut pada 4 Agustus 2020 bukan menjadi bukti atas kelemahan mereka.

Bahkan kekuatan politik nasional mengikuti kekuatan internasional yang menentang Amerika, dan diwakili oleh kelompok yang disebut 14 Maret, setelah keluarnya rezim Suriah dari Lebanon tahun 2005 selama pembunuhan Rafik Hariri. Kekuatan ini melemah dan menyusut bersamaan dengan melenyap dan menyusutnya pengaruh tuan mereka.

Oleh karena itu, Amerika merasa tenang atas kendalinya terhadap gas dan minyak setelah demarkasi. Ia juga merasa tenang tentang gerakan Lebanon dalam memasuki sistem IMF dan Bank Dunia. Begitu juga tentang kedamaian kawasan setelah demarkasi laut, terlebih dengan pembaruan akses kekuasaan Netanyahu yang baru-baru ini menyatakan bahwa dia tidak akan membatalkan efek demarkasi, karena itu untuk kepentingan orang-orang Yahudi.

Amerika juga merasa aman bahwa negaranya tidak akan jatuh ke dasar jurang, karena obat penghilang rasa sakit yang diberikan kepadanya. Begitupula ia merasa aman tentang mekanisme pemilihan presiden melalui parlemen, dan bahwa keamanan negara tidak akan terganggu dengan adanya tentara, partai Iran, dan sekutunya. Ia juga merasa aman bahwa tidak ada gerakan baru di Lebanon yang mampu menggulingkannya.

Selain itu, ia juga merasa aman karena kekuatan internasional lainnya dan partai mereka di Lebanon lemah dan juga lembek. Mungkin salah satu wujud rasa tenangnya tentang status quo ini adalah adanya pembangunan kedutaannya yang akan menjadi bangunan terbesar di kawasan seluas 174 ribu meter persegi. Proses pembangunan ini dimulai pada tahun 2017 yang menghabiskan biaya sekitar satu miliar dolar dan diperkirakan akan selesai pada tahun 2023. Jadi mengapa Amerika terburu-buru memberikan lampu hijau untuk pelantikan Presiden Lebanon, sedangkan semua ada di tangan dan di bawah kendalinya?

Jika Amerika melihat bahwa kekosongan posisi ini dapat mempengaruhi kekuatan dan ketenangannya, Amerika akan memerintahkan semua kekuatan politik untuk menjalankan Perjanjian Doha yang baru, seperti saat Michel Suleiman diangkat menjadi presiden Lebanon. Tampaknya Amerika tidak melihat adanya masalah dalam kasus kekosongan pemimpin Lebanon serta situasinya saat ini. []

Diterjemahkan dari Surat Kabar Al-Rayah edisi 422, terbit pada Rabu, 27 Jumadilawal 1444 H/21 Desember 2022 M

Sumber : https://mediamuslimtimurtengah.wordpress.com/2023/01/02/realitas-kekosongan-presiden-di-lebanon/

https://www.alraiah.net/index.php/political-analysis/item/7451-2022-12-20-17-51-37