September 17, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh: Ust. Ahmad H. Muhammad

Apakah perang sudah usai? Apakah revolusi sudah selesai? Penduduk Syam, ataukah rezim penjajah beserta para elit global yang menang? Bukankah deru bom barel sudah mereda? Bukankah militer penjajah telah menyatakan gencatan senjata? Artinya, hari ini kita berada dalam tahapan baru, di mana kita menyingkirkan debu-debu puing dari kepala, membangun masa depan Suriah, serta mencari sisa-sisa kehidupan mulia yang tidak akan sudi mereka tinggalkan untuk kita!
Tunggu sebentar! Peperangan di tengah penduduk Syam hari ini sedang berada pada klimaksnya. Ini bukan perang rudal, artileri, militer, ataupun milisi, melainkan perang politis dan psikologis yang digalakkan oleh musuh umat, ketika kegagalan dan kekalahan mereka dalam perang militer melawan para tokoh dan mujahid (pejuang) Syam sudah terbukti.

Meskipun senjata penduduk Syam lebih lemah, jumlahnya pun lebih sedikit, akan tetapi penduduk Syam berhasil menggentarkan keyakinan kufur para musuh dengan keberanian dan tekadnya di Ghouta, Homs, Ltamenah, Aleppo, Ma’arat al-Nu’man, dan Daraa. Hal ini masih menjadi sumber kekhawatiran yang menghantui mereka hingga saat ini.

Mereka telah mengetahui bahwa kekuatan Syam tidak lain adalah cahaya hati penduduk Syam yang muncul karena keimanan. Mereka pun berupaya membuat penduduk Syam lemah dan mengajari mereka kelemahan. Mereka mengumumkan perang tersembunyi yang membunuh tanpa suara, menyembelih tanpa mengalirkan darah, serta mematikan ruh, hati, dan keselamatan jasad umat.
Tidak ada seorang pun yang menyadari perang ini, kecuali ia yang melihat dengan hakikat keimanan dan beramal dengannya. Tidak ada seorang mukmin yang mulai menghadapi perang ini dengan pedang atau pistol, melainkan ia hadapi terlebih dahulu dengan akidah yang kokoh, lalu inisiatif untuk meninggikan kalimat Allah. Kemudian dalam perjalanannya, ia menjadikan hukum syara sebagai kompas yang akan menuntunnya kepada rida Allah SWT.

Dalam perang ini, mereka ingin menerapkan teori Martin Seligman kepada penduduk Syam, atau yang disebut juga sebagai teori “Kelemahan yang Diajarkan atau Dipelajari” (Helplessness Learned).
Fenomena ini ditemukan oleh seorang Psikolog Amerika bernama Martin Seligman (lahir tahun 1942) pada tahun 60-an secara tidak sengaja. Dia membawa beberapa anjing yang diikat agar tidak lari, kemudian ia meletakkan lampu di depan mereka yang akan menyala setiap kali anjing-anjing itu disengat arus listrik yang menyakitkan. Seligman bermaksud untuk mengajari anjing-anjing itu agar lari setiap kali lampu di depan mereka menyala.
Lalu, dia menempatkan anjing-anjing tanpa tali kekang di dalam tempat yang terlihat seperti sangkar dengan dua sisi, satu dengan arus listrik, dan sisi lain tanpa arus. Nyala lampu mengisyaratkan pada anjing-anjing itu bahwa sambaran petir akan datang dan mereka harus melarikan diri ke sisi lain yang aman. Akan tetapi hal ini tidak terjadi jika anjing itu berbaring di tanah pasrah, setiap kali mereka melihat lampu menyala, mereka mulai kesakitan akibat sengatan listrik dan menunggu sampai rasa itu hilang.

Seligman takjub dan menyimpulkan bahwa anjing-anjing itu tidak pernah mencoba melarikan diri meskipun jalan keluar tampak di hadapan mereka, bahkan ketika mereka hanya butuh mengambil satu langkah untuk menghilangkan rasa sakit, maka pada saat itu anjing belajar tentang ketidakberdayaan.

Seligman pun menguji teorinya melalui sekelompok orang dengan metode teka-teki dan kebisingan, lantas menghasilkan kesimpulan yang sama.

Ya, inilah yang ingin mereka coba dan terapkan pada kita, Teori Seligman, yang mengajarkan kecacatan dan kelemahan. Mereka menggunakan alat berupa faksi, penjamin, uang politik kotor, organisasi non-kemanusiaan, media, monster pemerintahan (temporal), singa buas, dan para syekh yang putus asa dan frustrasi, semua itu dan lebih banyak lagi untuk mematahkan tekad penduduk Syam. Namun di sisi lain, hakikat iman membantah teori ini, alat-alatnya, dan hasilnya. Allah berfirman, “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS Ali Imran:139)
Seperti tutur Al-Hafiz, penafsir Ikrimah, ayat tersebut turun ketika Perang Uhud terjadi, ketika kaum muslimin mengalami musibah. Nabi SAW menaiki gunung, lantas Abu Sufyan datang dan berkata, “Wahai Muhammad, apakah kamu tidak akan keluar? Apakah kamu tidak akan keluar? Perang adalah diplomasi, satu hari untuk kami dan satu hari untukmu.” Rasulullah berkata kepada para sahabatnya, “Jawablah dia.” Para sahabat berkata, “Tidak, tidak sama, tidak sama.”
Orang yang wafat di antara kami ditempatkan di surga, sedangkan orang yang mati di antara kalian berada di neraka. Abu Sufyan berkata, “Tuhan Uzza memihak pada kita, tidak memihak pada kalian.” Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Wahai para sahabat, katakanlah padanya, ‘Allah adalah pelindung kami, dan tidak ada satu pun pelindung untukmu.’” Abu Sufyan berkata, “Mulia Hubal, Mulia Hubal!” Rasulullah SAW bersabda, “Katakanlah kepadanya, ‘Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Tinggi.’”
Tidakkah kau perhatikan bagaimana Abu Sufyan bermaksud untuk mengetuk hati nurani para sahabat sebagaimana teori Martin Seligman? Bagaimana Rasulullah SAW juga menampar dan membantah kata-katanya dengan hakikat keimanan?

Maka kokohkanlah diri kalian wahai penduduk Syam! Bangkitkanlah kemarahan musuh dengan berpegang teguh terhadap iman! Beranilah kalian untuk memerangi orang-orang yang zalim! Jangan sampai kesepakatan-kesepakatan politik dan gencatan senjata yang busuk itu membuat kalian berhenti menolong kebenaran! Janganlah kalian menyerah dari tujuan kalian untuk menggulingkan sistem yang kejam dengan segala simbol dan pilarnya hingga kalian memperoleh kemenangan dengan mengokohkan agama Rabb Semesta Alam!

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Qs Ali Imran:139)

Diterjemahkan dari Surat Kabar Ar-Rayah edisi 348, terbit pada Rabu, 11 Dzulhijjah 1442 H/21 Juli 2021 M

Sumber :
https://mediamuslimtimurtengah.wordpress.com/2021/08/01/penduduk-syam-antara-hakikat-iman-dan-teori-seligman/#more-467

https://www.alraiah.net/index.php/ummah-affairs/item/6233-the-people-of-the-levant-between-the-facts-of-faith-and-seligman-s-theory