July 31, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Nabil Abdul Karim (Abu Mush’ab)

Kita tidak bisa membayangkan Jalan Sutera hanya sebagai jalan yang membentang antara dua titik dari timur ke barat. Itu bukan hanya penghubung antara pedagang di Barat dan China, melainkan melewati kelompok masyarakat yang sangat besar. Jalan Sutera merupakan jaringan komunikasi jalan raya yang mana kebaikan dan kejahatan disebarkan melaluinya. Karena jalan Sutera mengangkut segala sesuatu dan bukan hanya komoditas saja. Jalan Sutera dikenal dan dengannya, budaya, agama, adat istiadat, barang, penyakit dan hewan dipindahkan. Begitu pula segala sesuatu yang bisa dibawa dan diangkut. Jalan Sutera merupakan jendela antar negara satu sama lain sampai semuanya mencapai pantai Afrika dan pantai Mediterania di Eropa.

Secara historis, Jalur Sutera merupakan jalur yang membentang dari kota Changan, ibu kota China pada era Dinasti Han dan Tang, hingga ke Eropa melalui Asia Tengah dan Timur Tengah. Awalnya Jalur Sutera digunakan untuk perdagangan sejak abad kedua sebelum masehi sampai abad ke-16. Melalui Jalur Sutera dahulu diangkut komoditas China dan yang terkenal adalah sutera. Oleh karena itu dinamakan Jalur Sutera yang berfungsi menghubungkan peradaban China dengan peradaban dunia lainnya. Oleh karena itu, Jalur Sutera dianggap sebagai jendela global bagi berbagai bangsa untuk berkomunikasi melalui kepemilikan dan budaya mereka.

Dahulu China terkenal dan istimewa dalam membuat sutera dari ulat sutera. Benang sutera pertama kali dibuat 4.500 tahun yang lalu, dan tetap menjadi rahasia dan monopol China. Yang mana dijatuhkan hukuman mati terhadap setiap orang yang membocorkan rahasia ini. Negara-negara besar saat itu tidak mengetahui rahasia industri ini hingga 3.000 tahun setelah China menguasainya. Pada saat itu, China berada di garis depan industri itu dan memonopolinya untuk dirinya sendiri. Sutera dianggap bagian dari ritual Kekaisaran China dan merupakan bagian integral dari sejarahnya. Bahkan pada sebagian waktu sutera digunakan sebagai mata uang untuk pertukaran manusia.

Jalan ini bukanlah trotoar yang mudah dijangkau, juga bukan jalan tunggal, melainkan kombinasi dari beberapa jalan yang saling terkait yang membentuk jaringan yang terhubung, melintasi berbagai bangsa dan etnis. Ada satu jalan dari Jalur Sutera di selatan yang mencapai Afghanistan, Uzbekistan, dan Iran di barat. Dan jalan lainnya melewati Pakistan dan Kabul Afghanistan ke ujung Teluk, dan dari situ ia mencapai Iran dan Roma.

Jalur Sutera berkontribusi memfasilitasi perdagangan antara Barat dan Timur. Dan tentu saja, seperti yang kami sebutkan sebelumnya, Jalur Sutera secara historis terkait erat dengan orang-orang Han, salah satu suku bangsa China. Sebagian besar penguasa China mulai dari kaisar dan pemimpin Partai Komunis dan para pemimpin rakyat yang penting berasal dari Dinasti Han yang membentuk zaman keemasan China. Jumlah mereka yang berafiliasi dengan suku bangsa Han sekitar 1,31 miliar orang. Mereka berbicara bahasa China, tetapi mereka menganut sejumlah besar agama, terutama Buddha dan Taoisme, dengan minoritas, termasuk Kristen dan Muslim.

Selain itu, Presiden China saat ini Xi Jinping berasal dari suku bangsa Han. Namanya akan bersinar secara global karena namanya akan dikaitkan dengan transformasi China dari regional ke global. Pencapaian ini dengan segala kesulitannya adalah sejarah baru China. Wall Street Journal menggambarkan presiden China sebagai yang palling kuat dan paling berpengaruh di kancah internasional.

Inisiatif China yang disebut Belt and Road merupakan ide yang didasarkan pada peninggalan ide Jalur Sutera kuno, dan bertujuan untuk menghubungkan China dengan dunia melalui jaringan transportasi darat dan laut yang menghubungkannya dengan benua-benua pada level tertinggi, untuk menjadi proyek infrastruktur terbesar dalam sejarah manusia hingga saat ini.

Ini adalah proyek raksasa China yang mana ada 122 negara ikut berpartisipasi.

Melalui proyek ini China ingin mempercepat sampainya produk-produk China ke pasar global, termasuk Eropa, Afrika, dan Amerika. Di sisi lain, juga menjamin kedatangan impornya dari seluruh dunia tanpa berlutut atau tunduk pada tekanan negara-negara besar, terutama Amerika Serikat. Itu diumumkan oleh mantan Presiden China Hu Jintao pada 2003. Ia menggambarkannya sebagai sebuah solusi untuk apa yang dia sebut “tragedi dari Selat Malaka“ yang mana Selat Malaka merupakan penghubung antara China, Jepang, Thailand, India, Indonesia, Singapura, Taiwan dan Korea Selatan, sehingga memiliki pergerakan navigasi yang sangat besar, dan dianggap sebagai jalur terpendek untuk mencapai China dan Jepang.

Oleh karena itu, koridor ini merupakan jalur utama untuk memasok China dengan minyak dan bahan mentah. Dan selat ini dikontrol oleh Amerika Serikat secara militer melalui kehadiran banyak pangkalan militer. Mungkin yang paling menonjol adalah pangkalan Diego Garcia yang merupakan pangkalan dukungan militer dan angkatan laut terbesar di dunia. Yang itu berarti kemampuan untuk mencekik China kapan pun Amerika Serikat menginginkannya. Oleh karena itu, salah satu tujuan terpenting China dari proyek barunya itu adalah mencari alternatif jalur perdagangannya yang jauh dari Selat Malaka, dengan mencari rute yang berbeda melewati negara-negara sekitarnya.

Pada akhir 2013 diumumkan “Belt and Road” oleh presiden China Xi Jinping di universitas Nazarbayev Kazakhstan. Diumumkan bahwa China mengadopsi inisiatif ini membangun yang bertujuan menghidupkan kembali sabuk jalur sutera ekonomi dan Jalur Sutera Maritim yang membentang dari pantai China melalui Singapura dan India menuju Mediterania. Adapun jalur darat memiliki enam koridor, yaitu:

1- Jembatan Darat Eurasia Baru:

Koridor ini dimulai dari China barat hingga Rusia barat. Koridor ini disebut juga Jembatan Eurasia kedua, dimulai dari dua kota pesisir: Lianyungang dan Rizhao di China, mencapai Rotterdam di Belanda dan Antwerpen di Belgia. Koridor ini melalui jalur kereta api yang membentang sepanjang 10.800 km, melewati Kazakhstan, Rusia, Belarusia, Polandia dan Jerman, melayani lebih dari 30 negara dan wilayah. Konstruksi sedang berlangsung terhadap jalur kerta api dan segala hal yang berkaitan dengan jalur ini baik jalan raya high way, jalur transmisi listrik dan pelabuhan.

2- Koridor Ekonomi China Mongolia-Rusia:

Koridor ini diusulkan pada 2014 oleh China. Ini terjadi dalam pertemuan trilateral pada 2014 M, menjadi rencana kerjasama multilateral pertama untuk inisiatif “Belt anda Road“. Koridor memiliki dua poros:

Yang pertama: membentang dari wilayah Beijing-Tianjin-Hubei di China hingga Hohhot di Mongolia dalam, mencapai Mongolia dan Rusia.

Dan yang kedua: membentang dari Dalian, Chiang, Changcheon, Harbin dan Sanchuli di China hingga Chita di Rusia.

3- Koridor Ekonomi China-Asia Tengah Barat:

Koridor ini menghubungkan China dan Jazirah Arab, mulai dari Xinjiang di China melewati Asia Tengah hingga mencapai Teluk dan semenanjung Arab. Koridor ini melintasi lima negara: Uzbekistan-Kazakhstan-Kyrgyzstan-Tajikistan-Turkmenistan dan 17 negara di Asia Barat, termasuk Turki, Iran, Arab Saudi … dan lainnya.

4- Koridor Ekonomi China-Pakistan:

Ini merupakan koridor yang menghubungkan kedua negara di antaranya melalui sejumlah jalan layang yang panjangnya mencapai 880 km dan menelan biaya sekitar 65 miliar dolar disertai jalur kereta api, pipa gas, dan kabel serat optik. Koridor ini merupakan salah satu dari elemen paling penting dari inisiatif Belt and Road. Koridor ini telah dijalankan di Pakistan, yang merupakan jalur sepanjang 3.000 km mulai dari Kashgar di China dan berakhir di Gwadar di Pakistan, dan menghubungkan sabuk ekonomi Jalur Sutera Maritim untuk abad ke-21 di selatan.

5- Koridor Ekonomi China-Semenanjung Indo China:

Koridor ini membentang dari delta sungai Mutiara melalui jalan raya jalur cepat Nanchong Guanfan dan jalur kereta api berkecepatan tinggi Nanning Guanfinchu ke Hanoi dan Singapura.

6- Koridor Ekonomi Bangladesh, China, Myanmar:

Koridor ini merupakan koridor yang menghubungkan dua pasar utama di India dan China. Pada bulan Desember 2013 M, telah dilaksanakan pertemuan pertama kelompok kerja bersama pada koridor tersebut dan menghasilkan pembentukan mekanisme kerjasama antara empat pemerintah.

China memiliki banyak tujuan dari inisiatif menghidupkan kembali Jalur Sutera, yang secara lahiriahnya adalah tujuan-tujuan ekonomi tetapi dibaliknya lebih dari itu. China telah mengalokasikan hampir 1,3 triliun dolar untuk inisiatif ini melalui proyek-proyek yang sejauh ini telah melampaui sembilan puluh proyek di lebih dari 60 negara di dunia. Seraya China membuka ruang bagi negara mana pun di dunia yang ingin berpartisipasi dalam proyek asal menerima investasi China dalam infrastrukturnya. China menawarkan pinjaman untuk membangun infrastruktur ini tetapi faedah-faedahnya untuk China. Juga dengan syarat bahwa perusahaan China beroperasi secara eksklusif, karena mereka tidak memberikan uang, tetapi menciptakan pekerjaan untuk membatasi faedah di dalamnya.

Upaya China untuk mengembangkan pengaruhnya diiringi keraguan Barat tentang niatnya mulai meningkat terkait proyek ini. Hal ini tampak jelas dari partisipasi terbatas negara-negara ini dengan hanya mengirim perwakilan moderat atau tidak hadir di semua konferensi terkait masalah ini. Padahal dalam konfrensi-konferensi itu ditandatangani sejumlah perjanjian kerja sama antara Beijing dengan 126 negara dan 29 organisasi dalam kerangka proyek ini. Tetapi perjanjian-perjanjian itu tidak menyatakan dukungan tanpa syarat untuk proyek besar China, melainkan beberapa dari mereka menawarkan kerja sama, bukan dukungan. The New York Times mengatakan bahwa surplus produksi industri China adalah motivasi terpenting di balik inisiatif ini. Sementara itu para kritikus mengatakan bahwa China berupaya memperkuat pengaruh perusahaan yang berbasis di China, dan memasang perangkap utang bagi negara-negara yang mendapat pinjaman yang diberikan oleh bank-bank China.

Tapi China merancang cetak biru berdasarkan kepentingan masing-masing negara. Karena proyek ini dikembangkan dengan hati-hati sehingga pengembalian keuntungannya menutupi bungan yang menjadi kewajiban setiap negara yang dilewatinya, baik dengan menambah produk, yaitu China menyisakan sebagian produknya kurang untuk diselesaikan di negara-negara yang berpartisipasi secara ekonomi sebelum produk itu masuk ke pasar penjualan. Sehingga di situ ada semacam partisipasi ekonomis dalam membangun sistem ekonomi yang besar. Begitu pula, keuntungan yang diterima negara-negara transit yang menambah produk nasional masing-masing dan fasilitas keuangan yang mereka peroleh dari bank-bank China. Bank-bank China memberikan pinjaman utang yang nilainya antara 175 dan 265 miliar dolar. Dengan begitu, keinginan negara untuk berpartisipasi dalam proyek yang bersifat ekonomi itu tampak. Sebab proyek itu akan mendukung ekonomi setiap negara. Dan karena China mengadopsi rencana presisi dan hati-hati sambil terus mendorong dan maju untuk mencapai tujuannya ini tanpa melihat waktu secara mandasar. China bekerja dengan kebijakan fleksibel disertai tekad untuk terus maju. Oleh karena itu, setiap kesepakatan memiliki realitas dan justifikasinya masing-masing, sehingga China menjamin kemajuan proyek seperti yang telah dirumuskan untuknya.

Adapun bagaimana orang-orang China memandang proyek ini?

Ini bergema dengan baik, karena beberapa alasan yang dapat dicapai oleh proyek ini untuk orang-orang China, termasuk tetapi tidak terbatas pada:

– Menciptakan peluang kerja bagi perusahaan dan bangsa China di luar kawasan. Sebab China merupakan investor pertama di dalam proyek-proyek infrastruktur di negara-negara yang tercakup oleh proyek tersebut.

– Transportasi yang cepat dan aman tanpa batasan antara China dan negara-negara di dunia, karena China adalah pabrik terbesar di dunia. Sehingga rakyat China diuntungkan dengan mengekspor segala sesuatu yang diproduksi, dan bahan mentah mudah diakses oleh mereka, serta rendahnya biaya transportasi akan menjangkau semua orang.

– Keluar dari hegemoni maritim AS dan ini adalah point terpenting. Karena lebih dari 85% komoditi China yang diekspor dan diimpor melewati wilayah pengaruh kontrol dan navigasi maritim AS. Dan ini disebabkan oleh kelemahan militer dan politik China. Oleh karena itu, China sedang bekerja untuk mengubah realitas politiknya dan memperkuat kekuatan militernya dengan cara yang sesuai aspirasinya dan membantunya bertolak untuk realitas internasional baru dengan melindungi proyek ini -Belt and Road- di masa depan dan bukan saat ini.

– Membuka pintu untuk membuat orang China Barat yang miskin sama dengan orang China Timur yang kaya. Dengan begitu, China telah memperhatikan masalah penting, yaitu masalah kemiskinan di China. Meskipun China mengikuti sistem kapitalis dan tidak memiliki pandangan ekonomi khusus. Tetapi ini dipandang sebagai upaya untuk menaikkan tingkat kemewahan bagi seluruh China.

Adapun berkaitan untuk Eropa:

China memasuki Yunani meski China tahu bahwa benua lama menolak ekspansi China di sana. Tetapi China mengambil keuntungan dari situasi ekonomi Yunani setelah krisis ekonomi Yunani. China memperoleh 51% dari pelabuhan Piraeus dekat ibu kota Athena pada tahun 2016. Tapi masuknya China ke Italia merupakan pukulan kuat. Itu terjad setelah kunjungan sukses Presiden China Xi Jinping ke Italia, Monako dan Perancis pada akhir Maret 2019. Begitu pula ketua Dewan Negara Li Keqiang pada 8 April tahun yang sama juga pergi ke Eropa dalam sebuah kunjungan ke Brussels untuk mengadakan pertemuan ke-21 di antara Pemimpin China dan Uni Eropa. Ini menunjukkan orientasi China terhadap Eropa. Selama kunjungan inilah Italia menjadi anggota pertama G7 yang menandatangani Nota Kesepahaman Belt and Road dengan China. Adapun negara-negara Eropa Timur yang meluncurkan kerja sama 16+1 pada tahun 2012 dan keenam belas negara Eropa Timur telah ikut dalam inisiatif Belt and Road. Dan hari ini kita menemukan bahwa volume perdagangan antara China dan Eropa terus meningkat.

Dan melalui banyak perubahan saat ini dan masa depan yang belum terjadi seratus tahun yang lalu, membuat Eropa berharap lebih banyak kerjasama untuk keluar dari hegemoni Amerika. Namun, masih ada banyak kekhawatiran dari mereka tentang proyek ini:

– Membatasi pemasaran komoditas barat ke wilayah timur dan barat Afrika dan beberapa wilayah Eropa. Karena produk China akan lebih murah harganya, dan kualitasnya mungkin setara karena faktor-faktor keunggulan China dalam hal tenaga kerja murah dan kekuatan produksi … dan lain-lain, yang memungkinkan produk China punya daya saing yang kuat. Meskipun China berusaha meyakinkan orang-orang Eropa bahwa partisipasi ekonomi di antara mereka, China mungkin menawarkan fasilitas yang bagus dan beberapa konsesi, bahkan di awal proyek ini.

– Orang Eropa juga khawatir dengan sifat investasi China. Karena China mencoba berinvestasi di sektor yang sangat sensitif seperti sektor nuklir, teknologi dan 5G. Dan ini karena kebutuhan China untuk mencapai seluruh kemajuan Eropa.

Orang-orang Eropa bertanya-tanya, apa yang terjadi setelah kontrol ini? Kemana China akan memandu mereka? Mereka tahu bahwa setelah hegemoni ekonomi datanglah hegemoni politik, dan pintu tetap terbuka lebar bagi persaingan dengan Eropa dan peristiwa-peristiwa yang akan datang.

Adapun berkaitan dengan negara tetangga terpenting.

Jepang:

Kehadiran investasi China yang sangat besar untuk mengembangkan infrastruktur, di satu sisi demi melayani kepentingan Jepang, dan di sisi lain Jepang khawatir terhadap ekspansi geostrategi pengaruh China di kawasan. Namun Jepang berpartisipasi di dalam inisiatif tersebut, ketika pada 2017 Menteri Pertama Jepang pada 2017 mengumumkan dukungan bersyarat negaranya untuk inisiatif ini. Pada Mei 2018  perjanjian kerja sama ekonomi ditandatangani dengan China.

Rusia:

Ini memikul kekhawatiran yang sama seperti orang Jepang. Tetapi Rusia berambisi bercita-cita untuk mengembangkan beberapa wilayahnya, seperti Siberia dan Timur Jauh Rusia, terutama di bawah sanksi akibat krisis Ukraina.

Namun, Rusia tetap berhati-hati dalam melakukan negosiasi bilateral antara negara-negara anggota Uni Ekonomi Eurasia dan China.

India:

Permusuhan antara India dan China adalah nyata, dan telah mencapai, pada tingkat yang berbeda-beda, sampai pada ambang perang di beberapa tahun 2013, 2014, 2017. Dan baru-baru ini pertempuran kecil terjadi di Lembah Galwan di wilayah Ladakh menyebabkan kebuntuan militer dan diplomatik di antara keduanya. Majalah Bussines Standard menyebutkan, “Lebih dari 5.000 tentara China dari Tentara Pembebasan Rakyat menyerbu lima titik di Ladakh, empat di sepanjang Sungai Galwan dan satu di dekat Danau Panjung”. Belum lagi konflik seputar eksplorasi migas dan masalah-masalah perikanan … dan lain-lain.

Amerika Serikat selalu berada di barisan India. Ketua Komite Urusan Luar Negeri Dewan Perwakilan Rakyat AS membuat pernyataan yang mana dia mengatakan, “Saya sangat prihatin dengan agresi China yang terus berlanjut di sepanjang garis kontrol efektif di perbatasan antara India dan China. China sekali lagi membuktikan diri bersiap untuk menindas tetangganya alih-alih menyelesaikan perselisihan menurut hukum internasional” (Majalah Foreign Affairs Amerika yang diterbitkan oleh Council on Foreign Relations pada 1/6/2020). Setelah kedatangan agen Amerika di pemerintahan India, permusuhan antara kedua negara meningkat atas rekomendasi AS. India menentang inisiatif Belt and Road ini. India tidak menghadiri forum pada Mei 2017 M. India mengkritik inisiatif tersebut di KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (Shanghai Cooporation) pada 2018 M dan menganggapnya sebagai pelanggaran kedaulatannya, terutama Koridor Ekonomi China-Pakistan, yang melintasi wilayah Gilgit di wilayah Kashmir yang disengketakan.

Adapun Berkaitan dengan Amerika Serikat:

Amerika Serikat sangat menyadari apa yang coba dilakukan China. Amerika telah berusaha mengepungnya sejak lama dengan membuat China disibukkan dengan masalah internal dan dengan negara-negara tetangga di kawasan itu. Kita menemukan pada tanggal 29 Januari 2010, pemerintahan Obama mengumumkan bahwa mereka telah memberi tahu Kongres AS tentang rencananya untuk menjual senjata ke Taiwan dengan nilai 6,4 miliar dolar termasuk torpedo canggih MK-48. Sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Badan Kerjasama Pertahanan dan Keamanan AS (DSCA) dan pernyataan Menteri Pertahanan AS selama kunjungannya ke Jepang pada 16/9/2012 menyatakan bahwa perselisihan antara China dan Jepang atas masalah kepulauan dapat meluas. Dan dia mengatakan bahwa dia prihatin dengan provokasi yang dapat mendorong salah satu pihak untuk melakukan kesalahan yang mengarah pada perselisihan, seperti yang dinyatakan dalam Jawab Soal Amir Hizbut Tahrir seputar sengketa pulau-pulau antara China dan Jepang pada 20/9/2012 M:

“ … begitulah, Amerika menembak dua burung dengan satu peluru. Hal itu dengan mendorong Jepang untuk menuntut pulau-pulau … Di satu sisi, suasana antara China dan Jepang menjadi tegang, sehingga kebutuhan Jepang akan kehadiran Amerika tetap ada, dan memudah diterima di antara masyarakat di Jepang, dan di sisi lain, Amerika ingin menyibukkan China dengan isu-isu regional yang memanas. Dan itu tentu saja karena aspirasi China kepada politik internasional global kecuali kecuali di dalam batas regionalnya saja”.

Dalam Jawab Soal lainnya dengan judul Pengaruh Amerika terhadap Kebijakan India Menghadapi China pada 12/4/2014 dinyatakan, “Amerika bekerja untuk mengarahkan India ke front utara konflik dengan China setelah Amerika mengamankan front Barat dengan Pakistan, yang mana penguasa Pakistan yang pro-Amerika memberikan konsesi besar ke India pada masa pemerintahan Partai Bharatiya Janata yang pro-Amerika”.

Oleh karena itu, kita menemukan bahwa Amerika berusaha mencegah keluarnya China meninggalkan regionalnya. Tetapi China tetap memanipulasi Amerika dalam file-file ini. China memulai file inisiatif Belt and Road untuk membuat dirinya menjadi perkara yang nyata di depan Amerika dengan dugaan China bahwa Amerika lengah dari hal itu.

Tetapi yang benar adalah bahwa Amerika Serikat disibukkan dengan hal-hal yang sangat penting baginya, dan karena Amerika tahu bahwa China tidak memiliki ideologi yang menjadi basis untuk memerintah dunia. Maka China akan tetap berada dalam sistem kapitalisme jika Amerika Serikat atau mereka yang bertanggung jawab atas sistem kapitalis ini berhasil mengulangi dirinya. Oleh karena itu, Amerika sibuk di Timur Tengah, sebab daerah itu satu-satunya daerah yang masyarakatnya memiliki ideologi alternatif, yaitu Islam. Oleh karena itu, kita melihat bahwa Amerika bekerja siang dan malam, dan tidak meninggalkan momen atau rencana untuk membuat Islam absen untuk periode yang akan datang sehingga mereka dapat memulihkan diri dan sistem mereka setelah krisis keuangan berikutnya yang tak terhindarkan. Dan hal itu tidak akan terjadi untuk mereka, insya’a Allah.

Oleh karena itu, kita mencatat bahwa Amerika Serikat tidak mencegah inisiatif ini. Andai Amerika ingin mencegahnya, niscaya Amerika menghalangi agennya membuka pintu mereka kepada raksasa China. Tetapi Amerika membiarkannya dan Amerika mengetahui apa yang dilakukan. Pasalnya setelah memastikan bahwa Islam tidak akan bisa muncul sebagai ideologi alternatif menurut anggapannya maka Amerika:

– Pertama, Amerika telah memiliki sumber daya minyak, energi dan bahan mentah di Timur Tengah melalui agen-agennya atau secara langsung, yang dapat mencekik China terlepas dari mekanisme pengangkutannya.

– Kedua, Amerika sedang bekerja untuk melibatkan China dalam file-file besar, termasuk file hak asasi manusia, seputar apa yang terjadi pada orang-orang Uighur di China.

Trump menuduh China dalam file pandemi Covid-19. Sebagaimana yang ada di dalam Jawab Soal Amir Hizbut Tahrir pada 21/6/2020: (…Setelah krisis pandemi Corona, Amerika menemukan alasan baru untuk merugikan China dengan berbagai dalih. Washington banyak berbicara tentang perlunya Beijing memikul tanggung jawab atas penyebaran virus. Amerika menarik negara lain, termasuk India, ke arah menuntut penyelidikan khusus di Institut Virus Wuhan. “Sehingga file-file ini menjadi perhatian semua pihak, yang akan mengarah pada mobilisasi internasional menentang China, dan ini akan mengarah untuk menuduh China dan mencoba untuk mendisiplinkannya dan menuntut kompensasi. Tujuan dari hal itu bukan munculnya perang, meski tidak ada keberatan untuk terjadinya perang terbatas dan pre-emptive yang sangat cepat yang hasilnya terjamin memenuhi tujuan”. Tetapi tujuannya adalah memaksa China untuk menandatangani perjanjian baru dengan Amerika Serikat atau perwakilan sistem kapitalis dari yakni organisasi internasional yang eksis untuk memastikan beberapa hal, diantaranya:

– Menyertakan Amerika Serikat dalam proyek Belt and Road dalam bentuk di dalamnya tercapai bagian yang setidaknya sama dengan China.

– Membatasi hubungan negara-negara dengan China dan mengerdilkan China ke arah luar negeri.

– Undang-undang yang menjadikan Amerika Serikat sebagai mitra dalam semua perkembangan teknologi dan industri di masa depan, yang mempertahankan supremasi Amerika Serikat di bidang ini, dengan imbalan jaminan sumber daya energi dan bahan mentah untuk China di bawah syarat-syarat dan pengawasan Amerika Serikat.

– Menciptakan mata uang internasional yang mana kendali atasnya jadi milik Amerika Serikat atau mereka yang bertanggung jawab atas sistem kapitalis “dalam kondisi tanpa dolar”.

Dan banyak dari hal-hal ini, dan tidak dapat dihitung sekarang. Tantangan terbesar bagi China dalam meraih kesuksesan tetaplah tantangan menghadapi tekanan Amerika yang berupaya mempertahankan posisinya sebagai satu-satunya yang mendominasi dalam sistem internasional dengan slogan America First.

Adapun berkaitan dengan kaum Muslim meski sekarang belum punya negara:

China sedang membangun sistem raksasanya di atas basis sistem kapitalis. Keruntuhannya apapun China akan kehilangan sebagian besar dari apa yang telah dibayarnya dan akan tunduk pada realitas global yang baru.

Dalam kondisi Islam muncul, insya’a Allah, menjadi kenyataan sebagai ideologi alternatif yang memerintah, maka China harus menandatangani perjanjian dengan negara Khilafah berikutnya atau kehilangan segalanya. Karena sebagian besar negara Belt and Road adalah negeri-negeri yang akan mengikuti Khilafah, suka atau tidak karena semuanya termasuk dalam negeri-negeri yang harus dikembalikan ke pangkuan Khilafah. Dan itu hanya masalah waktu saja. Dan karena infrastruktur ini merupakan kepemilikan publik yang tunduk kepada negara, dan karena Khilafah tidak akan mengakui keputusan internasional atau badan internasional mana pun, maka secara de jure akan menjadi milik negara. Daulah dapat membuat perjanjian ekonomi menurut pendapat Khalifah. Tetapi setelah China dimintai pertanggungjawaban atas semua file atas perlakuan menindasnya terhadap kaum Muslim, misalnya:

Uighur, yang mana identitas Muslim telah dilenyapkan melalui semua jenis penganiayaan dan segala praktik tidak manusiawi. Hal itu dikarenakan kebencian terhadap Islam di satu sisi, dan di sisi lain karena pentingnya wilayah Xinjiang di utara China yang dahulu dikenal sebagai Turkistan Timur, dan persentase Muslim di sana menurun dari 90% menjadi 50%. Hal itu kembali kepada inisiatif “Belt and Road” yang mana Xinjiang dinilai sebagai salah satu kota komersial dan industri paling penting dan memiliki sumber daya tinggi. Dan atas diamnya China terhadap apa yang terjadi di Burma karena hubungan bisnis mereka dan pembangunan jalur pipa minyak dan gas alam, yang mana China mendekati Burma dengan menutup mata terhadap genosida dan pengusiran kaum Muslim Rohingya. Padahal China tidak memiliki sejarah permusuhan dengan Khilafah kecuali di beberapa posisi.  Kami sebutkan yang paling penting adalah pertempuran Sungai Tlass antara Khilafah ‘Abbasiyah dengan Kekaisaran Tang China. Akibatnya China keluar dari Asia Tengah, yang menyebabkan berakhirnya pengaruh China, rusak perdagangan Sutera dan kemakmurannya merosot.

China bersandar pada soft power hasil dari penerapan kebijakan ekspansionisnya dengan bersandar kepada sumber daya non-militer di dalam inisiatif, seperti kekuatan ekonomi, sarana diplomatik dan fondasi budaya. Kekuatan lunak ini muncul dari dalam sistem internasional. China tidak memiliki ideologi yang dengannya China keluar secara menantang dan terang-terangan untuk mencapai tujuannya di luar kekuatan lunak. Oleh karena itu, betapa pun besarnya peranan China, ia tetap berada di dalam sistem kapitalis, dan China tetap tergadai pada perubahan yang akan datang yang menandakan munculnya tatanan dunia baru dengan dua bagiannya dari dalam atau luar kapitalisme.

Sayangnya, Islam belum memiliki negara sehingga bisa mengubah situasi saat ini menjadi apa yang baik bagi umat manusia dan mele[askan dari hegemoni yang mempermainkan nasib bangsa-bangsa. Kita memohon kepada Allah Yang Maha Kuasa agar mempercepat bagi kita Khilafah Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian untuk memimpin dunia ke apa yang baik dunia.

إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمۡرِهِۦۚ قَدۡ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَيۡءٍ قَدۡرًا

“Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu” (TQS ath-Thalaq [65]: 3).

Al-Waie (arab) no. 409 Tahun ke-35, Shafar al-Khair 1442 H-Oktober 2020 M

Sumber : http://www.al-waie.org/archives/article/15223