April 17, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Soal:
Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev mengatakan dalam pidatonya yang disiarkan di televisi resmi pemerintah pada Ahad malam 04/10/2020 bahwa Armenia harus menetapkan jadwal penarikan diri dari wilayah Nagorno Karabagh sebelum penghentian tembak menembak yang telah terjadi sekitar seminggu yang lalu … Aliyev menganggap kontrol atas kota Gabriel kemarin, Ahad, menjadi pelajaran bagi Armenia dan para pendukungnya, dan mereka sepatutnya mengambil pelajaran darinya, kata Aliyev (al-Jazeera, 05/10/2020). Bentrokan sengit antara Azerbaijan dan Armenia terjadi pada pagi hari tanggal 27/9/2020 dengan keganasan yang belum pernah terjadi sejak gencatan senjata di antara kedua pihak tahun 1994. Meski, dari waktu ke waktu terus terjadi bentrokan terbatas dan terkadang ekstensif seperti yang terjadi pada tahun 2016. Turki tidak memberikan dukungan kepada Azerbaijan secara militer dalam semua bentrokan sebelumnya itu. Tapi kali ini, Turki mengumumkan dukungannya kepada Azerbaijan. Tampaknya Turki punya tujuan tertentu! Apa tujuan ini? Dan mengapa Turki melakukan intervensi dengan momentum ini? Bagaimana posisi Kelompok Minsk, terutama ketiga pemimpinnya yakni Amerika Serikat, Rusia dan Prancis? Terima kasih dan apresiasi untuk Anda..

Jawab:
Untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, kami ulas hal-hal berikut:

1- Azerbaijan mengumumkan bahwa Armenia melancarkan serangan besar-besaran di wilayahnya pada pagi hari tanggal 27/9/2020. Kementerian Pertahanan Azerbaijan menyatakan di satu keterangan bahwa tembakan Armenia telah menimbulkan korban sipil, selain menyebabkan kerusakan parah pada infrastruktur sipil di sejumlah desa. yang terkena oleh gempuran sengit Armenia. Juga menyebutkan bahwa pasukan Azebaijan meluncurkan sebuah serangan balasan dan berhasil menghancurkan sejumlah besar fasilitas dan kendaraan militer Armenia pada kedalaman garis depan front termasuk 12 sistem rudal anti-pesawat Rusia (al-Jazeera, 27/9/2020). Parlemen Azerbaijan menyetujui pengumuman keadaan perang di beberapa kota dan wilayah serta memberlakukan darurat militer di wilayah-wilayah bentrokan. Di sisi lain, Armenia juga mengumumkan keadaan perang. Bahkan Armenia memasang di akun resminya gambar seorang pendeta yang membawa senapan mesin yang tergantung di lehernya tanda salib, yang menunjukkan bahwa mereka sedang terjun dalam perang salib melawan kaum Muslim … Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan mengumumkan sikap negaranya dalam pidatonya, “Azerbaijan telah menyatakan perang terhadap rakyatnya dan dia tidak mengesampingkan bahwa eskalasi di wilayah tersebut akan melewati perbatasan wilayah dan mengancam keamanan internasional. Dan bahwa tindakan Turki penuh dengan konsekuensi yang menghancurkan terhadap Kaukasus selatan dan dia mendesak masyarakat internasional untuk memastikan bahwa Turki tidak ikut campur dalam konflik antara Baku dan Yerevan seputar wilayah. Karabagh sejak 1991” … (al-Jazeera, 27/9/2020).

2- Azerbaijan telah menunjukkan bahwa pertempurannya kali ini serius dan bahwa perang itu menentukan. Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev pada 30/9/2020 mengatakan: “Negosiasi tentang Karabagh tidak memungkinkan dan tidak ada keperluan kepada seruan baru untuk berdialog. Hal itu menunjukkan tekad Azerbaijan untuk memulihkan integritas teritorialnya dan bahwa tentara Azerbaijan dapat mencapai keberhasilan lapangan selama operasi baru-baru ini di wilayah yang disengketakan. Dan dia menyatakan bahwa tidak ada kemungkinan bagi siapapun memaksa pasukan Azerbaijan untuk menarik diri dari posisi-posisi yang telah dikuasai. Penarikan diri pasukan Armenia adalah satu-satunya syarat yang diajukan oleh Azerbaijan. Jika hal itu dilakukan oleh Yerevan (Armenia), maka pertempuran akan berhenti “. Dia mengatakan, “kami hanya punya satu syarat: penarikan penuh, tanpa syarat dan tanpa delay pasukan Armenia dari wilayah kami. Jika pemerintah Armenia menerimanya …  pertempuran akan berhenti dan pertumpahan darah akan berhenti… (al-Jazeera, Russia today, 30/9/2020).

Hal itu menunjukkan bahwa ia yakin dengan dukungan Turki, percaya bahwa dukungan ini benar dan bahwa dukungan itu akan membebaskan wilayahnya.

3- Bentrokan kembali terjadi tahun ini pada 12/7/2020 berlangsung selama tiga hari dan berhenti dengan korban tewas di kedua belah pihak. Kemudian, untuk pertama kalinya, Turki mengirimkan angkatan darat dan udara ke Azerbaijan untuk ikut serta dalam manuver militer skala besar antara kedua negara yang dimulai pada 29/7/2020 dan berlangsung sekitar dua minggu. Turki mulai menunjukkan bahwa Turki mengadopsi isu Azerbaijan dan wilayahnya yang diduduki oleh orang-orang Armenia. Hal seperti itu tidak terjadi sebelumnya, meskipun bentrokan sporadis telah terjadi antara kedua pihak dari waktu ke waktu sejak deklarasi gencatan senjata pada tahun 1994. Bentrokan terakhir dinilai parah sejak tanggal tersebut yang terjadi dari awal April hingga 26 April 2016. Tetapi Turki tidak ikut campur di sisi Azerbaijan kecuali hanya presiden Erdogan menyampaikan belasungkawa kepada mereka yang kehilangan nyawa dalam bentrokan itu dan kesiapannya untuk mendukung Azerbaijan tanpa menawarkan apa pun! Keadaan yang ada membutuhkan kesepemahaman Turki dengan Rusia, bukan bentrokan di antara keduanya, seperti yang telah direncanakan Amerika agar keduanya berdiri bersama untuk mengokohkan rezim Suriah pro-Amerika dan menyerang rakyat Suriah yang memberontak melawan rezim ini dan menghalangi kembalinya Islam ke pemerintahan. Apalagi orang-orang Armenia telah memberontak melawan Azerbaijan bermula pada bulan Februari 1988 dengan dukungan Rusia. Mereka mengumumkan kontrol mereka atas wilayah pegunungan Karabagh pada tahun 1991. Mereka juga mendeklarasikan republik merdeka untuk mereka di situ. Perang berlanjut hingga tahun 1994. Azerbaijan kehilangan lebih dari 20% hingga 24% dari wilayahnya, yang meliputi wilayah Karabagh, yang terdiri dari lima provinsi, ditambah lima provinsi lainnya di bagian barat negara itu, selain sebagian besar provinsi Aghdam dan Fadhuli. Mereka telah mengusir sekitar satu juta penduduk Muslim di wilayah ini. Tentara Rusia turun tangan secara langsung. Rusia terus berdiri di belakang Armenia, sebuah negara yang kecil dari sisi luas, populasi, kekuatan dan kemampuan di banding Azerbaijan.

4- Turki memainkan masalah Azerbaijan sesuai dengan rotasinya di orbit Amerika dan melaksanakan perintah-perintah Amerika. Turki menandatangani perjanjian perdamaian komprehensif dengan Armenia di Zurich, Swiss pada 10/10/2009 yang mengharuskan pengakuan perbatasan saat ini antara kedua negara, membuka perbatasan ini, membangun hubungan diplomatik, saling bertukar duta besar, membuka konsulat, mengembangkan hubungan di segala bidang, kerjasama regional dan internasional, menyelesaikan konflik regional dan internasional dengan cara damai sesuai aturan dan hukum internasional, memerangi terorisme, mengembangkan demokrasi di kawasan, menciptakan dan mengembangkan dialog untuk penelitian ilmiah dalam dokumen dan sumber sejarah, dalam isyarat untuk menyelesaikan masalah tuduhan genosida terhadap orang-orang Armenia … Perlu diketahui, Erdogan sebelum hal itu menolak kesepahaman dengan Armenia sebelum Armenia menarik pasukannya dari wilayah Azerbaijan yang diduduki di Karabagh dan sekitarnya. Diikatnya perjanjian ini datang atas permintaan langsung dari mantan Presiden AS Obama. Dalam kunjungannya ke Turki pada 6/4/2009, Obama menyerukan penyelesaian perselisihan antara Turki dan Armenia dan mewujudkan perdamaian di antara keduanya setelah hubungan antara kedua pihak terputus dan perbatasan ditutup pada tahun 1993. Erdogan pun mematuhinya dan menandatangani perjanjian perdamaian komprehensif dengan Armenia, tanpa menyinggung masalah Azerbaijan dan pendudukan Armenia atas wilayah Azerbaijan, juga tanpa menyinggung masalah imigran yang berjumlah sekitar satu juta orang Muslim Azerbaijan … Departemen Luar Negeri AS mengumumkan bahwa penandatanganan itu merupakan peristiwa bersejarah dan bahwa AS berpartisipasi di dalamnya!

5- Pada saat itu, Azerbaijan mengkritik penandatanganan perjanjian sebelum penarikan diri Armenia dari wilayah Azerbaijan yang diduduki terwujud. Azerbaijan menuntut Turki untuk memenuhi janji-janji yang dibuatnya sebelumnya untuk tidak membuka perbatasan dan menjalin hubungan dengan Armenia sebelum Armenia menarik diri dari wilayah yang didudukinya. Website Elaf pada 10/10/2009 melansir: [Zurich: Para Menteri Luar Negeri Turki dan Armenia menandatangani perjanjian bilateral di Zurich, Swiss pada Sabtu malam yang bertujuan untuk menormalisasi hubungan antara kedua pihak. Kedua menteri, Edward Nalbandian dan Ahmed Davutoglu berjabat tangan panjang setelah penandatanganan itu … Phil Gordon, Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Eropa dan Eurasia berkata, “Malam ini, Sabtu, kami berpartisipasi dalam peristiwa bersejarah” … Gordon didampingi oleh Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton, yang tiba malam Sabtu ke London sebagai bagian dari tur lima hari ke enam kota di Eropa. Sebelum kedatangannya di London, Clinton berpartisipasi di Zurich, Swiss, dalam upacara penandatanganan perjanjian Turki-Armenia … Sementara itu, seorang pejabat senior Amerika mengatakan bahwa Obama “antusias” untuk perjanjian tersebut dan dia menganggapnya sebagai langkah maju yang besar “ … Sementara itu, Azerbaijan pada Ahad esoknya mengecam kesepakatan normalisasi antara Armenia dan Turki, dan sekaligus memperingatkan bahwa pembukaan perbatasan Armenia-Turki dapat menyebabkan ketidakstabilan di Kaukasus selatan … Kementerian Luar Negeri Azerbaijan mengatakan dalam sebuah pernyataan, “normalisasi hubungan antara Turki dan Armenia sebelum penarikan pasukan Armenia dari wilayah Azerbaijan yang diduduki adalah kontradiktif secara langsung dengan kepentingan Azerbaijan dan membuang hubungan persaudaraan antara Azerbaijan dan Turki yang dibangun berdasarkan akar sejarah” … (Elaf, Sabtu, 01 Oktober 2009), selesai.

6- Tetapi Turki Erdogan mencoba mengelabuhi Azerbaijan dengan kata-kata manis tanpa tindakan, karena tidak mencantumkan syarat apapun dalam perjanjian untuk penarikan diri Armenia dari Karabagh, bahkan Turki menyetujui perjanjian itu apa adanya! Tetapi sembilan tahun kemudian, pada Maret 2017 di bawah tekanan dari Rusia, Armenia secara resmi membatalkan perjanjian tersebut karena tunduk kepada pengaruh Rusia. Dengan demikian, Amerika kehilangan kesempatan untuk mengambil Armenia dari Rusia melalui perjanjian dengan Turki itu. Bahkan Rusia memperkuat pengaruhnya di Armenia. Rusia memperkuat arsenal misilnya di pangkalannya, pangkalan Gyumri Armenia, dan kemudian menandatangani perjanjian pertahanan udara bersama pada Desember 2015 dengan Armenia dan mengerahkan satu skuadron MiG 29 dan ribuan tentara, kendaraan lapis baja, sistem pertahanan udara dan rudal jarak jauh S300 di samping pertahanan udara jarak menengah SE-6. Rusia memperkenalkannya ke pasarnya Uni Ekonomi Eurasia yang mulai berlaku pada 1/1/2015 bersama dengan Belarusia, Kazakhstan, dan Kyrgyzstan. Negara-negara ini, termasuk Armenia, menjadi pasar untuk tempat pembuangan produk Rusia atas nama pergerakan bebas barang dan jasa di segala bidang. Produk domestik bruto pasar ini lebih dari 5 triliun dolar AS, dan sebagian besarnya untuk pihak Rusia.

7- Setelah semua itu, Amerika kembali mencari cara lain untuk memperkuat pengaruhnya di Azerbaijan dan melemahkan pengaruh Rusia di situ, dan berikutnya masuk ke Armenia. Amerika menginstruksikan kepada Turki untuk memperkuat hubungan militernya bersama dengan hubungan ekonomi dan politik dengan Azerbaijan untuk memperkuat pengaruh Amerika dan untuk menekan Armenia sehingga membuka pintu untuk pengaruh Amerika, sampai terjadi bentrokan terakhir pada Juli lalu. Seolah-olah bentrokan itu merupakan tindakan yang disengaja untuk dijadikan dalih bagi Turki campur tangan secara militer dan mengirim pasukan untuk pelatihan dan manuver bersama, dan kemudian terjadilah bentrokan paling akhir secara sengit dan pendeklarasian keadaan perang di kedua sisi. Segera setelah bentrokan ini, Presiden Turki Erdogan menulis pada 27.

9/2020 di akun Twitternya: “Komunitas internasional berurusan dengan duplikasi dan belum dapat menunjukkan tanggapan yang memadai dan diperlukan terhadap serangan provokatif Armenia. Sayangnya, trio di kelompok Minsk sangat jauh dari tindakan ke arah suatu solusi. Sebaliknya terus dalam sikapnya yang mengabaikan masalah tersebut sejak hampir 30 tahun lalu”. Erdogan juga mengatakan, “mewujudkan perdamaian di kawasan akan terjadi dengan keluarnya pasukan Armenia dari wilayah Azerbaijan yang diduduki pada 1992. Dan Turki akan terus berdiri disamping teman dan saudara Azerbaijan“ (Kantor berita Turki, 28/9/2020). tetapi Erdogan berpikir bahwa orang-orang lupa! Dan melupakan bahwa dia telah mengabaikan semua itu dan menutup mata darinya ketika dia menandatangani perjanjian perdamaian perdamaian dengan Armenia pada 2009 untuk melayani Amerika tanpa menuntut penarikan diri pasukan Armenia dari wilayah Azerbaijan, dan dia tidak menyinggung hal itu meski dengan satu kata sekalipun!

8- Ketika Armenia membatalkan perjanjian ini sembilan tahun setelah penandatanganannya, dan karenanya Amerika tidak dapat memasuki Armenia, Erdogan kembali menuntut penarikan pasukan Armenia dari tanah yang diduduki ini. Dia mengkritik temannya yang dia muliakan, Putin, seperti yang dia deskripsikan, sebagaimana dia menkritik Macron. Dia berkata, “Saya membicarakan masalah ini dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Prancis Emmanuel Macron, tetapi tanpa hasil” … (Kantor Berita Turki, 1/10/2020). Dia tidak mengkritik teman dan sekutunya, Trump seperti yang dia gambarkan. Bagaimana dia akan mengkritiknya, sementara Trump yang menggerakkan dari balik tirai, bahkan dari depan tirai?! Bahkan meski Amerika bermain-main dengan cara-cara diplomatik, masalahnya sudah terbuka bagi semua orang yang memiliki pandangan dan wawasan … Di antaranya, pengumuman Presiden AS Trump dalam konferensi pers pada malam 27/9/2020 bahwa “Amerika akan berusaha untuk menghentikan kekerasan yang pecah antara Armenia dan Azerbaijan. Namun dia berkata: “Kami memiliki banyak hubungan serius di bidang ini, kami akan melihat jika kami bisa menghentikannya” (al-Jazeera, 27/9/2020). Artinya, dia akan menghentikannya ketika dia menganggap perlu untuk menghentikannya, dan dia tidak mengatakan bahwa dia akan melakukan tekanan-tekanan dan menempatkan semua bobot Amerika menekan kedua pihak untuk mengadakan solusi. Melainkan dia meringankannya dengan mengatakan, “jika kami bisa menghentikannya”. Padahal Amerika adalah negara yang jika ingin melakukan sesuatu, maka akan menempatkan semua bobotnya dan melakukan berbagai tekanan! Pernyataan Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa mereka “mengutuk dengan sangat keras eskalasi ini dan bahwa Wakil Menteri Luar Negeri Stephen Biegun mendesak menteri luar negeri Azerbaijan dan Armenia untuk menghentikan permusuhan dan untuk bekerja sama dengan ketua bersama kelompok Minsk dengan tujuan untuk kembali ke negosiasi substantif secepat mungkin. Dan dia menegaskan komitmen Washington untuk membantu kedua belah pihak untuk mencapai penyelesaian konflik yang damai dan berkelanjutan” … (al-Jazeera Qatar dan al-‘Alam al-Iraniyah, 27/9/2020). Dia menyamakan antara pihak Azerbaijan dan Armenia dalam tuntutan penghentian permusuhan, karena posisi AS menargetkan kedua negara untuk meningkatkan pengaruh di dalamnya dan melemahkan atau menghilangkan pengaruh Rusia dari keduanya. Semua ini menunjukkan bahwa Amerika secara implisit puas dengan langkah Turki dan menunjukkan bahwa Turki telah melakukan pergerakan ke arah Azerbaijan dengan instruksi dari AS. Jika tidak, mengapa juru bicara kepresidenan Turki, Ibrahim Qalin pada 29/9/2020 berkomunikasi dengan Penasihat Keamanan Nasional AS Robert O’Brien, seperti yang dilaporkan oleh Anadolu Agency seputar konflik antara Azerbaijan dan Armenia jika bukan karena Amerika yang menggerakkan perkara?

9- Selain itu, Erdogan dan para pejabatnya menegaskan akan menegosiasikan pengimplementasian resolusi Dewan Keamanan yang tidak adil dan keputusan Kelompok Minsk yang muncul dari Organisasi untuk Keamanan dan Kerja Sama Eropa pada tahun 1992 dan para pemimpinnya adalah Amerika, Rusia, dan Prancis … Padahal keputusan-keputusan itu menguntungkan kepentingan Armenia dan mengamankan gencatan senjata demi keuntungan mereka. Semua ini menegaskan bahwa ada tindakan yang disengaja untuk memanaskan suasana sehingga tindakan politik dan diplomatik bisa mendapatkan jalan untuk memberikan tekanan seperti yang diinginkan Amerika.  Perang sering kali menjadi sarana untuk menggerakkan tindakan politik dan diplomatik dan semua itu terkait dengan instruksi Amerika. Mulai ada seruan dari semua sisi untuk bernegosiasi dan menemukan solusi politik untuk masalah tersebut dan menerapkan Resolusi. Dewan Keamanan. Pejabat Turki telah berulang kali membuat pernyataan untuk mendukung Azerbaijan atas dasar penyelesaian masalah berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan. Dalam kunjungannya ke kedutaan Azerbaijan di Ankara, Menteri Luar Negeri Cavusoglu mengatakan, “Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa, Dewan Eropa dan Organisasi Eropa untuk Keamanan dan Kerja Sama seputar kesatuan wilayah Azerbaijan sudah jelas dan jika Armenia tidak mundur, masalah tidak akan terselesaikan” (al-Jazeera, 29/9/2020). Perlu diketahui bahwa keputusan-keputusan ini tidak menyentuh dataran tinggi Karabagh sepenuhnya, melainkan untuk wilayah-wilayah lain, yang mengindikasikan adanya kolusi atas isu Azerbaijan.

10- Rusia berdiri di belakang Armenia, sebuah negara yang kecil dari sisi luas, populasi, kekuatan, dan kemampuan dibandingkan dengan Azerbaijan. Rusia lah yang mendanai dan mendukung Armenia dengan senjata dan peralatan serta segala sesuatu yang diperlukan untuk bertahan hidup. Armenia merupakan anggota dari organisasi keamanan kolektif yang dipimpin oleh Rusia dan Rusia memiliki eksistensi militer yang besar di sana. Maka Rusia sulit untuk meninggalkannya. Jika tidak, maka punggung Rusia dari sisi ini akan terbuka dan membuka jalan untuk mencapai Kaukasus Utara, yang merupakan bagian dari Federasi Rusia. Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, selama percakapan telepon dengan mitranya dari Armenia, Zohrab Mnatsakyanian, mengungkapkan keprihatinannya tentang permusuhan di Karabagh, menekankan perlunya gencatan senjata” (Sputnik, 27/9/2020). Hal itu menunjukkan dukungan Rusia untuk Armenia melawan Azerbaijan. Ketika Turki mengutuk Armenia, maka juga harus mengutuk Rusia sebagai pendukung utama Armenia yang memaksakan pengaruhnya di sana dan melindungi Armenia. Karena Armenia tidak akan berani melakukan agresi kecuali dengan dukungan Rusia. Orang yang mendukung musuh adalah juga musuh. Tetapi Turki Erdogan justru membangun hubungan terbaik dengan musuh, yakni Rusia dan bersekutu dengannya di Suriah melawan penduduk muslim Suria yang memberontak melawan rezim paling jahat yang dipimpin oleh Bashar Assad. Pada saat yang sama, Turki merupakan alat Amerika untuk memanipulasi Rusia dan menggunakannya demi kepentingan Amerika. Namun Rusia tidak mudah untuk memberikan konsesi di kawasan vitalnya, seperti yang terjadi di Ukraina dan Georgia. Oleh karena itu, konflik tersebut tidak akan terselesaikan dalam pertempuran ini, dan tindakan politik dan diplomatik akan mengambil jalannya, karena lebih efektif dalam mempedaya Rusia.

11- Adapun kehadiran Prancis di sana maka itu berbeda. Prancis tidak memiliki pengaruh apapun di sana. Dan Prancis berusaha menunjukkan dirinya sebagai negara besar, dan ingin mempertahankan keanggotaannya dalam Kelompok Minsk yang dibentuk pada tahun 1992 sesuai dengan Resolusi Dewan Keamanan dan Kerjasama Eropa untuk mempertimbangkan penyelesaian masalah konflik Azerbaijan-Armenia dan menjamin tercapainya gencatan senjata secara permanen. Prancis menghadapi Turki, yang menghalangi pengaruh Eropa termasuk di dalamnya Prancis, dikarenakan Turki beredar di orbit Amerika.

Macron mengatakan dalam konferensi pers di Latvia pada 30/9/2020, “Saya mengetahui deklarasi Turki yang mendukung Azerbaijan yang menurut saya sembrono dan berbahaya. Prancis terus sangat prihatin dengan pesan yang menyulut perang yang dikirim Turki dalam beberapa jam terakhir yang menghilangkan semua hambatan di depan Azerbaijan untuk kembali menyerang Nagorno Karabagh, dan kami tidak akan menerima ini” (Reuters, 30/9/2020). Menteri Luar Negeri Turki Cavusoglu menanggapinya pada 30/9/2020 dengan mengatakan, “Solidaritas Prancis kepada Armenia sama artinya dengan mendukung pendudukan Armenia di Azerbaijan” (Anadul, 30/9/2020). Prancis berusaha menampilkan diri sebagai mediator (jujur) di dalam posisi paradoks padahal Prancis merupakan negara yang tidak ahli melakukan manuver politik. Sikapnya selalu terbuka. Jika Prancis berusaha untuk menyembunyikannya maka di situ tampak kontradiksi. Di dalam pernyataan yang dikeluarkan pasca terjadi bentrokan, juru bicara Departemen Luar Negeri Prancis Agnes von der Molle menyatakan, “Prancis sangat prihatin tentang bentrokan skala besar di Karabagh dan laporan adanya korban jiwa, terutama di kalangan warga sipil, dan Prancis menyerukan untuk segera menghentikan permusuhan dan dimulainya kembali dialog”. Dia mengatakan, “Prancis, sebagai anggota ketua bersama Kelompok Minsk, menegaskan dengan mitranya dari Rusia dan Amerika atas komitmen mereka untuk mencapai solusi negosiatif untuk konflik dalam kerangka hukum internasional“ (Sputnik, 27/9/2020). Pada saat yang sama, Prancis selalau terdorong oleh kebencian yang nyata terhadap Islam dan kaum Muslim, baik di dalam negeri ketika Prancis mengklaim memberikan kebebasan mutlak tetapi kemudian membatasinya untuk kaum Muslim dalam sikap yang secara terbuka kontradiktif, atau di luar negeri, dan Prancis sedang mengadopsi isu orang-orang Nashrani Armenia dan lainnya untuk mengeksploitasi mereka guna mengadakan pengaruh Prancis, dan mereka mudah ditipu. Prancis menipu mereka selama Perang Dunia I dan mendorong mereka melawan Daulah Utsmaniyah yang selama berabad-abad telah memelihara mereka. Prancis menjanjikan mereka tanah air di Anatolia lalu mereka berkhianat kepada Daulah Utsmaniyah dan membunuh banyak orang Muslim karena dorongan dari Prancis. Padahal kemaslahatan mereka jika mereka berpikir adalah tetap menjadi ahu dzimmah yang aman di bawah Daulah Islam yang berlaku adil kepada mereka dan tidak mengeksploitasi mereka seperti yang dilakukan Prancis dan negara-negara imperialis lainnya.

12- Mengenai resolusi Dewan Keamanan negara-negara menuntut untuk diterapkan, termasuk Turki sendiri, resolusi itu tidak membahas wilayah Karabagh, yang dikuasai oleh orang-orang Armenia dan mereka mendeklarasikan republik di situ. Resolusi pertama dikeluarkan pada tanggal 30 April 1993 no. 822 menuntut segera diakhirinya bentrokan dan permusuhan, dan menuntut gencatan senjata permanen. Resolusi itu menuntut pasukan pendudukan Armenia untuk mundur dari wilayah Zhangilan, kota Ghoradiz Kilicdar dan wilayah Azerbaijan lainnya. Tetapi tidak membahas wilayah Karabagh yang diduduki. Ada resolusi lain yang dikeluarkan pada tahun yang sama yang menegaskan resolusi sebelumnya itu. Dikeluarkan Resolusi No. 853 pada tanggal 29 Juli 1993 yang menegaskan Resolusi sebelumnya dan mengutuk penguasaan terhadap provinsi Aghdam dan wilayah lain di Azerbaijan, menuntut penarikan penuh dari daerah-daerah tersebut oleh orang-orang Armenia dan menuntut pemerintah Armenia agar menekan wilayah Karabagh untuk mematuhi Resolusi 822. Pada tahun yang sama, pada 14 Oktober, dikeluarkan Resolusi No. 874 menegaskan kembali dukungannya untuk proses perdamaian antara kedua belah pihak dan menyerukan penerimaan jadwal yang telah direvisi untuk langkah-langkah ke depan. Azerbaijan menolaknya karena mengaitkan penarikan pasukan Armenia di Karabagh dari tanah Azerbaijan yang diduduki dengan pencabutan embargo yang dijatuhkan terhadap Armenia. Pemerintah Azerbaijan mengeluhkan perlakuan terhadapnya seperti pihak yang kalah.

Jadwal yang direvisi itu mencakup proposal terkait penarikan pasukan dari wilayah yang baru diduduki dan menghilangkan semua hambatan komunikasi, transportasi dan semua masalah lain yang belum ditangani menurut Dewan, maka harus diselesaikan melalui negosiasi damai. Pada tanggal 12 November tahun yang sama, 1993, dikeluarkan Resolusi No. 884 menegaskan Resolusi sebelumnya dan mengutuk pelanggaran gencatan senjata antara kedua pihak, terutama di Zangilan dan kota Howrads. Resolusi itu menyerukan pasukan pendudukan Armenia untuk mundur dari Zangilan dan Ghoradiz, dan menyeru pasukan pendudukan untuk mundur dari wilayah Azerbaijan yang mereka duduki … Semua Resolusi Dewan Keamanan tidak menunjuk kepada penarikan dari Karabagh. Resolusi-resolusi itu dirumuskan dengan bentuk yang sudah dikaji sebelumnya dengan fokus pada wilayah Azerbaijan di luar wilayah Karabagh dan secara implisit menganggap wilayah ini bukan sebagai wilayah Azerbaijan. Semua itu maknanya, jika perundingan dan kemudian terjadi kesepakatan, maka wilayah ini, wilayah Karabagh tepatnya, akan tetap di bawah kontrol orang-orang Armenia sebagai ganti penarikan diri mereka dari wilayah Azerbaijan lainnya. Turki menyerukan penerapan Resolusi-Resolusi ini yang tidak menuntut penarikan orang-orang Armenia dari wilayah Karabagh. Sebagaimana Turki juga menuntut penerapan Resolusi Dewan Keamanan di Suriah yang tidak menyentuh rezim bahkan malah menegaskan kelangsungan hidup rezim dan menjaga identitas sekulernya. Dan sebagaimana Turki juga menuntut penerapan solusi dua negara di Palestina, yang mengakui perampasan oleh Yahudi atas 80% dari wilayah Palestina  … Begitulah, masalah Karabagh terombang-ambing. Gencatan senjata menjadi kemenangan bagi orang-orang Armenia.  Kelompok Minsk belum mengumumkan tentang bagaimana solusinya dan apa yang akan dinegosiasikan kecuali mengeluarkan Resolusi Dewan Keamanan itu. Tetapi dapat dipahami dari konteks, situasi dan keadaan bahwa mereka ingin mendapatkan pengakuan dari Azerbaijan atas pendudukan Armenia atas provinsi-provinsi lima wilayah Karabagh, yang akan benar-benar dikosongkan dari penduduk Muslimnya dan digantikan oleh orang-orang kafir dari Nashrani Armenia supaya Armenia menarik diri dari lima provinsi lainnya dan wilayah pendudukan dari provinsi Aghdam dan Fadhuli. Begitulah isu itu akan diselesaikan. Seperti yang terjadi di Palestina, yang mana Yahudi dan Amerika yang ada di belakang mereka, mengambil pengakuan dari Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dan rezim yang ada di negeri-negeri Arab dan Islam atas perampasan sekitar 80% dari wilayah Palestina oleh orang Yahudi, dan jadilah negosiasi hanya dilakukan atas 20% wilayah yang diduduki oleh orang Yahudi sejak tahun 1967. Bahkan itu diserahkan oleh para penguasa pengkhianat. Hal itu ketika mereka menerima gencatan senjata dan menerima Resolusi 242 dan 243 yang dikeluarkan oleh Dewan Keamanan, yang mewajibkan penarikan entitas Yahudi hanya dari tanah yang didudukinya, bahkan diserahkan kepadanya pada tanggal 5 Juni tahun itu.

13- Perhatian Turki ini bukan pertanda baik. Setiap kali Turki Erdogan ikut campur dalam suatu masalah, itu akan mengorbankan penduduknya dan untuk kepentingan Amerika, seperti yang terjadi di Suriah. Ketika Turki memberikan tekanan pada faksi-faksi bersenjata untuk menerima perjanjian untuk mengurangi eskalasi dan melakukan gencatan senjata, sesuatu yang tidak dipatuhi oleh rezim Suriah atau orang yang mendukungnya secara langsung yakni rezim Iran dan para pendukungnya serta Rusia, sampai faksi-faksi ini diusir darinya dan diserahkan kepada rezim. Demikian pula yang terjadi di Libya, ketika Turki memberikan dukungan kepada pemerintah as-Sarraj hingga jika pasukan as-Sarraj maju ke arah Sirte dan Jufrah, kemudian Turki menghentikan dukungan dan meminta as-Sarraj untuk melakukan gencatan senjata permanen dan bernegosiasi dengan pihak lain, yaitu pihak Haftar. yang dianggap oleh Turki ilegal! Maka tidak dijauhkan kemungkinan, dukungan Turki akan memberikan tekanan kepada Azerbaijan untuk melunakkan sikapnya.

Dan inilah yang ditunjukkan oleh pernyataan para pejabat Turki, karena terjadi kebuntuan dalam negosiasi yang dipimpin oleh Kelompok Minsk, terutama Amerika, sampai Azerbaijan memberikan konsesi dalam masalah Karabagh, sambil Turki mengulang-ulang janjinya untuk mengembalikan Karabagh dari orang-orang yang mendudukinya. Dan Amerika, Rusia dan Prancis menganggap Karabagh sebagai wilayah Armenia, sesuai dengan nada seruan mereka, media mereka yang selalu mendukung Armenia, dan Resolusi Dewan Keamanan yang dikeluarkan oleh ketiga negara tersebut dan disetujui oleh negara-negara lain di Dewan Keaman.  Dan di wilayah Karabagh telah dibentuk republik sendiri, seolah-olah merdeka dari Armenia. Hal itu sehingga menyulitkan negosiasi agar wilayah ini tidak lepas dari entitas independen tersebut! Dan agar Armenia tidak bertanggung jawab secara langsung dan menghindarkan tekanan dari Armenia jika tekanan dilakukan terhadapnya. Sikap Turki Erdogan tidak dapat diandalkan dalam masalah ini dan di tempat lain. Karena Turki Erdogan tidak memberikan dukungan sejak perang yang meletus antara kedua pihak tiga puluh tahun yang lalu. Azerbaijan tetap sendirian, sehingga tidak memenangkannya. Oleh karena itu dikhawatirkan dukungan terakhir itu posisinya memaksakan hegemoni terhadap keputusan Azerbaijan dan kemudian Azerbaijan pun menyerah!

14- Azerbaijan merupakan negeri Islam dan mayoritas penduduknya adalah Muslim, tetapi sistemnya sekuler, dan merupakan perpanjangan dari rezim komunis sebelumnya dalam menjauhkan agama dari negara dan masyarakat. Azerbaijan dibebaskan bersama dengan Armenia pada masa pemerintahan Khalifah Rasyidun ketiga Utsman bin Affan, radiyahllah ‘anhu. Tidak bisa mengandalkan Turki atau Iran untuk menyelamatkan dan membebaskan negeri-negeri Islam dari cengkeraman Amerika atau Rusia. Turki dan Iran justru bekerja sama dengan Amerika atau Rusia. Tidak ada jalan keluar bagi kaum Muslim kecuali dengan kembalinya Khilafah Rasyidah kedua yang mengikuti manhaj kenabian yang telah dikabargembirakan oleh Rasulullah saw:

إِنَّكُمْ فِي النُّبُوَّةِ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ، فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ مُلْكاً عَاضّاً، فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ جَبْرِيَّةً، فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ

“Kalian ada pada masa kenabian, dan akan tetap ada sesui kehendak Allah. Kemudian Allah akan mengangkatnya jika berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian dan itu akan tetap ada sesuai kehendak Allah.  Kemudian Allah akan mengangkatnya jika berkehendak mengangkatnya. Kemudian  akan ada kekuasaan yang menggigit (mulkan ‘âdhdhan) dan akan tetap ada sesuai kehendak Allah. Kemudian Allah akan mengangkatnya jika berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan diktator (mulkan jabriyyatan) dan akan tetap ada sesuai kehendak Allah. Kemudian Allah akan mengangkatnya jika berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian”.

Sungguh benar Rasulullah saw.

08 Shafar 1442 H
05 Oktober 2020 M

http://www.hizb-ut-tahrir.info/ar/index.php/ameer/political-questions/70903.html