August 4, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Episode Keenam

al-ustadz Hamad Thabib – al-Quds
Koran ar-Rayah, Rabu, 16 September 2020

Kita telah meninjau hal-hal terpenting yang mendistorsi masyarakat di Amerika, mengancam persatuan dan federasinya dengan keruntuhan, dan setelah meninjau beberapa pendapat dari para pemikir, ekonom, politisi, dan penulis, yang mana mereka memprediksi runtuhnya federasi ini, disintegrasi dan fragmentasinya di masa mendatang seperti yang terjadi dengan Uni Soviet. Setelah itu, kita sampai pada pertanyaan besar dan luas di sini, yaitu, apa yang terjadi setelah runtuhnya Amerika dan disintegrasi federasinya? Bagaimana setelah jatuhnya kepala sistem kapitalisme di dunia kapitalis? Apa alternatif yang ditunggu umat manusia, terutama karena banyak pengikut kapitalisme meninggalkannya di awal abad terakhir, ketika sosialisme muncul, seperti yang terjadi di negara-negara Eropa Timur, dan seperti yang terjadi dengan pengikut partai-partai sosialis di Eropa Barat dan Amerika, kemudian mereka meninggalkan sosialisme setelah keruntuhannya di akhir abad yang sama.

Apa alternatifnya, ketika umat manusia telah menderita karena kerusakan kapitalisme, bahkan di rumahnya sendiri, dan telah terjadi kegelisahan besar untuk meninggalkannya dikarenakan ketidakadilannya, dan karena belum mencapai apa yang telah diserukannya selama bertahun-tahun berupa kebebasan dan hak asasi manusia, bahkan di pusat ideologi ini yakni Eropa dan Amerika? Apa alternatifnya setelah rakyat bangkit dan menghancurkan banyak pilar dan gagasan utamanya, seperti kebebasan pasar, dan setelah mereka mulai menyerukan penghancuran modal dan bisnis di Wall Street, pasar keuangan London dan Paris dalam demonstrasi massa besar-besaran yang mencapai kota paling bergengsi di negara-negara tersebut?

Kebenaran mencolok yang kami temukan, adalah bahwa ideologi-ideologi manusia tidak mampu membangun sistem yang sesuai dengan manusia, meyakinkan akal mereka, dan mereallisasi kebahagiaan, keadilan dan ketenteraman dalam hidup mereka. Sebabnya adalah bahwa sistem dan ideologi ini adalah hasil dari akal manusia yang kurang. Jika kita melihat sejarah kemunculan ideologi-ideologi rendah dan lemah ini, niscaya kita akan melihat bahwa sistem kapitalis muncul sebagai respon naluriah terhadap penindasan Gereja, kaisar dan agamawan. Ketika para pemikir dan pemimpin ingin menerapkan sistem yang mengatur urusan kehidupan, mereka bertolak dari ide yang dipengaruhi oleh realita sebelumnya, dan tidak dibangun di atas akal dengan benar. Mereka dipengaruhi oleh perbudakan di bawah gereja. Maka mereka menyerukan kebebasan, dan mereka jadikan sebagai hal yang paling menonjol dalam hidup mereka, bahkan mereka menjadikannya idola pertama dalam semua orientasi mereka. Jadi ide kebebasan adalah dasar dari semua hukum kapitalis, bahkan merupakan asas kehidupan di Barat.

Adapun sosialisme, itu juga merupakan tanggapan terhadap ketidakadilan kapitalisme, dan teori untuk jalan membebaskan diri darinya. Yang mana di Eropa, muncul pemikir, yang mempelajari sistem kapitalis, dan menyimpulkan bahwa sistem kapitalisme itu tidak adil sebab melahirkan kembali perbudakan finansial dan melahirkan kelas tunggal yang mengendalikan semua fasilitas kehidupan. Dengan kata lain, mereka keluar dengan kesimpulan, bahwa kapitalisme yang dibangun di atas ketidakadilan Gereja dan perbudakannya adalah lebih memperbudak dan lebih tidak adil daripada Gereja. Oleh karena itu harus membebaskan diri darinya dengan ide dan sistem baru, yaitu sistem sosialis yang menghilangkan karakter kontrol dan borjuasi dari kaum kapitalis  …

Hasilnya adalah bahwa ideologi baru itu telah jatuh ke dalam kesalahan fatal yang sama yang telah dilakukan oleh kaum kapitalis sebelumnya. Yaitu bahwa mereka membangun pemikiran baru mereka berdasarkan reaksi naluriah, bukan berdasarkan akal.

Alternatif untuk bangsa-bangsa kalah dan terlantar ini adalah ideologi yang didasarkan pada akal sehat dan pemikiran yang sehat, ideologi rabbani yang mengetahui apa yang baik bagi manusia dan membuat umat manusia bahagia, dan itu adalah ideologi Islam. Islam adalah satu-satunya agama rabbani yang lengkap dan komprehensif. Dan satu-satunya yang dibangun berdasarkan akal, yakni berdasarkan pemikiran yang benar yang menuntun kepada meyakinkan akal dan menegakkan bukti atasnya, dan menuntun kepada petunjuk, bimbingan. Umat   manusia telah bereksperimen dengan ideologi ini selama bertahun-tahun yang panjang. Di bawahnya, umat manusia hidup dalam kehidupan yang penuh dengan ketenteraman, integritas dan keadilan …

Nyatanya, banyak orang di Eropa dan Amerika saat ini mengikuti Islam semata mengikuti kesimpulan rasional. Mereka belum melihat kebaikan dan keadilannya di bawah sistem politik yang praktis. Lalu bagaimana jika orang-orang ini melihat kebaikan, keadilan dan keistiqamahan Islam di bawah negara yang menerapkannya secara praktis?!

Banyak penulis Barat telah memuji agama Islam, memuji keistiqamahan dan keadilannya. Mereka memberikan kesaksian yang benar bahwa Islam adalah agama yang benar, dan yang mampu membebaskan umat manusia dari kezaliman yang mereka jalani. Di antara mereka adalah pemikir dan penulis orientalis Jerman, Zigrid Hunke dalam bukunya yang terkenal “The Sun of Arabia Shines on the West” yang mana dia berkata: “Islam adalah agama terbesar di dunia, yang toleransi dan adil. Kami mengatakannya tanpa prasangka dan tanpa membiarkan hukum-hukum yang zalim menodainya dengan noda hitam…”.

Seorang orientalis Inggris Robert Smith berkata, “Muhammad membawa Kitab yang menjadi tanda kekuasaan Allah dalam sastra, konstitusi untuk hukum, shalat, agama dan dunia pada saat yang sama. Dan al-Qur’an adalah Kitab yang mampu mengadakan solusi bagi persoalan-persoalan umat manusia secara keseluruhan”. Seorang orientalis Austria Joseph Albermann mengatakan di dalam bukunya “The Cradle of Islam”: “Islam adalah sistem ideal yang unik; yang dibutuhkan dunia di zaman kita sekarang … Betapa kita hari ini membutuhkan adanya di tengah kita semisal pria yang agung (Muhammad). Dialah benar-benar orang pertama yang mengakhiri diskriminasi rasial dengan perkataan yang sederhana dan komprehensif:

«الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ»

“Seorang Muslim adalah saudara Muslim lainnya”.

Sungguh dia telah menyelesaikan masalah ini hanya dalam tiga kata. Adapun saat ini, masalah diskriminasi rasial, telah diadakan puluhan konferensi dan ditulis ratusan buku yang mencoba untuk mengatasinya tetapi gagal”. Orientalis Prancis De Sacy percaya bahwa “tidak ada agama di dunia seperti Islam, dalam kekomprehensifan, vitalitas dan validitasnya untuk setiap waktu dan tempat”. Orientalis Spanyol Arik Bentam mengatakan dalam bukunya “Life”, “Islam adalah agama kelembutan, harmoni, kejujuran  dan amanah … Jika kita adil terhadap diri kita sendiri, niscaya kita akan menyatukan barisan dengan kaum Muslim, dan niscaya kita akan menolak sektarianisme buta dalam diri kita yang diadakan untuk kita oleh orang yang memiliki ambisi ketuhanan dan disusun untuk kita oleh orang yang didorong oleh syahwatnya untuk menyimpang dari kebenaran …”.

Allah SWT telah memberikan kesaksian agung terkait kebengkokan dan penyimpangan dari jalan petunjuk. Allah SWT berfirman:

قَدْ مَكَرَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَأَتَى اللَّهُ بُنْيَانَهُم مِّنَ الْقَوَاعِدِ فَخَرَّ عَلَيْهِمُ السَّقْفُ مِن فَوْقِهِمْ وَأَتَاهُمُ الْعَذَابُ مِنْ حَيْثُ لَا يَشْعُرُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mengadakan makar, maka Allah menghancurkan rumah-rumah mereka dari fondasinya, lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas, dan datanglah azab itu kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari” (TQS an-Nahl [16]: 26).

Dunia kapitalis nasibnya akan runtuh segera. Tahun-tahun mendatang adalah tahun-tahun agama yang benar. Dan dengan izin Allah ‘azza wa jalla, agama yang benar itu (Islam) akan menjadi penyelamat seluruh umat manusia dari kejahatan ideologi kapitalisme, dan dari kejahatan negara-negara yang menganutnya, terutama Amerika Serikat.

Baca episode 5

https://www.alraiah.net/index.php/political-analysis/item/5492-america-and-disintegration-factors-multiple-and-renewable-sixth-and-final-episode