October 18, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Hundreds of thousands of Rohingya refugees remain in Bangladesh after fleeing the violence in Myanmar. Photograph: Fred Dufour/AFP/Getty Images

Pengakuan Dua Orang Tentara Myanmar Melakukan Genosida Terhadap Muslim Rohingya

BerandaIslam.com – Sebagaimana dikutip dari The Guardian, Selasa (8/9), dua tentara Myanmar telah menjelaskan secara rinci pembunuhan terselubung, pemerkosaan, dan penguburan massal Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine. Hal ini disampaikan dalam kesaksian video yang dapat digunakan sebagai bukti kejahatan terhadap kemanusiaan di pengadilan pidana internasional (ICC).

Pengakuan tersebut, dilihat oleh New York Times dan organisasi hak asasi manusia Fortify Rights. Pte Myo Win Tun dan Pte Zaw Naing mengatakan bahwa mereka diperintah untuk “membunuh semua yang Anda lihat”, serta menghancurkan puluhan desa.

Myo Win Tun berkata: “Kami menembak semua orang tanpa pandang bulu. Kami menembak pria Muslim di dahi dan menendang tubuhnya ke dalam lubang. ” Ia juga mengakui telah memperkosa seorang wanita, dan menguburkan delapan wanita, tujuh anak dan 15 pria dalam satu kuburan secara massal. Zaw Naing Tun turut juga menggambarkan bagaimana ia diperintah oleh komandannya untuk “memusnahkan” orang Rohingya.

Ini adalah pertama kalinya personel militer Myanmar mengaku melakukan kekerasan terhadap kelompok etnis minoritas mulai Agustus 2017. Menurut PBB dan organisasi hak asasi manusia hal ini termasuk aktivitas genosida.

Kedua tentara tersebut dilaporkan telah meninggalkan militer dan menyeberang ke Bangladesh dan para prajurit tersebut akan diangkut ke Den Haag di Belanda oleh pejabat ICC yang sedang menyelidiki apakah Myanmar melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan melalui penganiayaan massal dan deportasi paksa Muslim Rohingya. Kesaksian mereka bisa dijadikan bukti atau bisa disebut sebagai saksi.

Kesaksian tentara tersebut mendapatkan penolakan berulang oleh militer dan pemerintah Myanmar, termasuk penasihat negara Aung San Suu Kyi, bahwa telah genosida terjadi di Rakhine. Mereka beralasan operasi militer hanya menargetkan militan Rohingya yang menyerang pos perbatasan polisi.

Aung San Suu Kyi, pemenang hadiah Nobel perdamaian, berpidato di pengadilan, meminta kasus itu dibatalkan dan berjanji ke pengadilan militer setiap personel yang telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia. Namun, hanya sedikit tokoh militer yang diadili karena peran mereka dalam kekerasan tersebut dan mereka yang telah, dan telah dinyatakan bersalah, hanya menerima hukuman penjara singkat.

750.000 orang Rohingya yang melarikan diri dari negara itu masih belum dapat kembali ke rumah mereka karena kekhawatiran akan keselamatan mereka, meskipun pemerintah Myanmar berjanji untuk memulangkan mereka dengan selamat. Mereka terus hidup dalam kondisi jorok di kamp-kamp pengungsi di Cox’s Bazar di Bangladesh, di mana hak untuk bekerja mereka ditolak.

Artinya perdamaian yang dielu-elukan patut dipertanyakan. Sikap Myanmar terhadap komunitas Muslim Rohigya tidak sesuai dengan penobatan perdamaian yang didapatkan. Semenjak umat Islam terpecah belah menjadi beberapa negara, khususnya di daerah-daerah minoritas sering menjadi korban ketidakadilan[]

(WI)

Sumber : https://www.theguardian.com/world/2020/sep/08/myanmar-soldiers-tell-of-rohingya-killings-rapes-and-mass-burials