October 24, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Radhiyah Abdullah

Setelah kita berbicara banyak tentang kesehatan individu di bidang pencegahan, sekarang  kita akan beralih ke bidang lainnya.

2- Pengobatan

Rasulullah saw memerintahkan kaum Muslim untuk berobat dalam bentuk perintah sunnah. Rasul saw memberitahu kaum Muslim bahwa Allah SWT tidaklah menurunkan penyakit kecuali juga menurunkan obatnya baik manusia berhasil mencapai obat ini atau belum mencapainya. Dan jika obat itu cocok dengan penyakitnya, maka orang yang sakit itu dengan izin Allah sembuh. Di dalam hal ini ada dorongan bagi manusia untuk mencari pengobatan dan kesembuhan dengan izin Allah SWT yang menciptakan di dalam obat adanya khashiyat menyembuhkan. Rasulullah saw bersabda dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim di dalam Shahih Muslim:

«لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ»

“Setiap penyakit ada obatnya, dan jika obat itu mengenai penyakit dengan izin Allah SWT penyakit itu sembuh”.

Dan di dalam hadits Usamah bin Syuraik yang ia marfu’kan, Rasul saw bersabda:

«تَدَاوَوْا عِبَادَ اللَّهِ، فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يُنَزِّلْ دَاءً إِلا أَنْزَلَ مَعَهُ شِفَاءً، إِلا الْمَوْتَ وَالْهَرَمَ»

“Berobatlah hai hamba-hamba Allah sebab Allah ‘azza wa jalla tidak menurunkan penyakit kecuali juga menurunkan bersamanya obat kecuali kematian dan kehancuran” (HR Ahmad, al-Bukhari di dalam al-Adab al-Mufrad, dan al-Arba’ah dan dishahihkan oleh at-Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah dan al-Hakim).

Oleh karena itu, di dalam obat itu ada kebaikan meskipun penyakit itu dari Allah SWT karena obatnya juga berasal dari Allah SWT. Zaid bin Aslam menyatakan bahwa Rasulullah saw bersabda:

«أَنْزَلَ الدَّوَاءَ الَّذِي أَنْزَلَ الأَدْوَاءَ»

“Zat yang menurunkan obat adalah Zat yang menurunkan penyakit”.

Sebagaimana Rasul saw juga mendapatkan pengobatan dalam sakit Beliau di akhir hayat Beliau. Aisyah ra berkata:

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ (صلى الله عليه وآله وسلم) كَانَ يَسْقَمُ عِنْدَ آخِرِ عُمْرِهِ، أَوْ فِي آخِرِ عُمْرِهِ، فَكَانَتْ تَقْدَمُ عَلَيْهِ وُفُودُ الْعَرَبِ مِنْ كُلِّ وَجْهٍ فَتَنْعَتُ لَهُ الأَنْعَاتَ وَكُنْتُ أُعَالِجُهَا لَهُ

“Rasulullah saw sakit pada akhir hayat beliau, dan datang delegasi orang arab dari segala penjuru kepada beliau dan menggambarkan berbagai obat dan aku mengobati beliau dengannya (HR Ahmad, dinilai hasan oleh Hamzah Ahmad az-Zain).

Adapun mengapa Rasulullah saw memerintahkan berobat di dalam hadits-hadits itu dalam bentuk mandub dan bukan wajib, hal itu karena tidak ada qarinah di dalam hadits-hadits itu yang menunjukkan ketegasan dalam perintah tersebut dan menunjukkan bahwa itu adalah untuk wajib. Semata adanya perintah untuk berobat di dalam hadits-hadits itu tidak memberi faedah wajib kecuali disertai dengan qarinah jazim. Di sini, perintah itu hanya berfaedah anjuran (nadab). Karena hadits-hadits ini tidak lain hanyalah pemberitahuan bahwa setiap penyakit ada obatnya, dan petunjuk untuk mencari obat guna mendapatkan kesembuhan.

Sebagaimana ada hadits-hadits lain yang menunjukkan bolehnya tidak berobat. Seperti sabda Rasul saw:

«‏يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعُونَ أَلْفًا بِغَيْرِ حِسَابٍ»، قَالُوا: “وَمَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟” قَالَ (صلى الله عليه وآله وسلم): «هُمْ الَّذِينَ لا يَكْتَوُونَ وَلا يَسْتَرْقُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ» رواه مسلم

“Ada 70 ribu dari umatku yang masuk surga tanpa hisab”. Mereka berkata: “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Beliau saw bersabda: “Mereka adalah orang-orang yang tidak melakukan kay dan tidak melakukan mantera-mantera dan mereka bertawakal kepada Rabb mereka” (HR Muslim).

Meninggalkan ruqyah dan kay adalah meninggalkan berobat, karena sabda Rasulullah saw:

«إِنْ كَانَ فِي شَيْءٍ مِنْ أَدْوِيَتِكُمْ شِفَاءٌ، فَفِي شَرْطَةِ مِحْجَمٍ أَوْ لَذْعَةٍ بِنَارٍ، وَمَا أُحِبُّ أَنْ أَكْتَوِيَ»

“Jika dalam sesuatu dari pengobatan kalian ada obat, maka itu ada di dalam bekam dan kay, dan aku tidak suka dikay”. (HR al-Bukhari).

Namun demikian, Rasul saw memberitahukan bahwa mereka masuk surga tanpa hisab karena mereka menyerahkan masalah itu kepada Rabb mereka dan mereka mempercayakan semua urusan mereka kepada Rabb mereka.

Dalam hadits lain riwayat al-Bukhari bahwa Ibnu Abbas ra berkata kepada Atha bin Abi Rabbah:

“أَلاَ أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟”، قالَ عطاءٌ: “بَلَى”، قَالَ (رضي الله عنه): “هَذِهِ الْمَرْأَةُ السَّوْدَاءُ أَتَتْ النَّبِيَّ (صلى الله عليه وآله وسلم) فَقَالَتْ:”إِنِّي أُصْرَعُ وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ، فَادْعُ اللَّهَ لِي”. قَالَ (صلى الله عليه وآله وسلم): «إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ، وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ». فَقَالَتْ: “أَصْبِرُ”. فَقَالَتْ: إِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لِي أَنْ لا أَتَكَشَّفَ” فَدَعَا لَهَا”

“Maukah kamu saya tunjukkan wanita penghuni surga?” Atha’ berkata: “benar”. Ibnu Abbas berkata: “Wanita berkulit hitam ini datang kepada Nabi saw, lalu dia berkata: “saya punya penyakit epilepsi dan saya tersingkap pakaian saya, maka berdoalah kepada Allah untukku”. Nabi saw bersabda: “jika engkau suka engkau bersabar dan untukmu surga, dan jika engkau suka aku berdoa kepada Allah agar menyembuhkanmu”. Wanita itu berkata: “saya memilih bersabar”. Wanita itu berkata lagi: “saya tersingkap pakaian saya jika epilepsi saya kambuh jadi doakan kepada Alah agar saya tidak tersingkap”. Maka Beliau pun mendoakannya”.

Pemberian pilihan oleh Rasul saw kepada perempuan itu antara bersabar atas epilepsi dengan imbalan surga, dan Rasul saw berdoa untuk wanita itu agar Allah menyembuhkannya dari penyakit epilepsi, hal itu menunjukkan bolehnya menginggalkan berobat. Dan karena kuatnya dorongan dari Rasul saw untuk berobat maka perintah berobat yang ada di dalam hadits-hadits sebelumnya memberi faedah untuk nadab dan bukan semata kebolehan (ibâhah).

Ini berkaitan dengan pengobatan dan mencari pengobatan. Dan pada episode selanjutnya kami akan membahas tentang kewajiban negara menyediakan pengobatan untuk rakyat.[]

Sumber :

http://www.hizb-ut-tahrir.info/ar/index.php/radio-broadcast/others/71755.html