May 7, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Dilansir dari alariah.net, Ibrahim Mohamed menyatakan bahwa peristiwa berdarah di Sudan sebagai bentuk kesukuan dan rasisme yang telah difokuskan dan dipelihara oleh kafir penjajah secara terus-menerus demi melanggengkan rencana jahat untuk melemahkan umat dan merampok kekayaan negerinya. Hal tersebut beliau ungkapkan di dalam tulisan yang berjudul “Peristiwa Berdarah di El-Geneina Sudan dan Perang Generasi Keempat” pada situs laman alariah.net, Rabu (14/4). (alariah.net, 14/4/2021)

Sebagaimana diberitakan di beberapa media bahwa Gubernur Darfur Barat, Muhammad Abdullah Al-Duma, mengumumkan bahwa jumlah korban tewas akibat bentrokan antar suku di wilayahnya meningkat menjadi 132 orang tewas dan 208 luka-luka.

Masyarakat El-Geneina hidup dalam masa-masa sulit. Mereka berada dalam keadaan takut dan panik di tengah suara bom, meriam dan granat, disebabkan terjadinya perang antar suku Masalit dan Arab terbaru. Mereka menggunakan senjata dan kemampuan yang besar yang mungkin tidak dimiliki oleh pasukan pemerintah Sudan itu sendiri.

Seperti yang telah diketahui bahwa susunan kependudukan di penjuru Kota El-Geneina merupakan pemicu utama munculnya fenomena rasisme dan sukuisme. Dilansir dari pernyataan Darfur 24, wilayah Hay Al-Jabal yang menjadi sentral pertempuran itu, telah dirancang berdasarkan kesukuan.

Dari fakta-fakta diatas seakan-akan telah menunjukkan hilangnya perhatian pemerintah untuk menyelesaikan masalah konflik.

“Hal yang mengalihkan perhatian adalah hilangnya peran pemerintah untuk menghentikan pertumpahan darah ini meskipun tidak kurang dari 300 unit mobil dinas keamanan telah disiapkan menurut pernyataan Gubernur Darfur Barat. Ia juga menegaskan dalam konferensi persnya bahwa Menteri Dalam Negeri tidak mengetahui apa yang terjadi di El-Geneina selama kejadian baru-baru ini yang dimulai pada (5/4), lalu dia berkata, “Kami meminta pasukan tambahan kepada pemerintah, akan tetapi pemerintah tidak memberi kami seorang prajurit pun.” Tulis Ibrahim pada makalah tersebut.

Sedangkan menurut laporan yang dikeluarkan oleh Ketua Asosiasi Pengacara Darfur, ia menyatakan bahwa mereka akan memimpin gerakan internasional dan regional untuk ikut campur dalam peristiwa El-Geneina. Ia menilai peristiwa tersebut menjadi indikasi runtuhnya negara beserta aparaturnya (Nawras News, 8/4).

Siapakah dalang di balik peristiwa ini? Siapakah yang mempersenjatai suku-suku ini dengan senjata berat? Mengapa negara tidak ikut campur sejak awal kejadian?

“Gubernur Darfur Barat menyatakan dalam konferensi persnya bahwa peristiwa ini dilakukan oleh milisi yang datang dari Chad ke Darfur untuk mengacaukan keamanan pada saat Komite Jaksa Agung mundur dan para hakim mengosongkan seluruh kantor kejaksaan. Pada saat yang sama, utusan Inggris bertemu dengan Kepala Gerakan Pembebasan Sudan, Minni Arko Minawi di Khartoum pada Kamis (8/4).” Tulis Ibrahim.

Kedua belah pihak membahas peristiwa El-Geneina dan penundaan pembentukan pasukan gabungan nasional untuk menjaga keamanan (Al-Manshah, 8/4). Sementara menurut pernyataan Menteri Pertahanan Letnan Jenderal Yassin Ibrahim bahwa Dewan Keamanan dan Pertahanan memutuskan untuk membentuk kekuatan gabungan dari pasukan reguler dan semua pihak proses perdamaian (Surat Kabar Al-Tayyar, 11/4).

Pertanyaannya, mengapa negara tidak melaksanakan tugasnya sejak awal mula kejadian tersebut? Apakah perkara itu membutuhkan kekuatan gabungan? Apakah negara tidak mampu menghentikan pertempuran antara dua individu dan menjaga keselamatan masyarakat?

Akan tetapi, sistem pemerintahan federal yang diterapkan dan didasarkan pada kesukuan memang akan menghasilkan perang seperti ini. Inilah yang dikemukakan oleh anggota Dewan Kedaulatan, Ketua Front Revolusioner, Al-Hadi Idris dalam Surat Kabar Khartoum yang terbit pada Ahad (11/4).

“Sesungguhnya Islam yang agung telah mengatasi masalah kesukuan dan menjadikan ikatan pemersatu diantara umat Islam adalah persaudaraan Islam. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat” (Q.S. Al-Hujurat : 10)… Nabi SAW menghapus segala bentuk diskriminasi dengan aturan Islam. Maka Islam sendiri sejatinya mampu menyatukan bangsa-bangsa ini dan menjadikan mereka satu bangsa dalam naungan negara Khilafah Rasyidah” Tutup Ibrahim di akhir tulisannya. [] (WI)

Sumber :https://www.alraiah.net/index.php/news-tours/news/item/5986-2021-04-13-22-09-32