May 6, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

“Amerika dan antek-anteknya dari berbagai negara, organisasi dan komite, senantiasa bekerja dengan kecepatan tinggi dan koordinasi yang tak tertandingi melalui konspirasi “solusi politik” yang disusun Amerika demi kepentingan dan pengaruhnya di Suriah, sehingga ia dapat merancang akhir dari revolusi ini sesuai dengan kehendak dan keinginannya.” Tulis Ustadz Ahmad Muaz di dalam artikel yang berjudul “Revolusi Suriah Menghadap Pemerintah, Faksi Fungsional, Makar dan Konspirasi Asing”padalaman al-ariah.net (14/4).

Namun apa yang diharapkan Amerika masih terkendala dengan adanya inkubator masyarakat untuk revolusi masih menjadi angka besar yang sulit ditaklukkan. Terlebih lagi apabila masyarakat Suriah dipersenjatai dengan kesadaran akan ‘alur cerita’ yang dibuat untuk mereka.

“Respon umat untuk menghadapi konspirasi-konspirasi tersebut adalah hanya dengan mengadopsi rancangan politik Islam yang dikemukakan oleh pelopor yang tidak berbohong pada umat (Hizbut Tahrir) yang juga telah menerbitkan catatan politik ketiga untuk penduduk Syam terkait pembacaan fakta revolusi; (termasuk) analisis dan solusi.” Tulis Ahmad Muaz.

Ia menjelaskan bahwa (Hizbut Tahriri) telah menunjukkan tujuan rezim internasional dan para anteknya dalam menghadapi Revolusi Suriah, baik berupa solusi politik, konstitusi baru, pemerintahan transisi, maupun ‘komedi’ pemilu, hanyalah kosmetik yang mempercantik rezim kriminal yang tidak akan pernah berubah.

“Bahkan akan langgeng beserta institusi keamanan dan militer yang dipimpin anak panah (pion) Amerika, dengan judul tetap: “Tatacara Menipu Masyarakat Ketika Urusan Mereka Dikendalikan oleh Pihak Lain.” Jelas Ahmad.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Ahmad Muaz bahwa Suriah baru-baru ini menyaksikan gerakan politik yang hebat, seiring dengan peringatan revolusi yang telah mencapai tahun kesepuluh, juga upaya dari negara-negara yang ikut campur dalam urusan Suriah untuk memecahkan kebuntuan yang telah ada selama hampir satu tahun.

Pada awal bulan Maret, beberapa pertemuan politik digelar di beberapa ibu kota, kunjungan Menlu Turki ke Qatar dan pertemuan para pejabat Qatar disertai dengan pernyataan untuk memberikan dukungan material kepada pemerintah secara de facto di bagian Utara yang dibebaskan.

Di saat yang sama, Menteri Luar Negeri Rusia mengunjungi Kerajaan Arab Saudi, ia menyarankan upaya Rusia untuk mendukung rezim Suriah, mencabut pengepungan, dan mengembalikannya ke Liga Arab. Berbagai kunjungan dan pertemuan ini, mengeluarkan satu pernyataan, bahwa mereka semua mendukung solusi politik dan implementasi Resolusi PBB 2254, dan hal tersebut sebagai satu-satunya solusi untuk “krisis Suriah.”

Di sisi lain, terdapat gerakan media dan pembicaraan tentang dewan militer, Riyad Farid Hijab, diktator Bashar dan istrinya positif Covid-19 dan bocoran media tentang kepergiannya ke Rusia, juga tentang Eropa yang meributkan peradilan diktator Syam dan pilar-pilar rezimnya.

“Semua ini terjadi pada saat wilayah rezim menderita kehidupan yang buruk sebagai akibat dari nilai tukar mata uang Suriah terhadap dolar merosot tajam. Hilangnya bahan-bahan pokok dari pasar, meningkatnya antrian roti dan bahan bakar, listrik yang padam dan terhentinya angkutan umum di beberapa daerah.” Pungkas Ahmad di dalam tulisannya.[] (WI)

Sumber : https://www.alraiah.net/index.php/political-analysis/item/5985-2021-04-13-22-01-00