May 7, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Dikutip dari Alariah.net (7/4) Dr. Abdullah Badziib telah memberikan analisa bahwa Amerika berada dibalik perundingan perang Yaman. Dalam artikel yang berjudul “Mengapa Houti Menolak Inisiatif Arab Saudi Untuk Mengakhiri Perang Yaman?” Ia menyatakan “karena sesungguhnya kafir Barat –yang dipimpin oleh Amerika– memiliki kepentingan vital di negeri-negeri kaum Muslim dan belum siap untuk menyerah darinya.”

Diberitakan pada Senin (22/03), Kerajaan Arab Saudi mengumumkan inisiatif perdamaian di Yaman. Gencatan senjata akan dilakukan dari semua sisi, blokade Bandara Internasional Sana’a dan Pelabuhan Hodeidah dicabut untuk mendukung kelompok Houthi, dan negosiasi perdamaian dimulai. Tetapi Houthi menolak untuk menerima inisiatif itu. Juru bicara resmi mereka, Muhammad Abdul Salam berkata, “Tidak ada pengajuan hal baru”.

“Ini bukanlah hal baru bahwa keputusan Houthi berkaitan dengan keputusan Iran untuk menerima atau menolak inisiatif tersebut. Iranlah yang mendukung Houthi secara militer dan politik. Oleh karena itu, penolakan Houthi terhadap inisiatif tersebut sama saja dengan penolakan Iran terhadap inisiatif tersebut.” tulis Dr. Abdullah Badziib.

Sedangkan utusan Amerika Serikat untuk Yaman, Martin Luther King telah bertemu dengan Houthi di Muscat dan mengumumkan tentang indikasi-indikasi hampir tercapainya kesepakatan damai yang mengakhiri perang di Yaman, sebagai pelaksanaan dari janji pemilihan Joe Biden yang mengumumkan bahwa pada hari kedua aksesi kekuasaannya, dia akan berusaha untuk menghentikan perang di Yaman.

“Tidak diragukan lagi bahwa akhir-akhir ini telah terbuka jalan untuk memulai kembali negosiasi tentang nuklir Iran, dan Amerika telah menunjukkan fleksibilitas dalam menerima dimulainya negosiasi dokumen nuklir Iran dengan Tehran.” tambah Dr. Abdullah Badziib dalam analisanya.

Dr Abdullah Badziib kembali menyatakan bahwa “Hal Ini berarti Amerika ingin melibatkan Saudi dalam negosiasi dokumen nuklir Iran dan resiko regionalnya. Tampaknya Saudi akan melakukan dialog langsung dengan Iran tentang detail khusus ini, dan Perang Yaman akan dibahas di sana. Dengan kata lain, Amerika mempercayakan dialog langsung untuk menyelesaikan krisis Yaman dalam negosiasi dokumen Iran kepada agen-agennya dalam kawasan.”

Dengan demikian, memungkinkan Amerika untuk memaksakan Houthi dalam solusi berikutnya di Yaman, setelah Arab Saudi mengamankan perbatasan selatannya dengan perjanjian damai dengan mereka. Meskipun Houthi meningkatkan serangan mereka lebih dalam terhadap Saudi dengan pesawat tanpa awak serta rudal balistik, hal itu masih dapat dipahami dalam konteks untuk menaikkan saham Houthi pada negosiasi yang akan datang.

Konklusinya, dokumen pemberhentian perang di Yaman tidak terpisah dengan negosiasi tentang dokumen nuklir Iran, atau setidaknya memang itulah yang diinginkan Iran, yaitu untuk mendapat keuntungan dalam negosiasi dengan Amerika dan Eropa atas dokumen nuklirnya.

Oleh sebab itu, Amerika baik secara langsung atau dengan menggerakkan antek-anteknya, ia akan mengamankan kepentingannya tersebut dengan campur tangan dalam pembentukan pemerintahan yang merupakan penjaga setia atas kepentingan Amerika.

“Haruslah ada penerapan hukum syara’ dalam menyelesaikan permasalahan negara dan mengibarkan tinggi bendera Islam agar kita mendapatkan ridha dari Sang Pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan ini. Allah berfirman: “…Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama kalian untuk kalian, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagi kalian, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama kalian…” (Q.S. Al-Maidah: 4)” tutup Dr. Abdullah Badziib di akhir tulisannya.[]

Sumber :

Surat Kabar Ar-Rayah edisi 333, terbit pada Rabu, 25 Sya’ban 1442 H/7 April 2021 M

https://www.alraiah.net/index.php/political-analysis/item/5967-why-did-the-houthis-reject-the-saudi-initiative-to-end-the-yemen-war