October 22, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

BerandaIslam.com – Sungguh sangat menyayat hati ketika mendengar Habib Rizieq Shihab (HRS) divonis 4 tahun penjara. Habib Rizieq dinyatakan bersalah karena dianggap menyebarkan berita bohong terkait hasil tes swab dalam kasus RS Ummi hingga menimbulkan keonaran. Di sisi lain banyak kasus serupa yang seperti hilang ditiup oleh angin. Maka wajar banyak yang menduga keputusan ini bukan sekedar pelanggaran prokes semata melainkan ada kepentingan lainnya.

Hakim ketua Khadwanto membacakan surat putusan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur sudah menyatakan terdakwa Muhammad Rizieq Shihab terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana, turut serta menyebarkan berita bohong dengan sengaja mengakibatkan keonaran. Tetapi, keputusan ini ditanggapi oleh pengacara Habib Rizieq Shihab (HRS), Aziz Yanuar, dengan mengungkapkan ucapan kliennya ke hakim setelah sidang vonis. Dia menyebut Habib Rizieq mengatakan ‘sampai jumpa di pengadilan akhirat’. (Detik.com, 24/6/2021).

Hal ini merupakan pukulan telak bagi hakim dan para penguasa yang ada di balik keputusan tersebut. Dan merupakan sunnatullah bahwasanya para ulama akan diuji dan menghadapi berbagai cobaan. Di antara para ulama tersebut ada yang tetap sabar menerima berbagai macam cobaan, karena mereka memahami firman Allah SWT : “Katakanlah, ‘Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas’, jikalau mereka mengetahui.” [TQS : At-taubah : 8].

Para ulama akan mendapatkan pahala yang besar atas sikap mereka yang keras dan tegas dalam mempertahankan Islam dan mengorbankan diri mereka untuk menegakkan agama. Salah satu bentuknya adalah dengan selalu memberikan naseihat yang baik kepada para pemimpin dan penguasa agar mau menerapkan aturan-aturan Allah SWT.

Rasulullah saw bersabda “Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, : “Bagi siapa?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya dan bagi seluruh umat Islam.” (Diriwayatkan Bukhari-Muslim). Bukankah dakwah kepada kebaikan dan perintah untuk berbuat ma’ruf merupakan nasihat? Nasihat kepada penguasa bahkan lebih utama, karena menasehati mereka akan membawa kebaikan bagi mereka maupun bagi rakyatnya. Bentuk nasihat dapat diberikan dengan menyampaikan kritikan, walaupun akan menyebabkan masuk penjara.

Namun, para penguasa hanya bisa memenjarakan fisik para ulama, sesungguhnya hati para ulama tetap bisa bertafakkur dan merenung, sehingga para penguasa itu tidak akan bisa menahan para ulama. Jadi sebenarnya ulama tidak bisa dipenjara selama mereka memiliki hati yang tunduk kepada Allah SWT dan akal yang senantiasa berfikir tentang kekuasaan dan nikmat-Nya.

Para penguasa yang menghalangi kebenaran sudah termakan tipu daya iblis. Dan hal ini sudah menjadi tekad iblis untuk menghalangi manusia dari jalan Allah. Allah SWT berfirman : “Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” [TQS Al-A’raf : 16-17]

Maksudnya, menurut Ibnu Abbas ra, Iblis bertekad untuk meyesatkan orang dengan menebar keraguan. Membuat orang ragu dan lupa pada akhirat, alergi dan anti terhadap kebaikan dan kebenaran, gandrung dan tergila-gila pada dunia, hobi dan cuek berbuat dosa, ragu dan bingung soal agama. [Ibn Katsir, Tafsir al-Qural Al-Azhim jilid II hlm : 190].

Tidak sulit untuk mengetahui karakter Iblis, karena Allah sudah memberikan gambaran dengan jelas. Salah satu cirinya telah diterangkan dalam Al-Qur’an, yakni selalu membangkang dan membantah, meskipun ia kenal, tahu dan paham. (QS 6:121). Hal ini seperti ingkarnya Firaun berikut hulu balangnya, meskipun hati kecil mengakui dan meyakini, namun mereka selalu mencari argumen untuk menyanggah dan menolak kebenaran demi mempertahankan opini. Mungkin ini jugalah yang terjadi kepada HRS.

Sikap prihatin terhadap kondisi masyarakat dan kritis terhadap pemerintah bukanlah semata-mata untuk mencari keburukan. Tetapi untuk mewujudkan dan menggapai ridho Allah SWT. Para ahli sejarah juga sudah mencatat bagaimana seorang ulama Malik bin Dinar mendatangi Gubernur Basrah dan memberikan nasihat kepadanya :

“Wahai pemimpin, aku telah membaca di salah satu kitab bahwa Allah berfirman : Tidak ada yang lebih dungu dari penguasa, dan tidak ada yang lebih bodoh dari pendosa, dan tidak ada yang lebih mulia dari orang yang mengagungkanKu! Wahai ‘penggembala’ yang buruk, Aku titipkan kepadamu kambing-kambing yang sehat gemuk, kemudian kamu makan dagingnya, pakai bulunya, dan tinggalkan tulang-tulangnya berserakan!” [Imam al-Ghazali, Ihya ‘ulum ad-din jili II hlm : 230]

Inilah bentuk nasihat serta kritik yang dilakukan oleh Malik Bin Dinar. Oleh karenanya menghalang-halangi ulama dalam rangka memberikan nasihat untuk menegakkan agama dan syariah Allah merupakan sebab mendatangkan kemurkaan-Nya dan menjauhkan dari cinta-Nya. Ingatlah, Allah SWT berfirman : “(Yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah serta menginginkan agar jalan itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.” [TQS. Ibrahim :3].

Jangan sampai kita mengikuti untuk menjadi penghalang para ulama, dan menghalangi manusia dari jalan yang lurus. Yaitu di saat Allah SWT melalui para ulama untuk memberikan petunjuk agar menerapkan syariah, menegakkan agama, malah menolak dan dan memberikan hukuman kepada mereka. Karena itu sejatinya adalah suatu kezaliman. []

Wallahu’alam bisshawab