August 4, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Foto: Demo menuntut mundurnya Perdana Menteri Thailand, Prayut Chan-o-cha , Sumber : CNBC

Thailand bergejolak, Kekuasaan Milik Rakyat

BerandaIslam.com Dikutip dari CNBC (21/9), akhir pekan kemarin, diperkirakan 30.000 orang yang didominasi mahasiswa, melakukan berunjuk rasa di Bangkok. Mereka mendesak Perdana Menteri Jenderal Prayut Chan-o-cha mundur dan menerapkan konstitusi baru. Karena pemerintah yang didominasi oleh militer disebut otoriter.

Demo juga kembali menuntut pembatasan pada kekuasaan Raja Thailand Maha Vajiralongkorn. Sebagaimana ditulis dari AFP yang dikutip CNBC (21/9) sang raja dianggap tak hadir di negeri itu saat ekonomi anjlok karena pandemi. Raja banyak menghabiskan waktu lama di Eropa sehingga menimbulkan kemarahan warga di media sosial dalam beberapa bulan terakhir.

Pendemo menyatakan Thailand adalah milik rakyat. Mereka memasang sebuah plakat di lapangan Sanam Luang yang bertuliskan “Rakyat telah menyatakan niat bahwa negara ini milik rakyat, bukan raja”. Protes sudah terjadi selama dua bulan. Ini merupakan protes terbesar sejak 2014.

“Kami menginginkan pemilu baru dan parlemen baru dari rakyat,” kata aktivis mahasiswa Patsalawalee Tanakitwiboonpon (24) ditulis Reuters yang dikutip CNBC (21/9) dalam demo yang juga berlangsung sebelumnya.

Kekuasaan sejatinya memang milik rakyat, dan diberikan oleh rakyat. Apabila penguasa dianggap tidak layak lagi maka rakyat dapat mengganti kekuasaan tersebut.

Menurut Syekh Taqiyuddin an-Nabhani (w.1977) didalam kitabnya Nizhomul Islam, di dalam Islam telah menetapkan asas dalam sistem politiknya terdiri dari empat macam; (1) Kedaulatan adalah milik syara’, bukan milik rakyat; (2) Kekuasaan berada di tangan umat; (3) Pengangkatan seorang khalifah untuk seluruh kaum muslimin hukumnya wajib; dan (4) Khalifah mempunyai hak untuk melegislasi berdasarkan hukum-hukum syara’ untuk dijadikan undang-undang.

Khusus kekuasaan milik rakyat atau umat adalah yang mengangkat Khalifah/penguasa adalah umat melalui bai’at, jadi umat yang mempunyai kekuasaan dan kekuasaan itu diberikan kepada seseorang yang mereka pilih, lalu seseorang yang mereka pilih itu di bai’at untnuk menjalankan aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh syara’. Setelah diangkat seorang Khalifah dengan dasar bai’at maka umat wajib tunduk kepada Khlaifah selama khalifah tidak keluar dari aturan islam.

Selain itu, konsep meraih kekuasaan didalam Islam berbeda jauh dengan konsep lainnya. Dalam Islam, kekuasaan diraih dilakukan dengan proses aktivitas dakwah dengan pemikiran dan aktivitas politik yang harus terikat dengan syariah.

“Patut diperhatikan dengan saksama, bahwa usaha mengemban qiyadah fikriyah ini –yaitu dengan cara menyebarluaskan dakwah Islam- adalah dalam rangka membangkitkan kaum Muslim. Karena hanya Islamlah satu-satunya yang bisa memperbaiki dunia ini. Disamping itu –tentu saja- karena kebangkitan yang sebenarnya tidak akan tercapai kecuali hanya dengan Islam, baik untuk kaum Muslim maupun bagi bangsa yang lain. Berdasarkan pandangan ini hendaknya dakwah Islam dikembangkan.“tulis beliau didalam kitabnya.

“Mengemban dakwah Islam pada saat ini, hendaknya dikembangkan dengan metode yang sama sebagai mana masa-masa sebelumnya, yaitu dengan menjadikan metode dakwah Rasulullah SAW sebagai suri tauladan. Tidak boleh berpaling sedikitpun dari metode tersebut, baik secara keseluruhan maupun dalam rinciannya” pungkasnya.[]

(WI)