October 22, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

BerandaIslam.com,- Berbagai macam bencana telah menerpa sebagian wilayah negeri Indonesia di awal tahun 2021 ini. Bencana longsor di Sumedang, bencana berupa gempa bumi di Mamuju dan Majene juga terjadi. Bencana lain adalah gunung meletus, Gunung Semeru di Jawa Timur dan Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan DIY juga kembali mengeluarkan awan panas guguran.

Kecelakaan pesawat Sriwijaya Air dan termasuk bencana banjir adalah musibah dan bencana. Musibah banjir tidak hanya terjadi di Kalimantan Selatan, banjir dan longsor terjadi di Manado, Sulawesi Utara. Selain itu juga banjir terjadi di Kabupaten Lamongan dan Sidoarjo, Jawa Timur, Kabupaten Pidie, Aceh, hingga Kota Cirebon, Jawa Barat. Banjir juga terjadi di kawasan Puncak Bogor.

Menurut Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalsel, Kisworo Dwi Cahyono, banjirnya wilayah Kalsel diakibatkan masifnya pembukaan lahan yang terjadi secara terus menerus. Hal tersebut memberi andil dari bencana ekologi yang terjadi di Kalimantan selama ini. Menurut dia, Kalsel berada dalam kondisi darurat ruang dan darurat bencana ekologis. Sebabnya, dari total wilayah seluas 3,7 juta hektar di Kalsel, sebanyak 50 persennya sudah dialihfungsikan menjadi pertambangan dan perke-bunan kelapa sawit.

Kisworo menjelaskan, tata kelola lingkungan dan sumber daya alam (SDA) di Kalsel sudah cukup rusak dengan daya tampung dan daya dukung lingkungan yang tidak memadai. Hal ini didukung data laporan 2020 yang mencatat, terdapat 814 lubang tambang di Provinsi Kalsel milik 157 perusahaan batubara yang masih aktif bahkan ditinggal tanpa reklamasi (Lokadata.id, 19/1/2021).

Berbagai bencana atau musibah tentu merupakan ketetapan atau qadha’ Allah SWT (QS at-Taubah [9]: 51), yang tidak mungkin ditolak atau dicegah. Sebagai ketetapan (qadha’)-Nya, musibah itu harus dilakoni dengan lapang dada, ridha, tawakal dan istirja’ (mengembalikan semuanya kepada Allah SWT) serta sabar (QS al-Baqarah [2]: 155-157).

Aneka bencana yang terjadi menunjukkan betapa lemah-nya manusia. Betapa manusia membutuhkan pertolongan Allah SWT. Namun masalahnya, saat ini manusia malah membangkang terhadap ketentuan-Nya, bermaksiat serta berani mencampakkan petunjuk dan aturan-Nya, yaitu aturan Islam. Sistem sekuleris yang diterapkan adalah bentuk pengkhinanatan terhadap hukum Islam.

Kesabaran menghadapi musibah harus disertai perenungan untuk menarik pelajaran guna membangun sikap, tindakan dan aksi ke depan demi membangun kehidupan yang lebih baik. Termasuk untuk mengurangi potensi terjadinya bencana dan meminimalkan atau meringankan dampaknya.

Dalam semua bencana, ada dua hal yang mesti dire-nungkan. Pertama, penyebabnya. Kedua, penanganan dan pengelolaan dampak bencana, termasuk rehabilitasi. Terkait penyebab bencana, Allah SWT menyatakan bah-wa musibah, termasuk bencana alam, memang terjadi sesuai dengan kehendak dan ketentuan-Nya sebagai qadha’-Nya (QS at-Taubah [9]: 51).

Namun demikian, Allah SWT juga memperingatkan, banyak musibah yang terjadi yang melibatkan peran manusia. Allah SWT berfirman:

Musibah apa saja yang menimpa kalian itu adalah akibat perbuatan kalian sendiri. Allah memaafkan sebagian besar (dosa-dosa kalian) (TQS asy-Syura [42]: 30).

Dalam sistem sekulerisme yaitu pemisahan agama dari kehidupan melahirkan sistem demokrasi. Dalam sistem demokrasi UU dan aturan dibuat oleh manusia. Manusia  memiliki berbagai kepentingan. Sehingga wajar saja bermunculan UU yang membela kepentingan sekelompok orang saja. Termasuk UU buatan manusia ini tidak akan memenuhi kepentingan semua orang sehingga meniscayakan terjadinya pertentangan yang mengakibatkan berbagai kerusakan serta penyimpangan.

Maka dari itu patut diduga bahwasanya ada kolusi antara penguasa dan kekuatan oligarkhi dalam sistem demokrasi. Dengan pembuatan UU baru seperti UU Minerba dan Omnibus Law Cipta Kerja, semua itu akan terus berlangsung, bahkan bisa makin parah, yakni memberikan kebebasan pengelolaan sumber daya alam kepada individu dalam hal ini adalah para pengusaha atau kapital. Semua itu berpangkal pada pengadopsian sistem kapitalisme-sekulerisme.

Berbagai praktik yang menyebabkan degradasi alam itu sendiri juga merupakan kemaksiatan. Semua kemaksiatan itu mengakibatkan fasad (kerusakan) di muka bumi. Di antaranya berupa bencana alam dan dampaknya. Semua ini baru sebagian akibat yang Allah SWT timpakan karena berbagai kemaksiatan yang terjadi di tengah manusia. Tujuannya agar manusia segera sadar dan kembali pada syariah-Nya.

Allah SWT berfirman: “Telah nyata kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan Allah SWT)” (TQS ar-Rum [30]: 41).

09

Karena itu, kunci untuk mengakhiri segala musibah tidak lain dengan mencampakkan akar penyebabnya, yakni ideologi dan sistem sekularisme-kapitalisme. Berikutnya, terapkan ideologi dan sistem yang telah Allah SWT turunkan. Itulah ideologi dan sistem Islam. Dengan kata lain, terapkan syariah Islam secara kaffah dalam semua aspek kehidupan. Termasuk dalam pengelolaan lahan/tanah, sumberdaya alam dan lingkungan hidup. []

WalLâh a’lam bi ash-shawâb.