June 17, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh: Ustadz Abu Hamzah Khuthwaniy

Selama lebih dari sepuluh tahun, Negara Yahudi telah meningkatkan agresinya terhadap berbagai kepentingan Iran dan terus memperluas jenis sasaran yang ditargetkan dari tahun ke tahun. Menanggapi serangan berulang ini, Iran mencukupkan diri dengan pernyataan kosong tanpa efek apapun, serupa dengan pernyataan penguasa Suriah yang terus-menerus mengulang rekaman rusak yang ia klaim bahwa ia berhak menanggapi agresi musuh pada tempat dan waktu yang tepat.

Rangkaian serangan oleh Negara Yahudi terhadap Iran dimulai pada tahun 2010, ketika virus bernama Stuxnet telah sempurna dimasukkan ke dalam sistem komputer Iran yang terkait dengan program nuklirnya dan menyebabkan kerusakan beberapa mesin sentrifugal pada reaktor nuklir.

Kemudian Negara Yahudi mulai menargetkan ilmuwan nuklir Iran dan membunuh lima dari mereka, yang terakhir adalah Mohsen Fakhrizadeh, ahli nuklir Iran paling senior yang bekerja di jajaran Pengawal Revolusi Iran. Ia dibunuh dengan cara yang kompleks, rumit dan canggih pada tahun lalu (sesuai pernyataan pejabat Iran).

Selama periode itu, Badan Intelijen Entitas Yahudi mencuri setengah ton dokumen rahasia dari dalam reaktor nuklir di Natanz. Kemudian selama 2 tahun terakhir Badan Intelijen menargetkan untuk merusak dan menghancurkan 12 kapal milik Iran.

Diakhiri dengan menargetkan fasilitas yang menyimpan mesin sentrifugal reaktor nuklir di Natanz dengan menyabotase sumber tenaga listrik yang memasok arus listrik untuk membuat ledakan misterius yang mengganggu mesin sentrifugal dalam fasilitas nuklir tersebut.

Ini selain fakta bahwa pesawat tempur entitas Yahudi yang menyerang situs militer milisi yang berafiliasi dengan Iran di Suriah secara berkala (bulanan atau mingguan).

Yang mengherankan adalah, dalih dengan argumen lemah atas ketiadaan tanggapan Iran terhadap semua serangan berulang tersebut. Seperti pernyataan bahwa Iran menyimpan hak untuk menanggapi (seolah kelak Iran tak memiliki hak untuk memberikan tanggapan), atau pernyataan bahwa Iran diuntungkan dari agresi berkelanjutan entitas Yahudi terhadapnya; serangan tersebut dapat meningkatkan laju pengayaan uranium hingga 60 persen! Maupun pernyataan bahwa tanggapan Iran ditunda sesuai dengan strategi Iran yang diklaim terkait dengan teori kesabaran strategis, dan berbagai argumen serta dalih serupa yang kosong dan lemah!

Ketika Iran membanggakan diri dengan kemampuan militernya yang kuat, dan bahwa dirinya telah menduduki 4 ibukota Arab, mendukung milisi Houthi di Yaman dalam membombardir bandara-bandara dan berbagai fasilitas Saudi –ketika itu juga pasukannya terlibat langsung dalam pembantaian dan pengusiran orang-orang Suriah dari negerinya, dan meneruskan dukungan kepada tiran Bashar Al-Assad dalam membunuh dan mengusir rakyatnya sendiri.

Iran juga terus mendukung perbuatan partainya di Lebanon termasuk pembantaian di Suriah, bahu-membahu dengan pasukan Bashar melawan orang-orang tertindas di Suriah. Juga segala yang dilakukan partai jahat ini dalam menyerang dan merusak seluruh aspek kehidupan politik dan ekonomi di Lebanon.

Sementara Iran melakukan semua kriminalitas ini terhadap rakyat yang lemah di Irak, Suriah, Lebanon dan Yaman dengan segala arogansi dan keangkuhanya, ia berdiri tak berdaya, memalukan di depan arogansi Negara Yahudi, yang pasukan dan Dinas Intelijennya terus menyerang kepentingan Iran tanpa henti di setiap tempat!

Tidak hanya itu, Israel juga mengancam untuk mencegah kembalinya perjanjian nuklir yang telah disepakati oleh negara-negara besar dengan Iran, yang sudah ditandatangani pada tahun 2015 lalu.

Alasan hakiki dari tiadanya tanggapan Iran terhadap serangan berulang Yahudi, kembali kepada fakta bahwa Iran merupakan negara yang tidak memiliki pengambilan keputusan independen. Ia khawatir jika menanggapi serangan ini, ia akan kehilangan kemaslahatan besar yang diperolehnya dari melaksanakan rencana Amerika di kawasan itu selama 40 tahun terakhir.

Amerika, yang membuatnya mampu merebut Irak, seperti yang dikatakan Saud Al-Faisal, mantan menteri luar negeri Saudi, “Amerika menyerahkan Irak kepada Iran di atas piring perak”, sebagaimana ia membuat Iran mampu mengambil Suriah, Yaman dan Lebanon. Tidak dapat dibayangkan bahwa ia akan melanggar perintahnya dan menanggapi serangan negara Yahudi, karena Amerika mencegahnya. Oleh karena itu, Iran tidak dapat melanggar kebijakan AS, karena ia takut jika melakukannya, ia akan kehilangan semua pengaruh dan kepentingannya, atau boleh jadi kehilangan negara dan keberadaannya.

Maka, alasan sebenarnya dari tiadanya tanggapan Iran terletak pada kenyataan bahwa keputusan kedaulatannya bergantung pada Amerika, yang tidak membolehkannya untuk menanggapi agresi negara Yahudi terhadapnya. Oleh karena itu, Iran menanggung semua penghinaan yang dihasilkan dari serangan Yahudi terus-menerus, karena hubungannya yang erat dengan koordinasi politik dan militer yang solid dengan Amerika.

Jika bukan karena koordinasi ini, Iran tidak akan memiliki semua pengaruh atas negara-negara Arab tersebut. Tanpa koordinasi ini juga, Amerika tidak akan mampu menduduki Afghanistan dan Irak.

Tindakan kotor Iran yang disembunyikan demi kepentingan Amerika, dan diamnya atas agresi berulang entitas Yahudi terhadapnya, mengungkapkan sejauh mana pengkhianatan yang dilakukan oleh penguasa Iran terhadap umat, serta menyingkap ukuran peran konspirasi mereka di wilayah tersebut. Sejak Khomeini dibawa sebagai penguasa Iran berkat netralisasi Amerika terhadap tentara Iran yang dicegah ditangkap pada saat itu. Karena Jenderal Amerika Huizer, komandan pasukan Amerika di Timur Dekat pada waktu itu, memainkan peran terbesar dalam mencegah tentara Iran pengikut Shah menghadapi Khomeini, yang menyebabkan keberhasilan Revolusi Khomeini di tahun 1979 dan aksesnya ke kekuasaan. Ketika menyaksikan hal tersebut Shah Iran berkata, “Beginilah cara Amerika mengeluarkan saya dari Iran dan melemparkan saya seperti tikus mati.”

Diterjemahkan dari Surat Kabar Ar-Rayah edisi 336, terbit pada Rabu, 16 Ramadhan 1442 H/28 April 2021 M

Sumber :

https://www.alraiah.net/index.php/political-analysis/item/6010-2021-04-27-20-39-27