October 23, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Yusuf Kushandiansyah (Pontianak)

Matahari bersinar menyinari pagi, ditemani alunan bacaan alquran dari para santri. Masih sangat segar dalam ingatan, hari itu menjadi hari pertama diberlakukannya tilawah quran. Awalnya yang tidak terbiasa namun akhirnya menjadi kebiasaan dan merasa lebih tentram. Hari-hari terasa berbeda karena tidak lagi memegang HP.

Di saat membaca alquran ketenangan akan didapatkan, bahkan dalam suatu riwayat bagi siapa saja yang membaca alquran akan dijaga oleh malaikat. Selain itu, kita juga mendapatkan pahala perhuruf dari membaca alqur’an.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dari kitabullah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan Alif Laam Miin itu satu huruf, tetapi Alif itu satu huruf dan Laam itu satu huruf dan Miim itu satu huruf.” (HR. At Tirmidzi / 2327).

Masya Allah, coba kita bayangkan, jika kita membaca satu ayat berapa pahala yang kita dapatkan? Kita juga senantiasa dijauhkan dari perbuatan maksiat yang dapat berakhir dengan keburukan yang menimpa kita. Serta dijauhkan dari siksa api neraka yang sedang menunggu kita di akhirat. Mari kita jaga diri dengan memperbanyak membaca alquran karena di dalam alquran terdapat firman Allah yang dapat membantu kita menuju jalan yang lurus.

Namun di sisi lain, sangat disayangkan ketika ada orang yang bersikap nyinyir tentang video berisi sekelompok santri yang menutup telinga ketika diperdengarkan alunan musik saat antri untuk vaksinasi.

Padahal bagi sebagian para penghafal alquran pemutaran musik itu kurang baik untuk hafalan mereka. Kalau pun bermaksud untuk menghibur para santri, bisa dilakukan dengan sesuatu yang lain misalnya bahan bacaan untuk edukasi. Karena ada juga orang-orang yang tidak menyukai musik walaupun tidak mengambil pendapat mengharamkan. Walaupun tidak menutup kemungkinan ada pendapat yang mengharamkan musik.

Terlebih lagi kadangkala penyebaran ide-ide bisa datang dari lagu-lagu dan musik-musik yang kita dengar. Apabila dikemas dengan baik bisa bermanfaat, namun tidak menutup kemungkinan lagu-lagu atau musik jadi ajang penyesatan dan ajakan untuk bermaksiat. Jika para penyelenggara kegiatan dapat mengamati situasi dan kondisi yang ada maka tentu akan memilih cara lain dalam rangka menghibur. Dapat memutar sholawat atau pun murotal qur’an agar semakin menambah ketenangan dan konsentrasi para santri yang mungkin sedang mengingat kembali (murojaah) hafalan mereka.

Bagi siapapun yang tidak mengetahui fakta yang terjadi, tentu saja lebih baik diam. Bukan malah menambah masalah apalagi dengan mencap dan menuduh hal-hal yang menimbulkan stigma negatif kepada para santri terlebih lagi untuk menyudutkan Islam dan hukumnya. Alangkah lebih baiknya untuk dapat menjaga lisan dengan tidak berkomentar yang tidak-tidak.[]

WalLahu’alam Bisshawwab