December 6, 2022

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Fadrin (Mantan Aktivis Mahasiswa)

Pengamat membeberkan alasan Indonesia menolak debat soal kondisi muslim Uighur di Xinjiang, China, di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada awal Oktober 2022 lalu. Menurut mereka, ini akan berdampak ke sektor ekonomi.


Ketika itu, Amerika Serikat mengusulkan agar forum menggelar debat terkait pelanggaran hak asasi manusia (HAM) terhadap etnis Uighur di PBB. Namun. Indonesia menolak resolusi itu.


Wakil tetap RI di Jenewa Febrian, A Ruddyard menilai pendekatan itu tak akan menghasilkan kemajuan yang berarti. Ia juga menyinggung soal rivalitas AS dan China. (cnnindonesia.com, 13/10/2022)

Peristiwa diatas sesuai dengan apa yang telah diungkapkan oleh para analis politik sebelumnya. Mereka meyakini bahwa alasan negara-negara Muslim, termasuk Indonesia, tidak melakukan apa pun untuk menghentikan kejahatan terhadap muslim Uighur adalah karena masalah keuangan. Alih-alih menghentikan kejahatan tersebut, bahkan mengecam saja tidak mau.

Mereka takut, berbicara akan membahayakan hubungan ekonomi mereka dengan Cina. Hubungan ekonomi itu meliputi Sabuk dan Inisiatif Cina (Belt dan Road Initiative China – BRI).

Banyak negara di Asia Tengah dan Timur Tengah menjadi bagian darinya. Hubungan ekonomi ini mencakup pinjaman dari Cina, yang di antaranya diterima oleh negara-negara seperti Pakistan, Indonesia dll.

Umat Butuh Khilafah

Bandingkan realitas para penguasa Muslim saat ini dengan kisah para pemimpin Muslim pada masa lalu di bawah Khilafah. Tengoklah kisah para pemimpin seperti Khalifah al-Mutashim. Ia dengan sigap mengirim pasukan setelah seorang wanita Muslimah memanggil namanya saat tentara Romawi menyerang kota tempat wanita itu tinggal. Khalifah al-Mutashim sendirilah yang membebaskan wanita itu setelah tentara Romawi dikalahkan.

Kita tentu tidak dapat berharap perlindungan atas saudara-saudari Muslim kita di bawah sistem saat ini. Umat Muslim perlu menyadari bahwa sistem kapitalisme-demokrasi hanya akan membuat kondisi kaum muslimin semakin terpuruk. Umat Islam tidak akan mampu mewujudkan ukhuwah Islamiyah yang hakiki.

Kapitalisme-demokrasi akan mejebak kaum muslimin ke dalam mental pragmatis. Semua hal akan diukur dengan takaran manfaat, tanpa memperdulikan seruan Allah SWT. dan Rasulullah SAW.

Kita perlu membangun kembali Negara Islam (Khilafah), melalui metode Nabi saw. Hanya dengan Khilafah saudara-saudari Muslim kita akan menerima keadilan dan keselamatan yang pantas mereka terima.

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR. Bukhari)[]