September 17, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh: Ustaz As’ad Mansur

Protes yang terjadi di Iran sejak pertengahan bulan Juli 2021 masih terus berlanjut sampai sekarang. Aksi ini dipicu oleh penduduk daerah Ahwaz atau Khuzestan—yang mengalami kelangkaan air sejak akhir Maret—, mereka mengeluhkan marginalisasi dan diskriminasi, juga karena keberadaan mereka sebagai orang Arab. Presiden Iran, Rouhani telah mengakui bahwa, “Terdapat berbagai masalah di daerah Ahwaz yang harus segera diselesaikan.” Perkataan yang membuat ia seolah-olah bukan kepala negara yang harus bergerak cepat sejak awal untuk menyelesaikan masalah rakyatnya.

Aksi protes juga terjadi di daerah-daerah selain Ahwaz hingga mencapai ibu kota negara Iran di Teheran. Aksi protes tersebut berubah menjadi seruan politik untuk menggulingkan rezim. Diberitakan bahwa 4 demonstran dan seorang polisi telah tewas, banyak korban luka-luka, dan ratusan yang tertangkap. Internet diputus agar masyarakat tidak dapat berkomunikasi untuk melakukan protes. Kondisi ini sama halnya seperti protes yang meletus pada tahun 2019 karena kekurangan bensin dan berubah menjadi ketidakpuasan rakyat yang meluas, serta protes terhadap penurunan mata uang, inflasi, dan pemadaman listrik yang sering dilakukan.

Dilansir dari Sunday Times pada Selasa (25/5), ilmuwan dan mantan Wakil Menteri Lingkungan Hidup Iran yang tinggal di Amerika, Kaveh Madani menyatakan bahwa, “Semua sumber air negara dari sungai, waduk, dan air tanah mulai mengering setelah bertahun-tahun tersedia karena kesalahan pengelolaan oleh rezim saat ini, yang dengan ini mengharuskan masyarakat Iran agar merencanakan kehidupan mereka dengan kekurangan air.” Menteri Energi Iran juga mengakui bahwa ada krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bahkan Pemimpin Tertinggi Republik, Khamenei terpaksa mengatakan, “Kami tidak bisa menyalahkan rakyat.” Dari pemaparan tersebut menunjukkan bahwa negara tidak menjaga dengan baik urusan rakyatnya. Bagaimana tidak, negara tidak menerapkan Islam kecuali hanya dalam beberapa aspek. Bahkan, kebijakan pemerintahan, ekonomi, politik dalam dan luar negeri, dan kebijakan perang itu bukan berasal dari Islam, melainkan kebijakan dan solusinya berasal dari kapitalisme,¬—kecuali untuk diskriminasi sektarian dan nasional yang telah disetujui oleh konstitusi—.

Oleh karena itu, banyak orang yang tidak merasa bahwa negara ini adalah negara mereka, mereka tidak merasa negara mengurusi urusan mereka dan menyelesaikan permasalahan mereka sehingga mereka memprotes ketidakadilan, diskriminasi, serta kurang dan buruknya pengurusan negara terhadap mereka.

Air adalah salah satu kebutuhan pokok yang harus disediakan untuk rakyat, maka wajib bagi negara untuk mencari penyebab masalah dan cara penyelesaiannya dengan cepat tanpa penundaan agar permasalahan ini tidak terjadi sampai berbulan-bulan. Apabila air sungai mengering dan air tanah menjadi langka, maka negara harus menyuling air laut dan memberikannya kepada rakyat dengan cepat.

Begitu pula permasalahan listrik, ada banyak sumber untuk menghasilkan listrik selain minyak, di antaranya adalah energi matahari dan angin. Semua itu berlimpah di Iran, tetapi tampaknya negara tidak memanfaatkan sumber daya dan kemampuannya dengan baik, sehingga tidak dapat mengayomi dengan baik dan tidak menyelesaikan permasalahan dari akarnya. Demikian juga masalah mata uang yang terus menurun sehingga uang rakyat terbuang percuma, harga-harga dan inflasi meningkat karena tidak menetapkan mata uang emas dan perak seperti yang ditetapkan Islam agar harga menjadi stabil, yang kemudian menjadikan nilai harta dan usaha mereka terjamin.

Menjadi sesuatu yang memungkinkan bagi negara mana pun untuk mengalami situasi darurat dan berbagai krisis. Apabila warga negara merasakan keadilan negara, pengelolaan dan pengurusannya yang baik, kinerjanya yang cepat dalam menangani krisis dan menyelesaikan masalah, kebutuhan mereka terpenuhi, tidak ada diskriminasi, nepotisme, pilih kasih, suap, dan penggelapan, serta seluruh warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama, maka pastilah mereka akan bekerja sama dengan negara, mendukungnya, dan sabar terhadapnya. Karena negara tersebut adalah negara mereka, di mana negara bersandar pada otoritas mereka dan menerapkan konsep, standar, dan keyakinan yang mereka anut.

Mereka tidak akan melakukan protes yang negatif dan destruktif hingga menyeru untuk menggulingkan rezim, mereka tidak pula menghadapi negara dengan senjata dan tindakan kekerasan. Tetapi mereka melakukan introspeksi atas kelengahan atau kelalaian negara dalam bentuk konstruksi positif dengan mengemukakan pendapat-pendapat dan usulan-usulan yang efektif, mengorbankan sesuatu yang berharga untuk menjaganya karena itu adalah negara mereka yang mewakili kekuasaan mereka dan mewujudkan kedaulatan syariat Islam.

Iran menghabiskan uangnya untuk membela rezim sekuler yang berafiliasi dengan Amerika. Ia mengirimkan tentara dan milisinya ke Suriah yang sebelumnya sudah dibiayai, dilatih, dan dikelompokkan dalam bentuk partai di Lebanon untuk memerangi rakyat Suriah yang ingin menggulingkan rezim sekuler dan tirani yang dipimpin oleh Bashar Assad yang merupakan seorang agen Amerika. Kemudian ia ikut melawan rakyat Suriah yang ingin mengembalikan otoritas mereka dan memerintah diri mereka dengan Islam yang benar.

Lalu, apa urusan Iran dan pengikutnya dalam memerangi orang-orang yang tertindas sejak zaman penjajahan dan seterusnya hingga zaman pemerintahan keluarga Assad—yang berlangsung sejak 50 tahun yang lalu—ini?

Apabila seseorang masuk ke dalam pemerintahan Iran, kemudian ia membangun dunia (mendirikan kekuasaannya) tanpa mendudukinya, maka ia membiarkan dirinya membunuh masyarakat di kawasan tersebut—sama seperti majikannya, yaitu Amerika—. Ia turut campur di Irak untuk melindungi penjajahan Amerika dan mencegah pembebasannya, juga turut melindungi rezim boneka yang telah dibentuk Amerika. Kemudian ia juga turut campur di Yaman dan mendukung Houthi, agen-agen Amerika. Ia juga turut campur di Lebanon dan mendukung para agen Amerika, ia menempatkan Michel Aoun dan arus korupnya di pemerintahan—di samping mendukung partainya yang mendominasi Lebanon¬—.

Berangkat dari pandangan nasionalistis dan memprovokasi intoleransi sektarian, ia tidak merasa bersalah untuk berjalan sesuai orbit Amerika dan melaksanakan proyek-proyeknya sebagai imbalan untuk mencapai kepentingan nasionalnya. Hal ini tercermin dalam pengabaian dan kesewenang-wenangan pemerintahan Iran di dalam negerinya, sehingga ia dibenci dan tidak dapat diandalkan baik di dalam maupun luar negeri.

Terdapat keluhan intens dari rakyat Iran terhadap rezim yang tidak berdiri di atas dasar Islam. Setiap krisis terjadi, terpiculah aksi protes, seakan-akan rakyat sedang menghadapi negara penjajah dan menunggu kesempatan untuk mengungkapkan amarah mereka terhadap rezim.

Iran tidak menerapkan Islam, klaim bahwa ia menerapkan Islam itu bohong dan palsu, sehingga hasilnya negatif dan penuh kontradiksi, membuat penduduknya melarikan diri dan menjauh dari aturan agama mereka setelah mereka bersemangat untuk menerapkan Islam dalam revolusi melawan Syah. Mereka berharap Islam diterapkan agar bisa merasakan kehidupan yang baik dan mulia di bawah aturan Islam. Seluruh kaum muslimin berharap negara Iran akan menjadi titik tolak untuk menyatukan, membebaskan, dan membangkitkan kaum muslimin di bawah naungan negara Islam tanpa diskriminasi sektarian atau nasional.

Akan tetapi, harapan mereka kandas, tekad sebagian orang yang antusias terhadap kemampuan agama mereka dalam menyelesaikan problematika, memenuhi kebutuhan-kebutuhan rakyat, maupun membangkitkan negara menjadi tergoyahkan. Padahal, ia merupakan sebuah aturan yang menegakkan keadilan, menjauhi kezaliman, ketidakadilan, dan diskriminasi.

Jika kita mengulang kembali perjalanan khulafaurasyidin, di mana mereka berjaga pada malam hari demi mengurusi rakyatnya, tidak tidur saat mendapati ada rakyatnya yang kelaparan, anak yang menangis, orang sakit yang menderita, dan orang yang tidak memiliki sesuatu untuk memenuhi kebutuhan—kecuali penguasa yang memenuhi kebutuhannya—. Mereka tidak berhenti memikirkan rakyatnya sampai mereka bisa memenuhi semua kebutuhan-kebutuhan pokoknya, serta memberikan rakyat kesempatan untuk mendapatkan kebutuhan sekunder maupun tersier. Bahkan mereka menjamin kebutuhan-kebutuhan binatang, mereka juga mengganti penguasa jika rakyat tidak puas dengannya meskipun penguasa itu seseorang yang adil. Mengutip dari karya Ibn Abi Syaibah yang menceritakan bahwa Khalifah Umar berkata kepada rakyat Irak di saat mereka ingin mengganti penguasa mereka, ia berkata, “Sungguh, aku akan menggantinya sampai kalian puas, dan andaikan seekor hamal (anak biri-biri) binasa di tepi Sungai Efrat lalu hilang, maka sungguh aku takut kepada Allah karena ia akan menanyakanku tentang hal tersebut pada hari kebangkitan.”

Diterjemahkan dari Surat Kabar Ar-Rayah edisi 350, terbit pada Rabu, 25 Zulhijah 1442 H/4 Agustus 2021 M

Sumber :
https://mediamuslimtimurtengah.wordpress.com/2021/08/18/protes-iran-penyebab-dan-solusinya/#more-556

https://www.alraiah.net/index.php/political-analysis/item/6251-word-number-iran-protests-its-causes-and-treatments