September 17, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat


Oleh: Ustaz Hamid Abdul Aziz

Kerusakan rezim el-Sisi saat ini semakin tak terbendung lagi dan kezalimannya semakin hari semakin menguat, seolah-olah ia mengambil tuntunan dari kediktatoran, kezaliman, dan keangkuhan Firaun. Ucapan Sisi hari ini sama seperti apa yang diucapkan Firaun kepada bangsa Mesir, “Aku hanya mengemukakan kepadamu apa yang aku pandang baik, dan aku hanya menunjukkan kepadamu jalan yang benar,” dan, “Aku tidak mengetahui ada Tuhan bagimu selain aku.”

Penuntut Umum Kejaksaan Mesir mengeluarkan keputusan untuk memenjarakan jurnalis Abdel Nasser Salama, mantan Pimpinan Redaksi Surat Kabar Al-Ahram, selama 15 hari sambil menunggu keputusan penyelidikan, setelah ia menerbitkan artikel di media sosial yang menyerukan Sisi untuk mundur dan mengajukan diri ke pengadilan sehubungan dengan penanganannya terhadap masalah Bendungan Grand Ethiopian Renaissance Dam (GERD) dan sejumlah dokumen lainnya.

Jaksa penuntut umum melayangkan sebuah tuduhan kepada Salameh atas pendanaan gerakan terorisme –yang didirikan dengan asas yang menyelisihi ketentuan hukum– dan bergabungnya ia di dalamnya. Dengan kemampuan Sisi, salah satu ikon pers telah menjadi pengkhianat, antek, donatur, sekaligus anggota dari gerakan terorisme hanya karena ia melakukan aktivitas jurnalistik dan menulis artikel yang mengutarakan opininya terkait bahaya Bendungan GERD beserta dampak buruk dari penandatanganan sepihak Sisi pada ‘deklarasi prinsipil’ bersama Etiopia, seperti munculnya berbagai bencana dan kemalangan, kemudian menjadi puncak masalah yang berimbas pada hilangnya hak air bagi Mesir, yang mengakibatkan kelaparan, kehausan, tandusnya lahan pertanian, pengangguran, dan kerusakan pada Bendungan Tinggi Aswan. Ini adalah salah satu bentuk kejahatan Sisi yang harus dikoreksi di samping kejahatan-kejahatan yang lain.

Ini jelas menunjukkan bahwa Sisi tidak menerima kritik. Pandangan dan pendapat orang lain tidak ada dalam kamusnya. Bahkan jika orang yang mengkritiknya adalah pihak yang paling tinggi. Penjara, pengusiran, pengasingan keluar wilayah, perusakan citra dan pengucilan adalah akibat yang akan diterima oleh para penyulut aksi demonstrasi 30 Juni yang dulu (pernah) mendukung Sisi, sehingga semua orang mengatakan “Saya telah dimakan pada hari banteng putih dimakan”.

Banyak penangkapan terjadi terhadap orang-orang yang dulu mendukung kudeta yang dipimpin Sisi, seperti Ahmed Maher, Ahmed Doma, Esraa Abdel Fattah dan Hazem Abdel Azim yang menjabat sebagai koordinator Komite Pemuda dalam kampanye resmi pencalonan Abdel Fattah el-Sisi sebagai calon presiden Republik Mesir tahun 2014 dan ditangkap pada 26 Mei 2018 setelah ia mengungkapkan peran dewan keamanan dalam pembentukan parlemen saat ini, dan atas kritik terus menerusnya terhadap kebijakan Sisi.

Sisi telah mengatakan sebelumnya, “Jangan dengarkan orang lain selain aku”. Dia berpendapat bahwa hanya perkataannyalah yang benar, bahkan kebenarannya bersifat mutlak. Hari ini, Sisi mengatakan –dalam bahasa ammiyah –,بلاش هري” ,” yang artinya: jangan banyak berkomentar, dengarkanlah dan diam, karena perkataan kalian tidak bernilai, kalian membicarakan sesuatu yang tidak kalian ketahui.

Ketika seseorang di antara masyarakat meminta Sisi untuk menaikkan posisi para pegawai, ia meresponnnya dengan melakukan tindakan kekerasan, penganiayaan, serta mencemoohnya seolah-olah orang tersebut bukanlah siapa-siapa, dirinya dan pendapatnya tidak berharga sama sekali.

Pada sebuah acara beberapa tahun silam, salah satu peserta meminta Sisi untuk menunda ketentuan pencabutan subsidi harga pada beberapa komoditas perdagangan. Lalu Sisi meresponnnya dengan berkata, “Sudahkah Anda mempelajari apa yang Anda bicarakan? Apa pengetahuan dan kemampuan yang Anda miliki untuk membahasnya?”. Orang itu pun hampir berkata, “Seandainya aku mati sebelum ini!”.

Apakah sistem seperti itu dapat mengurusi urusan masyarakat dan menjaga kepentingan mereka? Bagaimana bisa masyarakat dipimpin oleh rasa takut?

Sebuah rezim yang tidak mendengarkan seorang pun, siapa pun yang mengungkapkan pendapatnya dengan jujur, maka akan dikenai tuduhan, kemudian nasib akhirnya adalah penjara atau kematian. Sebuah rezim yang tidak menerima bentuk oposisi apa pun, maka setiap orang harus senantiasa memuji pemimpinnya pagi dan sore hari. Rezim yang tidak mempercayai rakyatnya, bahkan memandangnya sebagai rakyat yang tidak berarti dan berharga. Lebih dari itu, mereka memandang rezimnya bukan sebagaimana negara sesungguhnya, tapi sebagai sesuatu yang menyerupai sebuah negara dan juga tidak hanya miskin, tetapi sangat miskin! Bahkan DPR yang dibanggakan oleh sistem demokrasi sebagai ikon sistem dan sumber kekuatannya, telah ‘diatur’ oleh badan intelijen, untuk menghadirkan kepada rakyat sebuah parlemen yang terperinci atas kehendak penguasa, yang tidak berkutik, hanya terdiam dan tidak mengoreksi kesalahan penguasa, tidak membenarkan sesuatu yang benar dan tidak juga mengingkari sesuatu yang salah.

Kesalahan terakhirnya adalah mengizinkan RUU yang diajukan oleh sejumlah wakil rakyat untuk memberhentikan pegawai yang berhubungan dengan Ikhwanul Muslimin dari pekerjaan pemerintahan. Siapa pun yang menyimpang dari aturan ini dan mengkritik rezim atau menolak, maka akibatnya adalah disingkirkan dan dicabut perlindungan (atasnya). Maka dari itu, tidak ada tempat bagi para pengkritik atau oposisi, melainkan hanya untuk sekelompok penerima manfaat yang tidak menaruh curiga dan tidak memiliki tekad apapun selain kepentingan pribadi mereka. Sebuah rezim yang militernya memiliki dana rahasia, tidak tunduk kepada pihak mana pun, dan para pemimpinnya bersikeras tetap berpegang teguh terus-menerus untuk menjalankan kegiatan ekonomi militer, baik yang dideklarasikan maupun yang tidak dideklarasikan khusus bagi mereka. Mereka juga menolak untuk tunduk pada segala bentuk pengawasan nyata.

Hal tersebut ditegaskan oleh pernyataan Mayor Jenderal Mahmod Nasr, yang dikeluarkan setelah pecahnya revolusi Januari, ia mengatakan, “Kami akan berjuang untuk proyek kami dan kami tidak akan meninggalkan peperangan ini. Upaya yang telah kami kerahkan selama 30 tahun, tidak akan kami biarkan orang lain menghancurkannya.” Lantas, adakah kebaikan yang diharapkan dari sistem seperti ini?

Sebuah sistem yang medianya telah berubah menjadi platform politik yang memakan kebohongan, menyebarkan desas-desus, menyesatkan opini publik, menabuhkan genderang perang dan perselisihan, dan menyebarkan racun kebencian di antara kelompok-kelompok masyarakat tanpa terhalang undang-undang atau perjanjian.

Sebuah sistem di mana kejaksaan telah menjadi alat represi jahat, karena tidak memberikan jaminan pengadilan yang adil di setiap tahap ligitasi. Ini terlihat dari hasil akhir kasus-kasus dalam pelaksanaan hak-hak politik yang dijamin hukum, di mana beberapa aktivis dirujuk ke pengadilan karena sikap politik dan penentangan mereka terhadap kebijakan pemerintah yang ada.

Hal ini membuat seluruh proses ligitasi–sejak penangkapan hingga hukuman–dilakukan dengan penuh kesewenang-wenangan. Bahkan itu dilakukan atas perintah langsung dari pimpinan politik, untuk menjatuhkan hukuman mati secara langsung tanpa mengedipkan mata sedikit pun.

Sebuah rezim yang melepaskan anjing-anjingnya untuk menyerang Islam dengan dalih perang melawan terorisme, dan menghukum oposisi dengan membuat tuduhan seperti menjadi anggota dari kelompok teroris atau mendukung dan mendanai terorisme.

Sebuah rezim yang telah menyerahkan negara dan rakyatnya kepada musuh-musuh umat untuk melakukan apa saja yang mereka inginkan kepada umat, menjarah kekayaannya, menghancurkan ekonomi dan pemudanya. Bahkan entitas Yahudi menganggapnya sebagai harta karun yang strategis baginya. Rezim ini sudah cukup jahat, karena tidak diatur dengan apa yang diturunkan Allah.

Wahai para penduduk Bumi Kinanah, bukankah rezim ini pantas untuk dilawan, diruntuhkan, dan dihabisi? Adapun penggantinya, sudah jelas, yakni mengembalikan kehidupan Islam dengan menegakkan Khilafah sesuai metode kenabian, sebuah sistem yang telah Allah perintahkan kita untuk hidup di bawah naungannya dengan kehidupan Islami yang sesungguhnya. Allah Swt. berfirman, “Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi). Dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan kami perlihatkan kepada Firaun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu.” (TQS Al-Qasas: 5-6)

Diterjemahkan dari Surat Kabar Ar-Rayah edisi 351, terbit pada Rabu, 3 Muharam 1443 H/11 Agustus 2021 M

Sumber :
https://mediamuslimtimurtengah.wordpress.com/2021/08/21/bukankah-sistem-seperti-itu-pantas-dibuang-ke-lembah-yang-dalam/#more-560

https://www.alraiah.net/index.php/political-analysis/item/6268-2021-08-10-16-11-14