December 6, 2022

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh: Nanis Nursyifa

Baru-baru ini Pemerintah Indonesia menyampaikan belasungkawa atas tragedi maut di Distrik Itaewon, Seoul, Korea Selatan atau Korsel. Jokowi mengatakan Indonesia bersama rakyat Korea Selatan (Korsel).

Pernyataan itu disampaikan Jokowi di akun Twitter-nya seperti dilansir oleh detikcom, Minggu (30/10/2022). Ucapan belasungkawa itu disampaikan Jokowi dalam bahasa Inggris.

Kepolisian Korea Selatan sedang menyelidiki apa yang menyebabkan pengunjung acara Halloween berdesak-desakan di satu ruas jalan sempit di ibu kota, Seoul pada Sabtu malam (29/10) yang mengakibatkan setidaknya 154 orang meninggal dunia.

Sebagian besar korban meninggal dunia adalah para remaja berusia 20-an tahun. Sembilan belas diantaranya diyakini warga negara asing. Keterangan dari Kementerian Luar Negeri Indonesia menyebutkan, ada “dua WNI yang luka ringan” akibat tragedi itu.

Tragedi Halloween di Korsel jelas membuat kita prihatin, Namun disisi lain kita juga prihatin dengan keperdulian penguasa yang rasanya lebih memperdulikan rakyat lain dibandingkan kepada rakyat sendiri. Misalnya pada tragedi Kanjuruhan yang juga memakan korban dalam jumlah besar, terbukti tidak adanya pernyataan “Pemerintah bersama Kanjuruhan”.

Selanjutnya dapat dilihat bahwa ada pembiaran perayaan serupa di Indonesia. Padahal perayaan tersebut adalah budaya asing, yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia, bahkan tidak ada sedikit pun manfaat dari perayaan tersebut untuk membangun karakter pemuda di negara kita.

Hari halloween murni dari tradisi Barat. Bahkan hari halloween dimeriahkan secara berkala setiap tahun. Isi acaranya pun hanya untuk bersenang-senang dan buang-buang waktu.

Salah satu kaidah yang berlaku dalam syariat Islam bahwa jika sesuatu yang diperingati secara berkala maka hal ini bisa termasuk dalam hari raya, meskipun di sana tidak ada unsur ibadah atau ritual. Meskipun isi dari perayaan tersebut hanya sekedar bersenang-senang. Terlebih lagi ketika perayaan semacam ini dihiasi dengan gambar yang melambangkan pasukan iblis, yang jelas-jelas itu adalah musuh utama manusi.

Hal ini tentu saja semakin menunjukkan potret penguasa yang abai akan proses pembinaan karakter pemuda dalam rangka membangun peradaban bangsa di masa yang akan datang. Padahal dalam Islam, pemerintah bertanggung jawab atas pembentukan kepribadian generasi remaja melalui berbagai mekanisme, baik melalui pendidikan maupun non-pendidikan.

Islam memahami bahwa remaja berperan sangat penting bagi peradaban bangsa dan keberlangsungan agama. Remaja adalah sebagai tumpuan untuk generasi penerus perjuangan.

Remaja di masa Rasulullah dan Daulah Islam terdahulu, khususnya ketika Rasulullah menjadi pemimpin Negara Islam, maka para sahabat Rasulullah kebanyakan dari kalangan remaja yang memegang peranan penting. Banyak juga remaja Islam yang mengukir sejarah keemasan pada masanya. Hal ini tentu tidak terlepas dari besarnya peranan negara Islam dalam mendidik dan menciptakan karakter para remaja.

Oleh karena itu, sudah seharusnya negara menumbuhkan karakter para remaja ini dengan sebaik-baiknya karakter. Dan karakter remaja terbaik hanya akan bisa di dapatkan jika Islam di terapkan.[]