July 31, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Proses pendidikan tidak terlepas daripada metode yang digunakan, terlebih lagi didalam pendidikan islam. Menurut Yasin (2012) metode pengajaran yang benar adalah penyampaian (khithab) dan penerimaan (talaqqiy) pemikiran dari pengajar kepada pelajar.

Pemikiran atau akal merupakan instrumen proses belajar menagajar. Akal merupakan aset yang Allah karuniakan kepada diri manusia. Dengan kebenaran akal, Allah memuliakan manusia, emngutamakan manusia dari makhluk-makhluk yang lain, dan menjadikannya sebab penyebab dibebankannya suatu hukum (manath at-taklif). (Yasin, 2012)

Adapun pemikiran atau akal sendiri terdiri dari empat komponen yaitu : fakta, penginderaan, otak dan informasi sebelumnya yang terkait dengan fakta. Karena itu jika ingin mentransfer pemikiran kepada orang lain, maka seorang pengajar harus mentransfer pemikirannya melalui sarana yang bisa menjelaskan, sarana itu tidak lain adalah bahasa yang kita gunakan. Sehingga pemikirannya akan dapat terhubung dengan fakta yang diindera sehingga terjadilah transfer pemikiran.

Artinya penting bagi para pendidik dan pembelajar memahami makna ini yaitu mengkaitkan pemikiran dengan fakta. Sehingga seseorang akan paham apa yang dimaksud dengan gurunya ketika dia menangkap dan mentransfer pemikiran gurunya ke dalam dirinya melalui sarana bahasa dan terjadi proses berfikir tadi. Berikutnya bagi seorang guru juga harus memahami kapan pelajarnya memahami dan kapan tidak. Yaiut ketika pelajarnya mampu mentransfer maksud dari gurunya, kalau tidak mampu maka tidak terjadi pemahaman.

Jika pemikiran tidak dikaitkan dengan fakta maka hanya sekedar terjadi transfer informasi. Dan dengan informasi tersebut peserta didik hanya menjadi orang yang belajar bukan orang yang berfikir. Maka disinilah yang namanya metode antara penyampaian dan penerimaan pemkiran dari para pengajar keada pelajar menjadi satu frekuensi.

Bagaimana para pengajar mentransfer pemikiran tersebut? Tatkala mentransfer pemikiran kepada anak didik, seorang pengajar harus mendekatkan apa yang terkandung dalam pemikiran tersebut dengan makna-makna yang dipahami oleh anak didik, dengan cara menghubungkan antara pemikiran itu dengan fakta yang terindera atau yang sering dirasakan oleh anak didik, sehingga mereka memahaminya sebagai sebuah pemikiran bukan informasi.

Jadi seorang guru harus pandai dalam memberikan contoh, menjelaskan maksud dengan bahasa yang sederhana, bukan malah memperumit suatu permasalahan, sehingga dirinya seakan-akan bangga kalau ada membuat masalah yang tidak di pahami perserta didiknya. Dan para guru juga perlu mendorong peserta didiknya agar selalu peka terhadap realita yang terjadi.

Menurut Yasin (2012), pemikiran yang ditransfer pengajar kepada anak didiknya dapat dilihat sebagai berikut :

  1. Apabila faktanya telah dicerap lebih dulu oleh anak didik, atau baru dicerap saat disampaikan, maka berarti mereka telah menerima apa yang disampaikan sebagai sebuah pemikiran.
  2. Apabila faktanya tidak dicerap lebih dulu oleh anak didik, dan tidak dicerap pula saat disampaikan, namun fakta tersebut dapat tergambar dalam benak mereka sebagaimana yang disampaikan, lalu mereka membenarkan dan menerimanya seakan-akan mereka mencerap fakta tersebut, maka fenomena seperti itu juga dikatakan bahwa mereka telah menerima apa yang disampaikan sebagai sebuah pemikiran.

Oleh karena itu, konsep atau ide yang disampaikan pengajar kepada anak didiknya akan menjadi sebuah pemikiran ketika terjadi dalam dua perkara tersebut di atas. Jika konsep atau ide yang disampaikan tidak dikaitkan dengan fakta yang dapat dicerapnya, atau fakta tersebut tidak mungkin dijangkau, maka ide atau konsep itu hanya sebatas informasi belaka.

Instrumen terpenting dalam penyampaian atau penerimaan pemikiran pada proses belajar-mengajar adalah bahasa, yang merupakan kumpulan kata-kata, kalimat-kalimat, dan makna-makna yang mengarahkan kepada suatu pemikiran. Bahasa menjadi alat yang efektif dan penting dalam proses belajar-mengajar. Oleh karenanya, penguasaan bahasa menjadi suatu keharusan agar dapat menyampaikan informasi kepada peserta didik.

Dengan metode tersebut, yaitu pemikiran yang dapat dicerap atau tergambar dalam benak serta penggunaan bahasa, maka teks-teks pemikiran yang tertulis maupun terucap akan ditransfer ke dalam benak seseorang akan dipahami sebagaimana yang dimiliki oleh orang yang menyampaikannya. Metode ini dapat digunakan untuk menyampaikan seluruh jenis pemikiran, baik yang berhubungan langsung dengan pandangan hidup tertentu, seperti ideologi, maupun yang tidak berhubungan langsung dengan ideologi seperti ilmu sains dan matematika.

Pemikiran yang berhubungan langsung dengan pandangan hidup tertentu, atau pemikiran yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, dengan dirinya, dan dengan manusia lain harus selalu dan senantiasa terikat dengan akidah Islam. Pendekatannya harus menyentuh perasaan selain menyampaikan pemikiran, dan hendaknya dijelaskan hubungan pemikiran tersebut dengan kehidupan di dunia dan akhirat. Sehingga pemikiran itu akan mempengaruhi perilakunya.

Mempelajari teks pemikiran tidak berhenti pada makna-makna bahasa saja. Namun harus  dipahami untuk dapat diletakkan pada fakta yang terkait, agar dapat mengambil sikap sesuai dengan yang dituntut syara’. Pemikiran seperti ini dipelajari agar dapat mengendalikan perilaku anak didik, pelajar atau siapapun agar sesuai dengan hukum Islam.

Pendidikan bukan untuk kemewahan intelektual, atau kepuasan pengetahuan belaka, tetapi untuk membentuk kepribadian yang islami, pola pikir dan jiwa islami, yang selalu berusaha meraih keridhoan Allah SWT, yang tercermin dalam setiap perbuatan dan perkataannya. Sedangkan pemikiran yang berkaitan dengan ilmu-ilmu sains atau duniawi, maka dipelajari agar digunakan untuk mengelola alam semesta sesuai dengan aturan-aturan Allah SWT.

Begitulah seharusnya apabila kita ingin mengajarkan suatu pemikiran kepada orang lain agar dapat dipahami. Sehingga seseorang yang mendapatkan suatu pemikiran akan memahami sebagaimana apa yang kita sampaikan, baik dalam forum halaqoh, pembelajaran di kelas, maupun acara-acara seminar. Namun harus juga dipahami, bahwa proses transfer pemikiran ini akan berbeda-beda setiap orang, ada yang cepat, dan ada yang lambat. Dan yang paling ia istiqomah untuk memahami pemikiran tersebut.

Wallahua’lam