August 11, 2022

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh :  Elita (Pontianak)

Sejumlah perusahaan rintisan atau start-up yang cukup dikenal di Indonesia melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawannya. Beberapa di antaranya adalah LinkAja, Zenius, hingga sekelas Netflix melakukan PHK besar-besaran, sehingga muncul istilah startup bubble burst.

Dikutip dari Investopedia, bubble burst atau ledakan gelembung artinya sebuah siklus ekonomi yang ditandai dengan eskalasi nilai pasar yang terlalu tinggi dan cepat, namun diiringi juga dengan penurunan nilai dalam waktu yang juga cepat.

Fenomena ini terjadi akibat ketergantungan perusahaan startup pada pendanaan dari investor. Sehingga muncullah perusahaan-perusahaan modal ventura (VC) yang dibentuk untuk memberikan investasi kepada perusahaan-perusahaan start-up. Sebagai imbal baliknya, VC mendapatkan saham dari perusahaan start-up tersebut.

Namun, saat pasar memuncak, sejumlah situasi yang memicu kepanikan terjadi. Suku bunga dan inflasi yang melonjak tinggi hingga perang Rusia-Ukraina, menjadikan para investor berhati-hati untuk menyuntikkan dananya pada sejumlah start-up.

Walhasil, pasar saham start-up menurun, harga aset terjun, dan investasi menurun. Penurunan nilai yang cepat inilah yang dikenal dengan ledakan gelembung.

Inilah karakter bawaan ekonomi kapitalisme yang selalu menciptakan bubble ekonomi. Kondisi ini akan terus berulang sebab fondasi sistem ekonomi kapitalisme dibangun dari struktur ekonomi semu, yaitu sektor non-riil.

Sistem ekonomi Islam mencegah terjadinya bubble burst. Hal ini karena Islam tidak bergantung kepada pasar non-rill termasuk investasi asing karena hal itu bisa menjadikan ketergantungan terhadap negara lain. Jika negara tidak mengutamakan sektor riil, maka industri tidak menjadi skala prioritas. Akhirnya produksi negara menjadi tidak ada. Hal  ini sama saja dengan bergantung pada produk negara lain. Dampaknya, akan terus-menerus bergantung pada impor.

Dalam sistem ekonomi Islam, seluruh bisnis yang ada harus bertumpu pada sektor riil, termasuk start-up sehingga nilai aset akan sesuai dengan nilai intrinsiknya. Karena diperjualbelikan dengan nyata di pasar riil, bukan pasar saham yang bersifat spekulatif yang menyebabkan bubble ekonomi.[]

Wallahu’alam