December 6, 2022

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Clara Putri Gunawan (Pontianak)

Mungkin ini terlihat aneh, tapi ini benar-benar ada orang Islam, mendukung semarak LG8T dengan berbagai alasan, sedangkan Allah dan Rasul-Nya telah melarang. Seseorang mungkin menolak kebenaran saat dia menikmati kemaksiatan, tapi ini mengapa menolak kebenaran atas kemaksiatan orang lain?

Orang Islam, mendukung anaknya, saudara dan kerabatnya mendekati zina, menganggap pacaran sebagai label nilai seorang anak muda. Kalau tidak pacaran maka tidak akan laku dan bernasib buruk. Mereka lupa pada aturan Allah “Jangan mendekati zina”. Mereka lupa pada ayat Allah “Jagalah keluargamu dari api neraka”. Mereka kehilangan keyakinan, bahwa jodoh telah ada, tinggal proses penjeputannya, dengan cara halal atau haram, dengan berkah atau murka.

Anak muda tumbuh dengan lingkungan citayem fashion week. Pulang malam karena ketinggalan kereta, berdandan tidak sesuai gendernya. Kegiatan yang didukung oleh banyak public figure, tanpa sadar merusak ranah keilmuan dan keagamaan anak muda, berpeluang memancing kebodohan, pelecehan seksual, mempertontonkan aurat, interaksi laki-laki dan perempuan yang tak sepantasnya.

Usia yang seharusnya sibuk dengan karya bermanfaat, tapi menghabiskan waktu yang berakibatkan fatal pada negeri ini di masa depan. Usia yang seharusnya sibuk belajar agama dan menguatkan keyakinan kepada Allah, malah habis ‘belenggak lenggok’ dengan outfit yang tak sejalur dengan gendernya.

Para lelaki dengan bangganya memamerkan pacarnya, menyebarluaskan aib dia dengan wanitanya, mengunggah konten unfaedah yang membuat anak lainnya termotivasi bermaksiat. Para wanita, sibuk merangsang banyak orang untuk kontennya, menarik banyak followers dari aurat yang dia tampakkan.

Apakah sudah sejauh ini moral dan agama anak muda sekarang? Aurat di pamerkan, gender tak sejalur dengan cara berpakaian.

Kesalahan fatal saat ini kerap kali menyingkirkan aturan Allah dalam membuat keputusan, namun mengkutsertakan perasaan manusia dan mengutamakan hubungan antar manusia. Padahal saat wafat nanti, mereka tidak ikut, mereka kembali sibuk dengan dunianya masing-masing dan akan melupakan, hanya amal dan ketaatan yang bertahan sampai ke akhirat.

Mau heran, tapi ini akhir zaman. Tak apa menjadi terasing, daripada ramai dalam kemaksiatan, tetapi terasing pula mentaati Allah. Dunia tak lama, tapi berhasil membuat manusia buta, lalai. Wallahu a’lam bishawab.[]