July 29, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Tanggapan atas tulisan Yudha Pedyanto

Oleh: Pay Jarot Sujarwo

Membaca tulisan Yudha Pedyanto di WhatsApp Group yang dikelola olehnya, seketika memori saya melayang ke peristiwa kurang lebih 10 tahun silam. Penulis yang memiliki daya jelajah literasi mumpuni ini dalam pembukaan tulisannya mengulas seorang musisi kelas dunia yang memainkan violin di stasiun kereta bawah tanah (subway) di Washington DC, Amerika Serikat.

Musisi itu bernama Joshua Bell, musik yang dimainkannya berwarna klasik. Pada banyak Concert Hall, Bell mendapatkan gemuruh riuh tepuk tangan dan jutaan dolar di rekeningnya. Berbeda hasilnya saat ia memainkan musik elit dan elegannya di subway dengan peran sebagai pengamen, yang didapat hanya 32 USD saja. Begitu kira-kira Pedyanto membuka tulisan yang ia beri judul Iqra.

Di paragraf berikutnya Pedyanto juga mengutip sebuah artikel berjudul Pearls Before Breakfast yang ditulis oleh Gene Weingarten. Ini adalah artikel yang tayang di Washington Post yang berhasil memenangkan Pulitzer Price di bidang jurnalisme. Isi dari artikel ini tak hanya membahas tentang viralnya eksperimen Joshua Bell, tetapi analisa mendalam tentang average people can’t be expected to recognize quality and genius when it is right in front of them. Kebanyakan orang tidak bisa diharapkan untuk mengenali kualitas dari mahakarya genius meski itu nyata ada di hadapan mereka.

Sekarang mari kita masuk ke peristiwa yang saya alami 10 tahun silam. Setting tempatnya adalah kota Sofia, Ibu Kota Bulgaria, salah satu negara Balkan yang nyaris tak terdengar seandainya tidak ada pemain bola bernama Hristo Stoichkov. Tepat di tengah kota, penghubung antara Boulevard Maria Luiza menuju gedung Presiden, juga terdapat stasiun kereta bawah tanah. Di Eropa, stasiun semacam ini dikenal dengan sebutan Metro.

Ini adalah Stasiun Metro Serdica, salah satu Metro yang banyak dikunjungi orang. Lokasinya strategis bagi para pekerja karena di tengah kota, juga sangat sibuk dengan hilir mudik turis. Dari Stasiun Metro ini para turis bisa mengeksplorasi kota cukup dengan berjalan kaki. Masuk ke Boulevard Maria Luiza, di sana terdapat Masji Banya Bashi, satu-satunya masjid peninggalan khilafah utsmani yang masih berfungsungsi di kota Sofia. Di bawah tanahnya sendiri bersemayam sebuah kota tua peningalan Roma bernama Serdica berusia 20an abad, memaparkan peristiwa sejarah yang begitu berharga. Naik atas tanah nanti wisatawan bisa bertemu Gedung Presiden, Taman Kota, Art Gallery, juga gedung teater. Wajar kemudian Metro Serdica menjadi stasiun terpadat di kota Sofia. Karena metro terpadat, wajar juga jika kemudian di tempat ini dihiasi dengan atraksi menawan pengamen.

Waktu itu, posisi saya bukan turis yang terburu-buru, yang harus berpindah dari satu kota ke kota lain dalam waktu singkat. Saya memegang visa visiting dengan izin tinggal 90 hari. Sebagai pendatang yang tak punya banyak maklumat tentang Eropa, di masa awal kedatangan saya kerap takjub terhadap sesuatu. Termasuk saat bertemu dengan dua orang pengamen di tangga metro, begitu piawai memainkan chelo dan violin, membawakaan lagu-lagu berwarna klasik yang biasanya dinikmati oleh para elit di berbagai concert hall. Saya takjub.

Ya, saya hanya merasa takjub. Sama sekali tidak pernah berpikir seperti apa yang dipikirkan Pedyanto tentang Joshua Bell. Saya tak kenal siapa dua pengamen itu, saya tak tau berapa penghasilannya, saya juga tidak melemparkan koin di tempat yang sudah disediakannya. Saya menunggu di sana. Memperhatikan mereka bermain tanpa memiliki maklumat apapun. Menunggu mereka selesai bermain lalu sudah. Itu saja.

Dalam posisi ini, waktu itu, saya adalah average people yang tidak bisa mengenali kualitas dari mahakarya genius meski itu nyata ada di hadapan saya. Ketakjuban saya hanya menyoal perkara sesuatu yang tak terjadi di Indonesia dan sekarang saya alami di Eropa. Itu saja. Tidak lebih. Saya, berdasarkan apa yang disampaikan Pedyanto, adalah orang yang mengalami gejala defisit atensi terhadap karya klasik yang dihasilkan orang-orang jenius pada masanya.

Tapi saya tak ingin larut dalam nostalgia Musik Klasik di Metro Serdica yang sesungguhnya mengkonfirmasi tentang posisi saya sebagai average people yang mengalami gejala defisit atensi. Saya lebih tertarik dengan ulasan berjudul Pearls Before Breakfast dikaitkan dengan posisi Islam pada hari ini.

Al-islamu ya’lu wala yu’la alaihi. Demikian sabda Nabi Besar Baginda Muhammad SAW. Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya. Sabda Nabi ini teraplikasi dalam sistem kehidupan manusia yang kemudian membawa jalan terang, kemaslahatan, setelah selama beradab-abad manusia hidup dalam kebodohan yang sistemik (jahiliyah).

Islam sebagai sistem kehidupan bertahan selama kurang lebih 13 abad hingga akhirnya hancur berantakan dengan berbagai macam sebab. Tahun 1924 Masehi adalah penanda kehancuran tersebut hingga hari ini.

Al-islamu ya’lu wala yu’la alaihi yang merupakan mahakarya dari Allah SWT pada kenyataannya hari ini dipandang tak lebih dari agama ritual yang hanya mengurusi urusan personal antara manusia dengan penciptanya. Tidak lebih. Average people pada akhirnya tak lagi kenal betapa tingginya Islam. Parahnya lagi, average people malah termakan opini negatif tentang betapa mulianya ajaran Islam, khilafah.

Tentu saja kita di sini tak mau menjadi average people semacam itu. Tulisan mustanir dari Pedyanto berjudul Iqra sudah seharusnya menjadi cambuk bagi kita semua untuk tak pernah lelah membaca. Untuk ikhtiar maksimal keluar dari gejala defisit atensi. Dan yang utama untuk menjadi manusia-manusia istimewa dengan mengembalikan posisi Islam di tempatnya. Tempat tertinggi hingga tak ada satupun yang lebih tinggi darinya.

Bagaimana caranya? Apalagi kalau bukan menjadi salah satu pejuang tegaknya institusi negara bernama Khilafah.