October 18, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Yudha Pedyanto

Pada suatu pagi di bulan Januari, di sebuah stasiun kereta bawah tanah L’Enfant Plaza di Washington D.C, seorang pemain violin memainkan musik klasik yang cantik dan elegan. Dia sengaja memilih tempat di subway karena secara akustik mendukung permainannya.

Pemain violin tadi bermain hampir satu jam lamanya. Seperti layaknya pengamen, ia menyiapkan tempat sumbangan uang bagi para komuter yang lewat. Sayang, ia hanya berhasil mengumpulkan $32 saja. Padahal lagu klasik yang ia mainkan bukan kaleng-kaleng: Bach, Schubert, Massenet dan Manuel Ponce.

Lebih tepatnya, salah satu gubahan yang dimainkannya adalah Bach’s Violin Partita No. 2 in D Minor. Bagi yang belum familiar, gubahan tadi adalah salah satu karya solo violin terbesar serta gubahan komposisi klasik terbaik yang pernah dibuat. Tapi sayang, pemain violin tadi tidak mendapatkan apresiasi yang semestinya.

Tahukah Anda siapa pemain violin itu? Namanya Joshua Bell. Dia adalah salah satu pemain musik klasik terbaik di dunia. Biasa perform di Boston Concert Hall. Tiket masuknya $100 (1,5jt rupiah). Jadi per jam ia dapat $60,000 (hampir 1M rupiah). Bandingkan ketika ia ngamen di subway hanya dapat $32 (400rb-an rupiah).

Itu belum apa-apa. Anda tahu alat musik yang dipakainya mengamen? Violin tersebut bernama Gibson Stradivarius, yang dibuat oleh Antonio Stradivari, seorang pengrajin instrumen legendaris Italia abad 18 M. Violin antik yang sudah berusia tiga abad tadi ditaksir bernilai $3,5 juta (51M rupiah).

Seorang musikus klasik terbaik di dunia dengan net worth $15 juta, biasa bermain di Boston Concert Hall dengan tiket masuk 1,5jt rupiah dengan bayaran 1M rupiah per jam, menggunakan violin antik seharga 51M rupiah, lalu “mengamen” di subway, dan hanya mendapatkan 400rb-an rupiah. Bagaimana Anda bisa menjelaskan fenomena ini?
Eksperimen sosial yang bertajuk “The Great Subway Station Violin Experiment” itu pun menjadi viral dan banyak dibahas. Salah satu pembahasan yang paling mengena adalah dari sudut pandang marketing; bahwa produk hebat itu tidak cukup. Produk hebat akan benar-benar berdampak hebat, jika dan hanya jika produk hebat tadi diintrodusir dan dikemas dengan cara yang hebat pula.

Tapi ada analisis dan sudut pandang lain yang lebih fantastis dan urgen untuk dibahas. Analisis tersebut dituangkan dalam bentur artikel feature di Washington Post. Atikel yang berjudul Pearls Before Breakfast yang ditulis oleh Gene Weingarten, berhasil memenangkan Pulitzer Prize di bidang jurnalisme.

Intisari dari artikel tersebut adalah; average people can’t be expected to recognize quality and genius when it is right in front of them. Kebanyakan orang tidak bisa diharapkan untuk mengenali kualitas dari mahakarya genius meski itu nyata ada di hadapan mereka. Saya menyebut penyakit ini sebagai defisit atensi.

Dan obat dari penyakit defisit atensi ini hanya satu; pay an attention! Atau perhatikan! Atau dalam bahasa yang lebih sederhana; bacalah! Atau dalam bahasa Al-Quran; iqra! Membaca bukan sekedar mengartikan simbol-simbol huruf. Membaca sejatinya adalah memahami apa yang ada dihadapan kita dengan penuh kesadaran.

Ketika kita tidak mahir iqra, baik secara individu apalagi kolektif, kerugian yang harus dibayarkan sangat katastropik. Orang yang tidak atentif (gagal membaca) banyaknya kenikmatan yang dianugerahkan Allah SWT atas dirinya; maka akan jadi orang yang menderita (kufur nikmat) dan selalu merasa kekurangan selama hidupnya.

Orang yang tidak atentif (gagal membaca) potensi dirinya atau orang lain, ibaratnya seperti seorang super hero yang tidak pernah menggunakan kekuatan super-nya sampai mati. Sia-sia. Umat yang tidak atentif terhadap nasibnya, maka akan terus terpuruk dan jadi permainan dan bulan-bulanan umat lain.

Ketika sebelum jadi Nabi, Baginda Rasulullah Muhammad SAW sangat atentif atas situasi masyarakat di sekitarnya. Beliau mempertanyakan mengapa tata kelola masyarakat sedemikian rendah dan nista. Sampai beliau SAW rutin “berkontemplasi” di Gua Hira. Wahyu yang pertama turun pun kembali menegaskan apa yang harus beliau lakukan; iqra!

Berbagai kriminalisasi serta persekusi terhadap wacana alternatif seperti khilafah yang marak terjadi belakangan ini, menurut saya juga sebuah kegagalan fatal akibat defisit atensi kolektif. Padahal khilafah adalah ajaran Islam yang sangat mulia, mahkota kewajiban, warisan Rasulullah SAW, serta secara historis sudah proven terbentang panjang 13 abad lamanya.

Tapi sebagaimana pemain violin yang bernilai jutaan dollar diabaikan oleh para komuter di subway Washington D.C, begitu pula dengan khilafah dengan kilauan emas ajaran dan prestasinya diabaikan oleh sebagian masyarakat, yang (dikondisikan) gagal membaca situasi dan ajaran agamanya sendiri.

Nah yang diperlukan adalah ikhtiyar seperti yang dilakukan Gene Weingarten, lewat Pulitzer winning artikelnya “Pearls Before Breakfast” berhasil menggugah kesadaran banyak orang. Maka kita pun perlu menyingkap tabir (kasyf al-khuthat) yang menghalangi umat agar bisa membaca lagi lebih jernih dan jelas.

Terakhir, saya ingin mengutip pernyataan Joshua Bell; “When you play a violin piece, you are a storyteller, and you’re telling a story.” Maka setiap muslim sejatinya adalah seorang pengemban dakwah, dan “Ketika kamu berdakwah, kamu adalah penutur kisah, dan kamu menceritakan sebuah kisah.”

Mari belajar bersama membuat tulisan, podcast, atau konten dakwah yang atentif, naratif dan inventif tentang khilafah dan ajaran Islam yang mulia. Selamat membaca dan berkarya.