April 17, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Tanggapan atas tulisan Pay Jarot Sujarwo & Yudha Pedyanto

Oleh : W. Irvandi

Membaca kedua tulisan dari Pay Jarot Sujarwo dan Yudha Pedyanto, menunjukkan bahwa kita harus menjadi manusia pembaca. Saya bukan penulis, apalagi memiliki literasi yang mempuni. Namun ketika membaca tulisan mereka berdua, maka diri ini harus kembali menggali potensi, salah satunya dengan membaca dan menulis.

Tulisan keduanya mengulas tentang musisi kelas dunia yang memainkan violin mahal, Joshua Bell, serta kisah Stasiun Metro Serdica di kota Sofia, Ibu Kota Bulgaria, di sana juga menceritakan para pengamen yang memainkan alat musiknya namun hanya sekedar dilihat dan dilewati begitu saja oleh kebanyakan orang.

Jangan ditanyakan juga bagaimana piawainya mereka berdua menuliskan kisah dan perjalanan serta menganalisa tentang average people can’t be espected to recognize quality and genius when it is right in front of them. Bahwa banyak orang tidak bisa diharapkan untuk mengenali kualitasi dari suatu mahakarya meskipun ada di depan mereka. Bisa jadi termasuk diri ini bagian dari kebanyakan orang tersebut, yang dikatakan terkena penyakit defisit atensi maksudnya adalah kurang perhatian dengan seksama atau kurang membaca sederhananya.

Dari keduanya ada pesan berharga yang bisa kita petik dan kita ambil, yaitu banyaklah membaca. Tundukkan diri dan rendahkan diri agar mau membaca. Kelemahan dalam membaca biasanya dimulai dari sikap sombong yang dimiliki, merasa tau segalanya sehingga cukup mengatakan ‘ooo paling isinya begitu’, lebih parahnya lagi, memberikan komentar apapun tentang sesuatu namun tidak tau apa yang sedang dikomentari karena kurangnya membaca atau tidak membaca sama sekali.

Bung Pay Jarot Sujarwo sudah mencukupkan kita untuk membaca tulisan ‘Iqra’ agar keluar dari lingkaran ‘average people’, bahkan tulisan beliau sebenarnya menekankan lagi terhadap pentingya tulisan Ustadz Yudha tersebut. Bagaimana isi kedua tulisan tersebut, sebaiknya juga langsung saja baca tulisan keduanya.

Lalu apa pentingnya tulisan ini? Kenapa perlu menulis lagi? Tulisan ini sebenarnya hanya untuk diri sendiri saja agar tidak menjadi bagian dari ‘average people’, karena kalau membaca ini semoga jadi ingat bahwa kesombongan lah yang menjadikan saya bagian dari ‘average people’ tersebut. Artinya hanya ingin mengaku saja bahwa masih menjadi ‘average people’ dan mencoba lebih banyak membaca sekaligus merendahkan diri agar dapat keluar dari kungkungan kesombongan.

Hal ini juga berlaku kepada mahakarya yang tiada tandingnya, yaitu Islam dengan ajarannya. Islam sejak awal melalui Al-quran sudah mengklaim akan meraih kemenangan dalam kondisi apapun, walaupun banyak yang tidak menyukai. Islam juga merupakan solusi atas berbagai problem yang menggeluti dan menyelimuti manusia, sehingga mereka akan mendapatkan ketenangan dan ketentraman.

Mahakarya bukan buatan manusia ini dibawa oleh manusia yang juga bukan bagian dari ‘average people’, tetapi manusia terbaik dan manusia pilihan yaitu Rasulullah saw. Namun masih saja ada orang yang tidak mau melihat apa yang dibawa olehnya dan mau membukakan pintu untuk menerima Islam. Salah satu diantara penutup pintu tersebut bisa jadi karena kesombongan yang ada pada diri. Maka kunci untuk membukanya berarti harus meruntuhkan kesombongan itu pula.

Islamnya para sahabat mulia, dari peristiwa Umar bin Khattab hingga pemuda kebanggan Mush’ab bin Umair, serta panglima Khalid bin Walid maupun sosok wanita teladan Hindun binti Utbah yang berkata, “Wahai Rasulullah, segala puji bagi Allah yang telah menurunkan agama yang menjadi pilihan-Nya, agar dapat bermanfaat bagi diriku. Semoga Allah memberi rahmat-Nya padamu, wahai Muhammad. Sesungguhnya aku wanita yang telah beriman kepada Allah dan membenarkan apa yang disampaikan Rasul-Nya.” Mereka semua adalah contoh-contoh yang telah meruntuhkan kesombongan diri.

Bahkan Allah SWT juga sudah memperingatkan, yang menzalimi manusia itu adalah diri mereka sendiri dan bisa jadi salah satunya kerena sifat sombong yang dimiliki sehingga menjadi orang yang menolak kebenaran yaitu Islam. Dan tidak mungkin Allah menzalimi hamba-Nya sedikitpun juga. Makanya Allah berfirman:
“Dan Rabbmu tidak akan pernah menzalimi siapapun juga.” (QS. Al-Kahfi[18]: 49)

Padahal Allah mampu berbuat zalim terhadap hamba-hamba-Nya namun Allah tidak ingin berbuat zalim. Maka Allah kembali menegaskan hal tersebut untuk menunjukkan betapa adilnya Allah. Allah Ta’ala berfirman,
“Dan Rabbmu sama sekali tidak berbuat zalim pada hamba-hamba-Nya” (Q.S Fushshilat: 46).

Munculnya upaya penerapan syariah dan perjuangan Khilafah, ramainya film JKDN, dan berbagai karya-karya lainnya, sebenarnya juga sudah cukup agar kita senantiasa terlibat dalam upaya membangun peradaban Islam secara bersama-sama. Namun sekali lagi kesombongan-kesombongan itu mungkin masih ada pada diri kita.

Jangankan menghasilkan suatu karya, menerima karya tersebut sebagai sesuatu yang berharga saja enggan, minimal dengan membaca, mendengarkan atau menyaksikan. Maka sebenarnya maukah kita merendahkan diri, membaca, mendengar, menyaksikan apa yang dimaksud dengan Khilafah dan penerapan syariah Kaffah tersebut? Bacalah lalu terlibat dalam karya perjuangan. Semoga Allah memberikan petujuk kepada kita semua, menghilangkan rasa kesombongan dan di istiqomahkan dalam kebenaran.[]