July 31, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh: Agustina (Aktivis Back To Muslimah Identity)

Akhir-akhir ini media sosial digemparkan oleh statment bapak Wakil Presiden bahwa K-Pop dan K-Drama bisa jadi Inspiras anak muda. (Republika.co.id, 20/9) Terkait narasi yang diungkapkan beliau di era milenial ini adalah suatu kebutuhan lahiriah manusia untuk mengisi waktu kosong. Hal tersebut sudah terjadi dari tahun 1990 sampai sekarang dalam rangka menghibur diri atau melakukan hobbi, seperti aktivitas menonton film atau mendegarkan musik yang paling digemari. K-Pop dan K-Drama adalah karya yg dibuat oleh negara Korea Selatan, baik itu berbentuk drama TV maupun lagunya yang menghipnotis anak muda dari masa ke masa.

Memang tak bisa dipungkiri, pesona budaya Korean Wave telah membawa pengaruh bagi para remaja. Tetapi rasanya terlalu berlebihan apabila menjadikan Korea sebagai panutan sebagaimana pernyataan bapak Wakil Presiden Ma’ruf Amin. Ketertarikan warga Indonesia telah mendorong meningkatnya wisatawan Indonesia ke Korea dan diharapkan wisatawan korea juga semakin banyak yang datang ke Indonesia. Selain itu, maraknya budaya K-Pop diharapkan juga dapat menginspirasi munculnya kreativitas anak muda Indonesia dalam berbudaya, berkreasi dan mengenalkan keragaman budaya Indonesia keluar negeri.

Namun apa yang beliau utarakan patut dipertanyakan. Apabila ditelusuri jika anak muda setiap hari nonton K-Drama, menyukai budaya korea seperti beli produk-produk Korea, makanan khas Korea, poster-poster idol, mendengar lagu-lagu korea dan semua hal-hal tentang Korea, pertanyaannya apakah orang Korea akan tertarik ke Indonesia atau orang Indonesia yang tertarik untuk jalan-jalan ke Korea? Apakah orang Korea yang akan kenal budaya Indonesia atau orang Indonesia yang kenal budaya korea?

Layakkah Korea menjadi Inspirasi remaja Muslim? Meskipun K-Pop menghasilkan banyak materi bagi para pelakunya, namun K-Pop rentan dengan kerusakan lifestyle dikalangan remaja. Seharusnya pemuda dan remaja Islam bisa melanjutkan perjuangan sebagaimana sahabat dan ulama terdahulu yang mampu membendung budaya yang menyimpang dari syariat Islam. Menjadikan Islam sebagai pandangan hidup. Berjuang menegakkan kebenaran. Mengkampanyekannya menjadi sumber lifestyle global.

Seharusnya negara kita fokus untuk membangun karakter generasi muda, dan semakin mengenal agamanya. Apabila kita lihat sejarah sebagaimana negara Khilafah membina generasi muda dilakukan sejak usia dini, seperti mengajarkan sholat dan hukum syara. Sistem pergaulan yang bersih antara kehidupan pria dan wanita pun terpisah tidak ada ikhtilat, khalwat, apalagi pacaran hingga perzinahan. Generasi muda disibukkan dalam ketaatan, agar tidak terposok dalam kesia-siaan.

Sebenarnya hanya sedikit sekali dampak positif dari budaya Korea yakni hanya sekedar menambah pengetahuan dan Bahasa Korea saja. Namun, dampak negatifnya jauh lebih besar seperti lunturnya nilai-nilai agama, budaya dan merusak lifestyle dikalangan remaja. Jadi rasanya tidak pantas untuk menjadikan Korea panutan, karena kita adalah negara yang berTuhan dan seharusnya berstandar pada agama khususnya agama Islam, karena memiliki aturan yang paripurna. []

Wallahu’alam