October 24, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Tahun 2020 akan menjadi tahun kelaparan terburuk di Yaman, akibat perang saudara, serangan koalisi, pandemi Corona, dan banjir. Surat kabar Inggris The Independent menegaskan dalam laporannya bahwa di Yaman, perang bertahun-tahun telah menyebabkan kemiskinan massal, kelaparan, penyakit kronis, dan menghancurkan fasilitas perawatan kesehatan.

Bahkan sebelum pandemi, 80 persen penduduk Yaman sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan. Program Pangan Dunia PBB menyatakan bahwa Covid-19 berkontribusi pada “badai sempurna” masalah yang membuat jutaan orang Yaman mengalami krisis pangan yang lebih dalam. (Independent.co.uk, 25/7/2020)

Hal ini dikarenakan di Yaman bergantung kepada bantuan makanan dari luar negeri, sedangkan kondisi dalam negeri semakin memburuk karena terjadinya pandemi.

Diperkirakan tahun 2020 akan menjadi yang terburuk dalam hal total populasi yang membutuhkan bantuan makanan. Sekitar 2,4 juta anak-anak di Yaman berada di ambang kelaparan pada akhir tahun ini, akibat konflik dan kekurangan bantuan kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. (hizb-ut-tahrir.info, 2/8/2020)

Menurut Ibrahim Saif sejak tahun 2008 yang dikuti dari Carnegie Endowment, ekonomi Arab harus menghadapi realitas masalah di sektor pertanian yang tidak efisien dengan masalah keuangan dan pasar yang serius. Masalah ini akibat dari kebijakan pertanian yang salah arah karena menawarkan insentif yang menyimpang kepada petani yang tidak terampil.

Selain itu menurunnya output di sektor pertanian diakibatkan masifnya migrasi desa-kota dan pengabaian pembangunan pertanian dan pedesaan. Lingkungan yang tidak mendukung, ditandai dengan kelangkaan air dan minimnya tanah subur. Menurut Bank Dunia, wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA) merupakan 5 persen dari populasi dunia tetapi kurang dari 1 persen yang punya sumber daya air tawar terbarukan. Dari 20 negara di dunia dengan ketersediaan air tawar internal terbarukan di bawah 1000 meter kubik perkapita, lima belasnya berada di MENA.

Sementara itu Amerika Serikat masih mencengkram kakinya di kawasan Timur Tengah, diantaranya Arab Saudi dan Iran terus melayani tujuan dari kebijakan Amerika di Yaman, khususnya melalui Operasi Badai Penentu (‘Āṣifat al-Ḥazm) yang memungkinkan untuk memberdayakan Houthi secara militer. DI sisi lain Inggris dan Eropa yang mendukung pemerintah Hadi dan Dewan Transisi di selatan untuk melayani kepentingan Eropa. Ini adalah perang proksi.

Amerika mendukung Yaman melalui Houti secara langsung mencegah pemerintah Hadi, dan mencekiknya, serta menutup pelabuhan Hudaydah, sebab Amerika ingin pelabuhan Hudaydah tetap menjadi portal “kemanusiaan” untuk Yaman.

Negara-negara Arab masih menjadi pelayan setia bagi Amerika dan Inggris maupun Eropa dan pengaruhnya tidak akan hilang selama penguasa-penguasa antek masih di tempatkan disana maka bisa jadi krisis akan terus-menerus berlangsung. (WI)