May 21, 2022

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Muhammad Abduh Hirawan
Berita

Direktur Keamanan Negara Badan Intelijen Keamanan Polri, Brigjen Pol Umar Effendi membeberkan pihaknya akan melakukan pemetaan terhadap masjid-masjid untuk mencegah penyebaran paham terorisme.
Pernyataan itu disampaikan dalam agenda Halaqah Kebangsaan Optimalisasi Islam Wasathiyah dalam Mencegah Ekstremisme dan Terorisme yang digelar MUI disiarkan di kanal YouTube MUI, Rabu (26/1).

“Kemarin kita juga sepakat dalam diskusi mapping masjid, Pak. Mohon maaf,” ujar Umar.

Namun di dalam tayangan Youtube itu, Umar tak merinci kategori dan lokasi masjid yang masuk dalam pemetaan Polri. Dia hanya mengatakan ada masjid yang cenderung ‘keras’.

“Masjid warnanya macam-macam ada yang hijau, ada yang keras, ada yang semi keras dan sebagainya. Ini jadi perhatian kita semua,” kata dia.

Komentar :

Agenda terorisme sebenarnya merupakan kepanjangan proyek Amerika Serikat sejak program War On Terorisme tahun 2001, yang berimplikasi pada invasi AS ke afghanistan. Bersambung pula pada invasi ke Iraq, dengan alasan senjata pemusnah massal yang dikemudian hari, senjata itu tak pernah ada. Agenda terorisme ini sebenarnya adalah perang barat terhadap Islam, karena hanya Islam yang sanggup berhadap-hadapan pada Ideologi Kapitalisme yang diemban AS dan sekutunya. AS dan sekutunya mengetahui, proyek dakwah melanjutkan kehidupan Islam dalam naungan Khilafah masih terus berjalan dan semakin masif dari tahun ke tahun.

Aparat keamanan yang mayoritas muslim, sudah seharusnya menghindari konflik dengan kaum muslimin dalam hal ini terkait masjid dan pondok pesantren.

Allah Swt. berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan prasangka (kecurigaan) karena sebagian dari prasangka itu dosa. Janganlah kalian memata-matai (mencari-cari keburukan orang). Jangan pula kalian menggunjing satu sama lain. Apakah seorang di antara kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kalian merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (TQS al-Hujurat [49]: 12).

Tajassus secara bahasa bermakna mencari-cari berita dan menyelidiki sesuatu yang bersifat rahasia. Berkaitan dengan ayat di atas, Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahulLâh berkata, “Janganlah kalian mencari-cari keburukan orang lain dan jangan pula menyelidiki rahasia-rahasianya untuk mencari keburukan-keburukannya.” (Ath-Thabari, Tafsir ath-Thabari, 22/304).

Imam adz-Dzahabi rahimahulLâh berkata, “Para ahli tafsir mengatakan: tajassus adalah mencari-cari keburukan dan cacat kaum Muslim. Ayat di atas bermakna: janganlah salah seorang di antara kalian mencari-cari keburukan saudaranya untuk diketahui, padahal Allah ‘Azza wa Jalla telah menutupinya.” (Adz-Dzahabi, Al-Kabâ’ir, hlm. 159). Senada dengan ayat di atas, Rasulullah saw. bersabda, sebagaimana dituturkan oleh Abu Hurairah ra.:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الحَدِيثِ، وَلاَ تَحَسَّسُوا، وَلاَ تَجَسَّسُوا، وَلاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَلاَ تَبَاغَضُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

“Jauhilah oleh kalian prasangka. Sungguh prasangka itu berita yang paling dusta. Janganlah kalian melakukan tahassus, tajassus, saling hasad, saling membelakangi dan saling membenci. Jadilah kalian bersaudara, wahai para hamba Allah!” (HR al-Bukhari).

Dalam kesempatan ini, selagi masih ada kesempatan, hendaklah segera bertobat! Janganlah lanjutkan perlakuan zalim ini kepada kaum Muslim. Jika keadaan ini masih berlangsung, niscaya hal demikian akan mengantarkan Anda pada penyesalan abadi di Akhirat nanti. Allah Swt. berfirman:

اِنَّمَا السَّبِيۡلُ عَلَى الَّذِيۡنَ يَظۡلِمُوۡنَ النَّاسَ وَ يَبۡغُوۡنَ فِى الۡاَرۡضِ بِغَيۡرِ الۡحَقِّؕ اُولٰٓٮِٕكَ لَهُمۡ عَذَابٌ اَلِيۡمٌ

“Sungguh kesalahan hanya ada pada orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di bumi tanpa (mengindahkan) kebenaran. Bagi mereka itu siksaan yang amat pedih.” (TQS asy-Syura [42]: 42).