August 4, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

BerandaIslam.com- Hari Raya Idhul Adha 1442 H adalah hari raya bagi umat Islam. Pada hari ini pula, umat Islam dari berbagai penjuru dunia biasanya melakukan ibadah haji di Tanah Suci termasuk disyariatkan mengerjakan shalat ‘id dan menyembelih hewan kurban. Namun hari raya ini masih dalam kondisi pandemi yang belum berakhir. Tingkat yang terinfeksi virus semakin meningkat namun penanganannya tidak makin tidak jelas arahnya. Demikian juga dengan ketidak-kepercayaan publik yang makin tinggi akibat salah urus sejak awal.

Dalam sistem sekuler-kapitalis saat ini, asas yang digunakan dalam mengatasi pandemi adalah asas manfaat atau untung-rugi. Adapun tahapan yang dilakukan untuk mengatasi pandemi diantaranya; pertama, menyembunyikan topik. Kedua, karantina dan isolasi parsial dengan berbagai macam bentuk istilah. Dan ketiga, isolasi semi total di rumah. Dengan merenungkan secara mendalam tiga solusi itu menjadi jelas bahwa hal tersebut tidak mengatasi persoalan, tetapi akan meningkatkan kegagalan ekonomi dan kegagalan lainnya. Kemudian semakin melipatgandakan penyakit dan penyebarannya serta kebosanan dan kejemuan yang menimpa masyarakat terus-menerus terjadi seperti yang kita dengar tentang kondisi-kondisi di masyarakat kapitalis.

Adapun solusi yang shahih untuk penyakit ini adalah seperti yang ada di dalam syariah Allah SWT. Yakni dengan menelusuri penyakit tersebut sejak awalnya dan bekerja membatasi penyakit di tempat kemunculannya sejak awal dan orang-orang sehat di tempat-tempat lainnya tetap bekerja dan berproduksi. Sehingga bagi wilayah yang terdampak di tutup secara total.

Imam al-Bukhari telah meriwayatkan di dalam Shahih-nya dari Usamah bin Zaid dari Nabi saw, beliau bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

“Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.”

Berdasarkan hal itu maka negara di dalam Islam membatasi penyakit di tempatnya dan penduduk di wilayah tersebut tetap tinggal di situ dan penduduk lainnya tidak masuk ke tempat tersebut. Selain itu, negara di dalam Islam juga melakukan kewajiban syar’iy lainnya karena merupakan negara yang melayani dan amanah. Kewajiban tersebut diantaranya menjamin pelayanan kesehatan berupa pengobaan dan obat secara gratis untuk seluruh rakyat, mendirikan rumah sakit dan laboratorium pengobatan dan lainnya yang termasuk kebutuhan asasi rakyat daulah seperti halnya pendidikan dan keamanan.

Pada level keimanan, kita wajib mengimani bahwa Allah sajalah yang kuasa menghidupkan dan mematikan manusia. Semuanya ada dalam genggaman Allah, baik sakit maupun kesembuhan, baik kebaikan maupun keburukan.

Orang beriman juga harus meyakini bahwa semua hal termasuk musibah datangnya dari Allah. Oleh karena itu, Allahlah tempat meminta segala sesuatu. Saat ditimpa musibah, setiap muslim wajib bersabar. Semua urusan ia serahkan kepada Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

«مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ»

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Taghabun: 11).

Pada saat ditimpa musibah, kaum muslimin harus bertobat, meningkatkan ibadah, banyak berdoa, dan melaksanakan berbagai amalan nafilah lainnya sebagai bentuk taqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sekarang ini adalah momen untuk kembali kepada Allah dengan taubat yang sesungguhnya, yaitu dengan melaksanakan ketaatan secara totalitas atas semua ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana yang dicontohkan dalam peristiwa monumental, ketaatan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘Alaihimassalam.

Peristiwa agung pengorbanan Nabi Ibrahim dalam menaati perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menyembelih putranya, Ismail adalah contoh ketaatan totalitas. Bagi Nabi Ibrahim, Ismail adalah buah hati, harapan dan kecintaannya, yang telah lama dinantikan. Namun di tengah rasa bahagia itu, turunlah perintah Allah kepadanya untuk menyembelih putra kesayangannya tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

«فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى»

“Maka tatkala anak itu telah sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu” (QS. al-Shaffat: 102).

Terhadap perintah itu, Nabi Ibrahim mengedepankan kecintaan yang tinggi yakni kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menyingkirkan kecintaan yang rendah, yakni kecintaan kepada anak, harta, dan dunia. Perintah amat berat itu pun disambut oleh Ismail ‘Alaihissalam dengan penuh kesabaran. Ismail pun mengukuhkan keteguhan jiwa ayahandanya dengan mengatakan,

«قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ»

“Wahai Ayahanda, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. al-Shaffat: 102)

Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tersebut seharusnya menjadi teladan bagi kita saat ini. Tidak hanya teladan dalam pelaksanaan ibadah haji dan ibadah qurban, namun juga teladan dalam berjuang dan berkorban demi terwujudnya ketaatan kepada hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala secara kaffah. Sungguh, kini banyak hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diabaikan, termasuk hukum syariah di dalam mengatasi wabah pandemi. Terlebih lagi abainya manusia terhadap syariah Islam yang berkaitan dengan pengaturan kehidupan bermasyarakat dan bernegara, seperti dalam bidang pemerintahan, ekonomi, sosial, hukum pidana, pendidikan, politik luar negeri dan sebagainya.

Maka dari itu, penerapan syariat sebagai wujud ketaatan total kepada Allah Ta’ala mengharuskan adanya pemimpin yang adil yang menerapkan sistem yang adil pula, yakni sistem Islam. Kepemimpinan Islam seperti itu juga berfungsi sebagai penjaga (hâris) bagi kaum muslimin, baik agama, darah, harta, maupun kehormatan mereka.

Spirit sami’nâ wa atha’nâ sebagaimana yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘Alaihimassalam jelas membutuhkan pengorbanan. Dalam konteks ini, kita patut bertanya pada diri kita sendiri: sejauh manakah pengorbanan kita dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, melaksanakan kewajiban penerapan syariah Islam, dan memutuskan perkara dengan apa yang telah Allah turunkan?

Jika kini kita bersegera, dan dengan ringan memenuhi perintah berkurban, padahal itu menurut jumhur fukaha hukumnya sunnah, maka semestinya kita lebih bersegera, dan dengan lebih ringan menerapkan syariah Allah sebagai wujud ketaatan kepada-Nya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala segera menurunkan pertolongan-Nya kepada kaum muslimin. Semoga pula kita termasuk hamba-hamba-Nya yang istiqamah, dan berkorban penuh keikhlasan dalam rangka mewujudkan kehidupan Islam. Hasbunal-Lâh wa ni’mal wakîl ni’ma al-mawlâ wa ni’ma al-nashîr, lâ haula wa lâ quwwata illa bil-Lâh.[]

Wallahu’alam Bisshowwab