September 17, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat


Oleh: Ustaz Hasballah An-Nour

Setiap negara memiliki keinginan, kepentingan, kebutuhan, dan kedaulatan yang berkaitan dengan sektor eksternalnya yang disebut sebagai objek vital negara, kepentingan nasional, atau kepentingan utama negara. Objek vital tersebut berkaitan dengan pertahanan, ekonomi, ideologi, dan lain sebagainya. Berbagai negara menggunakan berbagai gaya dan cara untuk mencapai semuanya, bahkan jika harus mempertaruhkan hidup dan mati. Di sisi lain, objek vital dapat berkembang di wilayah negara masing-masing sampai mencakup seluruh dunia, sehingga seluruh dunia menjadi wilayah objek vitalnya. Sebagaimana proses perkembangannya, mungkin saja objek vital suatu negara ini mengalami penyempitan, bahkan sampai merasa terdesak untuk mempertahankan negara mereka sendiri. Semua itu tergantung pada negara dan penguasanya.

Misalnya, menurut Doktrin Monroe, sebelum Perang Dunia II objek vital Amerika Serikat (AS) adalah bagian selatan dunia. Namun, diiringi perbaikan politik internasional AS, usai PD II wilayah objek vital AS diperluas, membuat seluruh dunia menjadi sektor vitalnya. Mereka menyebutnya wilayah besar, yang memungkinkan mereka campur tangan kapan pun dan bagaimanapun mereka mau.

Terkait hal ini, Mantan Presiden Amerika, Clinton menyatakan, “AS memiliki hak menggunakan kekuatan militer untuk memastikan akses tak terbatas ke pasar utama, sumber energi, dan sumber daya strategis. AS juga harus mempertahankan kekuatan militer di Eropa, Asia, dan Afrika untuk membantu pembentukan opini dan perspektif masyarakat tentangnya.”

Dulu, Inggris juga memiliki pengaruh yang luas sekaligus memiliki banyak objek vital di dunia. Tetapi setelah Perang Dunia II, pengaruhnya dalam pengaturan Negara-Negara Persemakmuran melemah. Begitu pula Prancis, selama periode waktu yang sama, lingkaran objek vitalnya mengecil menjadi kelompok negara-negara “Francophonie”. Adapun Rusia, pengaruhnya terbatas pada beberapa negara di sekitarnya setelah Uni Soviet runtuh.

Adapun Negara Islam pertama yang didirikan oleh Rasulullah saw., sejak hari pertama pendiriannya, wilayah suku-suku di sekitar Yatsrib dijadikan sebagai objek vital untuk menyebarkan dakwah. Tak lama kemudian, daerah wilayah dakwah meluas hingga mencakup seluruh Jazirah Arab, lalu meluas hingga membuat seluruh dunia menjadi objek vital untuk menyebarkan dakwah. Nabi kita yang mulia saw. kemudian mengirim utusan ke seluruh negara di dunia, baik yang aktif maupun nonaktif di kancah internasional saat itu. Bahkan Rasulullah saw. juga mengirim tentara demi dakwah. Begitu pula halnya Negara Khilafah yang datang setelahnya mengikuti metode serupa, menjadikan seluruh dunia sebagai medan vital untuk menyebarkan dakwah Islam, sebab dakwah merupakan kepentingan utama Negara Khilafah.

Kemudian muncul pertanyaan: Apakah Bendungan An-Nahdhah dianggap sebagai kepentingan yang vital bagi Sudan? Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu merujuk kepada para ahli, sebab merekalah yang paling mampu menggambarkan realitas secara akurat dan menjelaskan kebenaran apa adanya.

Pakar internasional dalam sumber daya air, sekaligus mantan anggota delegasi Sudan untuk negosiasi Bendungan An-Nahdhah, Dr. Al-Mufti mengatakan, “Lebih dari 20 juta warga Sudan berada dalam bahaya besar disebabkan Bendungan An-Nahdhah ini.”
Khalifa Kemir, seorang spesialis di bidang Pengembangan Bendungan dan Energi juga berkata, “Jika Bendungan An-Nahdhah runtuh, maka akan menyebabkan kehancuran bendungan-bendungan milik Sudan lainnya di Blue Nile.”

Dr. Hisham Bakhiet, profesor hidrolika di Fakultas Teknik Universitas Kairo, yang merupakan salah satu anggota warga Mesir dalam negosiasi Bendungan An-Nahdhah mengatakan, “Bendungan An-Nahdhah telah diklasifikasikan secara internasional sebagai salah satu proyek yang paling berbahaya. Bendungan itu memiliki kemungkinan runtuh karena fakta geologis wilayah tersebut dan konstruksinya yang tidak mengandung beton.”

Pakar Makki Al-Behairi mengungkapkan kepada alarabiya.net bahwa ada banyak penelitian yang menyingkap bahaya Bendungan An-Nahdhah. Hal itu disebabkan besarnya ukuran dan ketinggian bendungan ini. Terlebih lagi, bahan konstruksi bendungan adalah semen yang koefisien daya serapnya rendah dan tidak melebihi 1,5 derajat skala Richter, sedangkan koefisien keamanan sebuah bendungan yang tinggi adalah 8 derajat.

Dalam laporan yang disiapkan oleh seorang pakar Amerika, profesor teknik mesin di Universitas San Diego, California, Ashvio Benny, menerangkan bahwa kapasitas Bendungan GERD mencapai angka yang tidak kurang dari 300%. Dengan begitu, isi dari bendungan ini harus dikurangi sepertiganya untuk mengurangi ketinggian dan kapasitas penyimpanannya.

Benny juga mengatakan bahwa kondisi geologis bendungan ini berada di tempat yang seismik (rawan gempa), sebagaimana sejarah membuktikannya. Benny melanjutkan bahwa Bendungan GERD diperkirakan akan runtuh secara alami karena kondisi tersebut. Data-data yang tersedia menunjukkan bahwa ada sekitar 10.000 gempa bumi berkekuatan 4 skala Richter yang terjadi di dekat lokasi bendungan selama periode antara 1970 hingga 2013.

Perkiraan ini diperkuat dengan runtuhnya beberapa bagian dari bendungan Tekeze yang dibangun pada tahun 2009. Begitu pula bendungan Gibe II yang terletak di Sungai Omo menuju Kenya, bendungan ini mengalami keruntuhan setelah sepuluh hari dibuka secara resmi pasca banjir pertama Sungai Nil.

Al-Buhairi mencatat bahwa selama 15 tahun terakhir, 70 bendungan kecil telah dibangun di utara Etiopia, dan sekitar 45 dari bendungan-bendungan tersebut runtuh dan hancur. Ia berkata, “Sebab meningkatnya risiko hancurnya bendungan di Lembah Celah Besar, Afrika Timur ialah dataran tinggi di sebelah utara Danau Tana yang terletak di ketinggian 4.620 meter di atas permukaan laut. Air dari dataran tinggi tersebut turun hingga ketinggian 600 meter di perbatasan Sudan. Kemiringan ini membuat kemungkinan jebolnya bendungan menjadi nyata.”

Berdasarkan pendapat ilmiah dan pendapat para ahli yang telah disebutkan sebelumnya, para penguasa di Pemerintahan Sudan sendiri telah mengakui bahaya yang ditimbulkan oleh Bendungan GERD bagi kehidupan masyarakat, sebagaimana yang disampaikan oleh Perdana Menteri Sudan, Abdalla Hamdok dan Menteri Irigasi—meskipun di sisi lain mereka juga menyampaikan beberapa maslahat dari bendungan tersebut—. Namun ibaratnya, “Apa gunanya madu yang bisa menyembuhkan manusia jika dicampur dengan racun?”

Sedangkan Menteri Luar Negeri Sudan melihat ke arah yang lebih jauh lagi. Ia menyebutkan bahwa bendungan itu membahayakan setengah dari seluruh penduduk Sudan. Artinya, jika Bendungan GERD runtuh, rakyat Sudan terancam tenggelam. Di mana pernyataan tentang kemungkinan terjadinya hal ini juga telah diperkuat oleh para ahli.

Sayangnya, langkah-langkah yang telah dilakukan oleh pemerintah tidak sesuai dengan bahaya besar yang mengancam penduduk Sudan ini. Sebagai contohnya, pemerintah telah melakukan perundingan bersama Etiopia, namun sebagaimana tutur Dr. Al-Mufti yang ikut menghadiri forum tersebut, perundingan itu terbilang sia-sia dan tidak membawa manfaat. Permohonan Uni Afrika serta Dewan Keamanan PBB pun tidak sesuai dengan kondisi saat ini, di mana seharusnya terdapat pernyataan bersama yang keluar antara Sudan dan Mesir—yang juga akan terancam oleh kehausan—.

Mereka meminta agar Etiopia segera menghentikan pembangunan bendungan. Jika tidak, maka akan tiba balasan langsung di depan mata tanpa aba-aba. Maka harus ada negosiasi, minimal seperti yang sering dilakukan Amerika, “Mulut bernegosiasi secara sembunyi-sembunyi sembari tangan membawa tongkat pukul”—yang dimaksud dari tongkat pukul adalah pelana kuda (tank baja)—untuk menyelesaikan permasalahan ini. Sebab bagi kita, mati diserang singa di arena pertempuran itu lebih baik daripada mati dipermalukan oleh domba yang tenggelam.

Sesungguhnya Bendungan An-Nahdhah tidak hanya sebagai bentuk ancaman bagi penduduk Sudan dan Mesir saja, akan tetapi ia merupakan ancaman bagi seluruh kaum muslimin. Rasulullah saw. bersabda, “Darah orang-orang muslim itu setara, orang yang paling rendah di antara mereka berjalan dengan jaminan keamanan dari mereka, dan mereka adalah satu tangan atas orang selain mereka…” (HR. Abu Dawud).

Dengan demikian, selama kita bagaikan satu tangan, maka ruang hidup kita pada hari ini adalah seluruh muka bumi ini. Rasulullah saw. bersabda, “Aku telah diutus kepada manusia (berkulit) merah dan hitam…” (HR. Ahmad).

Oleh karena itu, wahai para penduduk Sudan dan Mesir! Hanya bersikap diam sebagai penonton di depan masalah yang berbahaya ini tidak akan memberikan jaminan aman terhadap kita. Wajiblah bagi kita untuk mengambil tindakan atas para penguasa tersebut, sehingga tidak membawa kita pada jurang kebinasaan dan tidak menuntun kita seperti menggiring domba ke tempat penyembelihannya. Maka, mari kita tunjukkan sebaik-baiknya persembahan kita di hadapan Allah.[]

Diterjemahkan dari Surat Kabar Ar-Rayah edisi 351, terbit pada Rabu, 3 Muharam 1443 H/11 Agustus 2021 M

Sumber :
https://mediamuslimtimurtengah.wordpress.com/2021/08/23/bendungan-an-nahdhah-simbol-objek-vital-negara-sudan/#more-569

https://www.alraiah.net/index.php/political-analysis/item/6272-the-vital-interests-of-the-sudanese-state-the-renaissance-dam-is-an-example