February 23, 2024

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Babi Sumbang Inflasi Dikalbar?

Oleh: Yeni (Pontianak, Kalbar)

Ada beberapa bahan pangan yang menjadi penyumbang inflasi memprediksi pada Desember 2022, menuju perayaan Natal dan Tahun Baru, di antaranya adalah daging babi, kangkung, bawang merah, serta sawi hijau. Demikian informasi dari Kepala Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Kalimantan Barat, Agus Chusiani.

Ia menjelaskan bahwa daging babi sendiri bisa menyumbang inflasi karena sedang ada wabah virus flu Afrika, ribuan populasi babi di Kalbar juga mati. Populasi babi menurun, dari 8.000 sisa 5.000, itu populasi babi di Kabupaten Sintang. Sementara kebutuhan daging babi pada hari besar keagamaan dan tahun baru sangat besar.

Untuk mengatasi hal tersebut, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) mendatangkan babi dari daerah lain, untuk memenuhi kebutuhan menjelang Nataru. Tim TPID Kalbar juga terus melakukan operasi pasar murah, hingga gelar pangan. Mereka berharap bisa memberikan ketenangan di masyarakat dan tidak ada panic buying.

Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri mencatat jumlah penduduk Kalimantan Barat sebanyak 5,47 juta jiwa pada akhir Desember 2021. Dari jumlah tersebut, terdapat 3,29 juta (60,2%) penduduk Kalimantan Barat beragama Islam. Artinya ada 39,8 % non muslim yang mungkin sebagai konsumen dari daging babi. Mereka yang mungkin merugi karena sempat heboh pada Februari 2022, terjadi kematian 44.322 Ekor Babi di Kalbar karena Terinfeksi Flu Afrika, yang juga telah menyerang bagi di 10 kabupaten dan kota di Kalbar. Tak heran jika kebutuhan tinggi akan daging babi ini menyumbang inflasi di Kalbar. Bahkan ada upaya monopoli bisnis daging babi ini di Indonesia karena dianggap bisnis yang menggiurkan ( kumparan.com 21/12/2022 ).

Basis ekonomi kapitalisme memang tidak memperhatikan terkait jenis barang dan akad jual beli yang terjadi di tengah masyarakat, entah itu halal atau pun haram. Selama mendatangkan keuntungan, akan dijadikan bisnis para kapitalis. Dalam indotrading saja ada tiga perusahaan besar supplier daging babi. Jika ada momentum, bisa meraup keuntungan Rp 10 juta hingga Rp 15 juta per hari. Sementara tidak sedikit riset membuktikan adanya efek buruk dari konsumsi daging babi ini.

Di dalam Islam, penjualan dan konsumsi daging babi diatur untuk kalangan tertentu selain Islam dan lokasi terbatas. Sementara untuk muslim ditutup akses untuk mendatangi atau berjual beli daging makanan haram. Sebagaimana dalil yang sudah sangat tegas dalam hadits Jabir bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya, Allah dan Rasul-Nya mengharamkan jual beli khamar, bangkai, babi, dan patung.” (HR. Bukhari no. 2236 dan Muslim no. 4132). Tentu pengaturan yang adil dan melindungi hak umat Islam hanya bisa terwujud dalam sistem Islam yang kaffah. Yang bisa bisa menempatkan toleransi secara adil namun tidak mendatangkan kemudhorotan bagi kaum Muslim.[]