September 17, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat


Oleh: M. Musa Abdel Shakour al-Khalil

Sejak kemunculannya, negara-negara Kristen Eropa tidak pernah menghentikan konspirasinya melawan Kekaisaran Utsmaniyah. Itu merupakan upaya mereka untuk mewujudkan impian orang-orang Kristen untuk memulihkan Al-Quds dan Konstantinopel.

Dalam rangka menerapkan kebijakan ekspansionisnya, mereka memanfaatkan orang-orang Yahudi untuk membantu rencana mereka, mengeksploitasi harta mereka, dan membersihkan diri dari kejahatan mereka.

Konspirasi Eropa makin intensif di akhir masa itu setelah terjadi banyak kekacauan di wilayah Daulah Utsmaniyah, serta separatisme yang menyebar dengan dukungan negara-negara Eropa.

Agen Prancis—Muhammad Ali Pasha, penguasa Mesir—menjadi aktif setelah kampanye Napoleon melawan Mesir untuk merebut kembali Yerusalem. Muhammad Ali Pasha meminta kepada orang-orang Yahudi untuk membiayai kampanye di Timur Tengah dengan imbalan janji untuk mendirikan eksistensi bagi mereka, mengingat bahwa keluarga Rothschild Yahudi merupakan salah satu orang yang paling utama sumbangsihnya. Akan tetapi, kampanye itu gagal di Tembok Acre pada 1799.

Dalam hal ini, diberitakan bahwa Napoleon berpidato dari tembok itu dan menyerukan kembali pembangunan kerajaan kuno Yerusalem. Dia berkata, “Sesungguhnya dorongan Ilahi telah mengutus saya untuk memimpin tentara ini membawa warisan Israel, dan meminta orang-orang Yahudi untuk datang ke tanah (Israel).” Napoleon berkata, “Israel, bangkitlah! Ini adalah saat yang tepat. Saat ini Prancis menawarkan tangannya kepada kalian untuk membawa warisan Israel. Bergegaslah untuk menuntut pemulihan eksistensi kalian di tengah-tengah bangsa dunia.” Sedangkan terkait kegagalan kampanye Ali Pasha, Napoleon menawarkan pengganti kepada mereka sebagai tanah air di Afrika, akan tetapi mereka menolak.

Dengan kampanye Napoleon itu, terungkaplah kelemahan tentara Utsmani yang menjadi rambu peringatan bagi dunia tentang persaingan atas Al-Quds. Kemudian, mulailah kerja sama serta bahu-membahu antara orang Eropa dan Yahudi melalui pendanaan, rasa ketergantungan, pemanfaatan Taurat, serta ramalan-ramalan kaum Yahudi untuk memuluskan rencana mereka.

Mereka juga mengaitkannya dengan tempat suci, serta menghubungkan aspek spiritual, politik, dan sosial dalam pengadaan tempat tinggal.

Sementara, pada masa-masa ini, Perang Krimea antara Rusia dan Daulah Utsmaniyah yang meletus tahun 1856—1858 M menghasilkan perjanjian yang tidak adil, di antaranya pendudukan Rusia atas wilayah luas di Balkan dan daerah Timur Daulah Utsmaniyah yang mengakibatkan pemisahan dari Daulah. Hal ini disertai dengan meningkatnya campur tangan Eropa dalam urusan negara-negara yang menunjukkan kejahatan, niat buruk terhadap Daulah, keinginan berbagi kekuasaan, dan bersiap untuk menghapuskan Daulah.

Maka, lewat kerja sama Gerakan Turki Muda, diberlakukanlah penerapan beberapa undang-undang yang bertentangan dengan Islam, ide-ide beracun disebarkan oleh para utusan Eropa, dan sekolah misionaris mengarahkan siswa mereka untuk meningkatkan perselisihan antarpejabat Daulah—yang menyebabkan munculnya masalah minoritas, menyulut berbagai perselisihan internal, serta meluncurkan peperangan eksternal. Beberapa antek Eropa yang merupakan para intelektual dan pejabat besar Daulah Utsmaniyah pun turut membantu dalam semua ini.

Akibat perencanaan yang kejam itu, Kesultanan Utsmaniyah menjadi sangat menderita karena utangnya yang besar. Negara ini terpaksa memberikan beberapa hak ekonomi kepada beberapa negara Eropa. Dari sinilah, sempurna sudah dimulainya implementasi praktis pembentukan entitas Yahudi di bawah naungan Eropa, mulai dari kerja sama dengan orang-orang Yahudi pada umumnya dan orang-orang Yahudi Dunma pada khususnya. Mereka menanggapi seruan konspirasi melawan Kesultanan Utsmaniyah dan mengkhianatinya, sedangkan yang namanya pengkhianatan itu termasuk sifat orang Yahudi.

Dapat diketahui bahwa dialah (Utsmani) yang melindungi mereka setelah semua negara Eropa menolak mereka, juga setelah Spanyol mengusir mereka ketika menguasai Andalusia pada 1492. Mereka pun menyadari bahwa negara-negara Eropa—terutama Inggris—akan membuat mereka tunduk pada rencana mereka, maka berkumpullah segala kebencian, kelicikan, dan konspirasi orang-orang Yahudi dan Inggris. Inggris mengadopsi ide Zionis dan tidak ragu-ragu menggunakan segala cara dan metode yang kejam untuk mencapai tujuannya.

Seiring berjalannya waktu, negara-negara Eropa bersama dengan orang-orang Yahudi, mendirikan Asosiasi Turki yan cenderung fanatik, serta membujuk sejumlah pejabat senior dan pejabat negara—terutama yang belajar di luar negeri—untuk bergabung dengan asosiasi ini, berkonspirasi melawan negara dan bekerja sama untuk melayani orang-orang Yahudi, serta mendirikan sebuah entitas untuk mereka. Orang-orang Yahudi Dunma mendirikan Masonik dan asosiasi lainnya, yang bertujuan untuk menghancurkan Kesultanan Utsmaniyah.

Oleh karenanya, respons apakah yang dilakukan Daulah Utsmani dalam bayang-bayang permusuhan, konspirasi Zionis, dan usaha pelemahan padanya untuk menjaga Palestina? Kemudian, apa yang dilakukannya untuk mencegah munculnya proyek Barat ini?.[]

Diterjemahkan dari Majalah Al-Waie edisi 418, terbit pada bulan Dzulqa’dah 1442 H/Juni 2021 M

Sumber :
https://mediamuslimtimurtengah.wordpress.com/2021/07/24/amanah-dan-kepengurusan-palestina-di-masa-utsmani-bagian-1/
http://www.al-waie.org/archives/article/17774