September 17, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat


Oleh: M. Musa Abdel Shakour al-Khalil

Tidaklah seorang pun yang mempelajari sejarah manusia kecuali ia dapat mengapresiasi sejarah mulia yang diukir oleh Khilafah Islam selama hampir 13 abad, yang mulia dengan puncak kekuatannya, bahkan (tetap) hebat dalam kelemahannya.

Jika kita melihat sejarah Kekhalifahan Utsmaniyah yang berlangsung selama hampir 600 tahun, pada saat itu terjadi urbanisme secara besar-besaran, pemerintah yang penuh kasih sayang terhadap rakyatnya, serta adanya orang-orang yang melebur dengan Islam.

Saat itu juga, tidak ada perbedaan hukum antara orang Arab dan non-Arab, keadilan mendominasi, dan orang-orang tunduk kepada Daulah. Hal ini tetap berlangsung hingga negara-negara lain menghantam Daulah pada masa keruntuhannya akibat kegagalan dalam penerapan Islam pada akhir kepemerintahannya.

Namun, akankah sejarah terulang kembali? Ya, negara ini akan terulang lagi oleh kaum muslimin karena agama mereka adalah agama Ilahi yang turun langsung dari Sang Pencipta. Mereka dijanjikan akan kembali ke masa kekhalifahan seperti sebelumnya, yakni kekhalifahan yang mulia dengan metode kenabian. Sebagaimana Rasulullah SAW mengabarkan bahwa Daulah itu tidak akan kembali dengan sendirinya, akan tetapi kaum musliminlah yang akan menerapkan kepemerintahan dengan mengikuti agamanya, dan berjalan sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW.

Bahwasanya, di sepanjang sejarah, Daulah Khilafah menanti untuk menaklukkan Negeri Syam dan perbatasan Baitulmaqdis. Semua itu dimulai dari masa kenabian, semenjak adanya pergerakan pasukan Islam pada masa itu.

Adapun Perang Mu’tah kemudian Perang Tabuk pada zaman Rasulullah SAW, menjadi awal dari penaklukan Negeri Syam, yang kemudian penaklukan tersebut berlanjut pada masa Kekhalifahan Abu Bakar RA oleh Umar bin Khaththab RA, maka tercapailah wasiat Nabi SAW untuk Tamim ad-Dariy beserta keluarga dan generasinya.
Ikrimah berkata, “Ketika Tamim masuk Islam, ia (Tamim) berkata, ‘Sesungguhnya Allah telah memperlihatkan seluruh bumi kepadamu, maka berilah kampung untukku di Betlehem.’ Rasulullah menjawab, ‘Ia untukmu,’ dan telah dituliskannya untuknya, kemudian ia berkata, ‘Telah datang Tamim membawa surat kepada Umar,’ dan dia berkata, ‘Aku menyaksikannya, lalu ia menandatanganinya.’ Dari Zaid bin Amr ia berkata, ‘Saya datang kepada Nabi SAW dan saya memeluk Islam.’ Kemudian Nabi SAW berkata kepada Tamim ad-Dariy, ‘Tanyakan kepadaku,’ kemudian ia bertanya tentang Rumah Ainun dan Masjid Ibrahim, kemudian dia memberikannya kepada mereka.”

Al-Quds dan sekitarnya adalah tanah yang diberkahi dan termasuk yang utama bagi para khalifah kaum muslimin secara keseluruhan. Shalahuddin al-Ayyubi rahimahullah berhasil mengembalikan Al-Quds ke pangkuan Daulah Islamiyah ketika Perang Hittin, setelah (Al-Quds) diserang dan dirampas di Perang Salib. Kemudian, masuklah Palestina di bawah kekuasaan Utsmani pada tahun 1516.

Pada masa kekuasaan Sultan Salim I dan anaknya yaitu Sultan Sulaiman al-Qanun, Al-Quds mendapat perhatian khusus dalam segala hal agar terjaga kesuciannya, hingga runtuhnya Khilafah Islamiyah pada masa Utsmani.

Demikianlah, negara sama halnya individu, ia akan mencapai masa kejayaannya dan akan melemah ketika pemahamannya terhadap mabda dan sistem kehidupannya menurun, juga buruknya penerapan Islam.

Maka, Daulah Utsmaniyah bukanlah hal yang baru, ia seperti negara-negara lain—yang mengalami kemajuan dan kemerosotan. Dengan catatan, sampainya pada kehancuran bukan dikarenakan buruknya mabda, akan tetapi karena buruknya penerapan [mabda] oleh kaum muslimin.

Kondisi politik yang sulit dan peperangan yang Daulah lakukan, berdampak pada Palestina, yakni adanya pelalaian dalam bidang ekonomi, pendidikan, dan politik, seperti halnya wilayah Utsmaniyah lainnya pada masa itu.

Adanya wajib pajak yang membebani pundak masyarakat karena banyaknya perang yang memerangi Daulah, terbatasnya pendidikan pada beberapa sekolah yang ada di seluruh Palestina, dan menurunnya kualitas pembelajaran di dalamnya; memperluas kesempatan bagi misionaris Barat untuk meningkatkan aktivitas sekolah-sekolah mereka pada akhir abad ke-19 M.

Kemudian, memburuknya penyakit dan kemiskinan mencerminkan dampak negatif yang terjadi kala itu, yang memaksa banyak masyarakat menjual tanah-tanahnya.

Di samping itu, Daulah dihadapkan dengan banyaknya peperangan melawan negara-negara tamak yang membuat Daulah merekrut para pemuda untuk bergabung dengan prajurit perang untuk ditempatkan di luar wilayah Daulah, yang dikenal dengan “seferberlik” atau mobilisasi umum.
Hal ini menciptakan ketakpuasan dari sisi masyarakat terhadap perilaku penguasa, terutama dari peningkatan operasi Turkifikasi pada zaman itu; yang mana orang-orang Arab kehilangan pekerjaannya akibat posisi senior dibatasi untuk orang Turki, walaupun tidak semua orang Turki, melainkan untuk mereka yang tergabung dalam Asosiasi Persatuan dan Kemajuan yang merupakan sayap militer bagi Asosiasi Turki Muda yang memiliki pengaruh besar pada pemukiman Yahudi di Palestina selama masa kepemerintahan Utsmani.[]

Diterjemahkan dari Majalah Al-Waie edisi 418, terbit pada bulan Dzulqa’dah 1442 H/Juni 2021 M

Sumber :
https://mediamuslimtimurtengah.wordpress.com/2021/07/24/amanah-dan-kepengurusan-palestina-di-masa-utsmani-bagian-1/
http://www.al-waie.org/archives/article/17774