September 17, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh: Profesor Saifullah Mostaneer
(Kepala Kantor Media Hizbut Tahrir di Wilayah Afganistan)

Sejarah membuktikan bahwa semua pendudukan yang angkuh dan sewenang-wenang di Afganistan, telah menghadapi kekalahan yang memalukan dan hina. Hanya dalam kurun 42 tahun terakhir, dua kekuatan dunia (Uni Soviet dan Amerika—beserta sekutunya yang tergabung dalam organisasi NATO), harus menderita pahitnya kekalahan di bumi Afganistan.

Demikian pula, 20 tahun lalu, Amerika mengabaikan berbagai fakta mengenai Afganistan, seperti sejarahnya, medannya yang sulit, pola hidup yang sederhana dan kesukuannya, serta jihad dan pengorbanan rakyatnya. Yang terpenting dari itu, Amerika mengabaikan bahwa orang-orang di negeri ini bangga akan akidah mereka.

Namun, meskipun mengetahui segalanya, Amerika dengan arogan tetap menyerang dan menduduki Afganistan! Amerika telah menggunakan segala cara untuk menipu sebagian dunia di bawah klaim palsu “perang melawan teror”, yang sebenarnya adalah perang melawan Islam dan kaum muslimin; dengan memobilisasi mereka di bawah slogan-slogan omong kosong, seperti demokrasi, kebebasan, negara berkembang, pembangunan negara, rekonstruksi, hak asasi manusia, hak asasi perempuan, dan hak kelompok minoritas.

Dengan dalih ini, minoritas penguasa boneka di antara negeri Afganistan—yang disebut sebagai pemimpin politik dan militer—dipaksakan keberadaannya melalui pembentukan pemerintah yang cacat. Jika bukan karena dukungan kekuatan imperialis Barat, hal itu tidak akan terjadi, bahkan mereka tidak akan mampu untuk bertahan selama satu hari pun di antara kaum muslimin Afganistan.

Amerika telah menghabiskan lebih dari $2 triliun di tanah Afganistan, kehilangan sekitar 2.500 tentara dan lebih dari 20.000 terluka, puluhan ribu dari mereka meninggalkan tanah ini dengan trauma psikologis yang mendalam. Banyak yang bunuh diri dan lainnya hidup menderita dengan penuh rasa bersalah, trauma, serta cacat dan luka-luka akibat kejahatan, kekejaman, dan teror yang mereka lakukan terhadap orang-orang yang tak berdosa dan tak berdaya.
Ketika Amerika menyadari kekalahan militernya yang memalukan di Afganistan, Amerika segera melupakan janji-janji palsunya kepada para pembayar pajak Amerika, rakyat Afganistan, dan agen-agennya tentang penarikan tanpa syarat dari negara itu.

Selain itu, Amerika memimpin permainan untuk mencapai tujuannya, yakni melalui perbincangan kedamaian dan kesepakatan dengan Taliban, yang tidak dapat dicapai selama 20 tahun perang.

Namun, penipuan mereka kembali gagal, karena Taliban—yang biasa disebut oleh Amerika sebagai “kelompok teroris” karena tidak mematuhi nilai-nilai demokrasi dan kemanusiaan—diberi legitimasi internasional.

Beberapa pemimpinnya melakukan lawatan ke berbagai negara dan menjalin hubungan dengan mereka, memperluas pengaruh dan kontrol mereka di dalam negeri, dan muncul sebagai salah satu pihak utama dalam masalah Afganistan, yang mana baru-baru ini Amerika menandatangani Perjanjian Doha hanya untuk menyelamatkan muka.

Tidak hanya sampai di situ, Amerika juga melanjutkan permainan tipuannya, seperti yang diakui secara resmi pada saat yang sama, baik oleh gerakan Taliban maupun Pemerintahan Kabul.

Telah diasumsikan bahwa pemerintahan bonekanya yang akan mampu melawan dan menyerang Taliban, serta mengubah arus peperangan di medan perang, tetapi ternyata ini menjadi perhitungan yang salah.

Amerika belum menyadari bahwa pemerintahan bonekanya yang berkhianat dan rusak itu tidak memiliki akar di tengah pemuda muslim di Afganistan sejak hari pertama. Inilah sebab ia tidak bisa menetap lebih dari beberapa minggu; dan dengan memalukan, semua kabupaten dan kota hilang dalam waktu singkat.

Terlepas dari kepentingan pribadi dan beberapa individunya, Ashraf Ghani berusaha melawan, tetapi perlawanannya berkurang pada saat-saat terakhir karena pelarian yang memalukan dari negaranya. Ia meninggalkan para pengikutnya di perairan panas.

Sekarang, Barat sedang mengirim 5.000 tentara tambahan dari Amerika dan 600 tentara tambahan dari Inggris untuk mencegah jatuhnya Kabul dengan alasan palsu, yaitu evakuasi keamanan staf kedutaan, budak-budak, mata-mata, dan tentara bayaran mereka, tetapi mereka tidak dapat melakukan hal tersebut.

Sementara itu, Barat mengadopsi tempat-tempat yang tersebar yang berkaitan dengan Afganistan. Amerika, Inggris, dan Eropa memiliki tiga pandangan yang berbeda mengenai Afganistan, yang mana mereka tidak dapat mencapai kesepakatan bersama di antara mereka sendiri, dan bahwa, “Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah?”

Negara-negara yang berada di kawasan itu pun prihatin terhadap situasi di Afganistan dan mencoba melihat salah satu sisi yang mendominasi masalah di negara itu. Terutama Rusia, yang khawatir dengan meluasnya ketidakamanan yang akan mencapai akhir Asia Tengah, sementara Cina khawatir terhadap proyek ekonominya di Pakistan dan Asia Tengah.

Selain itu, Amerika, negara-negara Barat, dan PBB menekan Taliban untuk mencegah mereka membangun kembali “Imarah Islam” dengan mengancam akan membatasi dan memutus dukungan ekonomi Taliban jika mereka mencoba menguasai negara itu secara paksa.

Sekalipun begitu, Taliban harus menyadari, mulai sekarang banyak jebakan berbahaya yang ada di hadapan mereka.

Sesungguhnya, jebakan negara kebangsaan (nation state), ketakpatuhan terhadap syariat, pengakuan konvensi internasional, hak wanita, dan lainnya, adalah nilai-nilai yang harus ditolak secara jelas dan tegas. Taliban harusnya belajar dari pengalaman gerakan Islam lainnya dan melepaskan diri dari keterlibatan dalam rezim non-Islam buatan manusia, dan tidak boleh menerima apa pun kecuali kebenaran.

Sebab, kompromi dalam penerapan Islam akan menyebabkan hilangnya ketaatan dan kredibilitasnya di kalangan masyarakat. Tanpa dukungan kaum muslim, tidak mungkin ada gerakan Islam yang dapat bertahan lebih lama lagi. Islam tidak dapat dibatasi dan dikekang oleh batas geografi kecil dan individu, karena mereka tidak akan mampu menyatukan umat Islam sebagai satu bangsa, dengan satu perdamaian dan peperangan.

Taliban harus menyadari bahwa Amerika, Barat, dan PBB berencana untuk mendorong Taliban menerima solusi sementara antara Islam dan kekufuran. Padahal sesungguhnya, sesuatu yang terletak di antara kebenaran dan kebatilan adalah kebatilan.

Oleh karena itu, Taliban harus menegakkan sistem Islam di bawah naungan Khilafah yang sesuai dengan metode kenabian bagi seluruh kaum muslimin di dunia. Khilafahlah yang akan menerapkan undang-undang berdasarkan syariat Islam, serta politik luar negerinya juga harus didasarkan pada penyebaran Islam dengan dakwah dan jihad. Inilah jalan kemuliaan di dunia sekaligus jalan menuju kemenangan di akhirat kelak.[]

Diterjemahkan dari Surat Kabar Ar-Rayah edisi 353, terbit pada Rabu, 17 Muharam 1443 H/25 Agustus 2021 M

Sumber :
https://mediamuslimtimurtengah.wordpress.com/2021/09/03/afganistan-dan-taliban-tipu-daya-dan-tanggung-jawab/

https://www.alraiah.net/index.php/political-analysis/item/6300-2021-08-24-18-11-10