August 4, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Fitri Khoirunisa (Aktivis Back To Muslim Identity)

Setiap hari kita terus mendapatkan fakta yang mengejutkan soal penyebaran Covid-19 yang semakin tak tertangani. Sampai dengan bulan Mei 2021 ini kasus Covid di seluruh dunia lebih dari 170,6 juta kasus. Mengetahui fakta tersebut seharusnya pemerintah beserta masyarakat menjadikan ini sebagai momentum mengevaluasi solusi yang selama ini sudah berjalan. Mencari tau apa masalahnya, bukan memaksakan vaksinasi sebagai satu-satunya solusi sehingga semakin bertambah parahnya keadaan. Bahkan menjadikan vaksinasi yang di butuhkan oleh masyarakat sebagai ajang bisnis, mengapa hal ini dapat terjadi??

Baru-baru ini kabar dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cilacap yang sudah memastikan sterilisasi ruangan dan skrining tenaga kesehatan untuk pencegahan penyebaran Covid-19 dapat dilaksanakan lebih cepat, sehingga layanan rawat jalan sehingga dapat kembali beroperasi lebih awal. Penutupan itu merupakan dampak dari terpaparnya puluhan nakes, setelah tracing dan testing pegawai yang sempat berinteraksi atau merawat 13 ABK Filipina yang terkonfirmasi Covid-19 varian India B.1617.2. Penutupan sementara pelayanan Poli Klinik Rawat Jalan RSUD Cilacap pada hari Senin dan Selasa, 24-25 Mei 2021 lalu.

Semula sempat beredar bahwa layanan Poli Klinik Rawat Jalan akan dihentikan sementara selama sepekan mulai Senin (24/5). Hal ini menyusul adanya 32 orang tenaga Kesehatan yang terkonfirmasi positif Covid-19. (liputan6.com, Minggu/23/5/2021).

Sistem sekuler demokrasi dengan ekonomi kapitalisme neoliberal yang tegak hari ini ternyata telah gagal memberikan jawaban solusi tuntas untuk mengatasi pandemi. Bahkan dari hari ke hari cenderung kian menunjukkan kebobrokannya.

Lihatlah! Negara-negara adidaya pengusung kapitalisme tampak saling bersaing mencari keuntungan dari keadaan. Sistem kesehatan yang buruk di berbagai dunia pun dimanfaatkan sebagai target bisnis kesehatan ber-omzet super besar.

Sementara di sisi lain, penguasa di dunia ketiga tak mampu beranjak dari posisinya sebagai objek penderita. Mereka menunggu nasib dari para tuan besarnya. Siap diperas seluruh potensinya demi dan atas nama gerakan penanggulangan pendemi global. Mirisnya, para penguasa ini sibuk “berasyik masyuk” dalam proyek-proyek artifisial yang tak jelas arah. Menanggulangi wabah di satu sisi, tapi membuka celah penyebarluasan di sisi lain. Maka, berharap solusi pada sistem rusak ini seperti mimpi di siang hari, karena sistem ini tegak di atas asas yang batil, yakni keyakinan manusia yang serba lemah berdaulat untuk membuat hukum dan mengurus kehidupan.

Wajar jika kehidupan yang muncul dari sistem ini begitu sarat kepentingan, terutama kepentingan para pemilik modal yang visi hidupnya semata-mata ingin mencari keuntungan material. Abainya pemerintah terhadap kesengsaraan publik yang sudah sangat lama, lahirnya problem-problem baru serta lebih banyaknya korban semestinya mendorong langkah tegas untuk mengambil Islam sebagai solusi. Karena sudah sangat jelas bahwa solusi sekuler baik secara lokal maupun mengikuti rekomendasi internasional terbukti gagal.

Bagaimana Islam Menjawab Tantangan Ini ??

Adalah British Medical Jurnal, sebuah Jurnal kesehatan bergengsi menyebutkan, ”Pada akhirnya, pembasmian Covid-19 secara global di mana saja sangat diinginkan. Namun ini menantang karena membutuhkan kepemimpinan dan koordinasi yang mendunia.” (muslimahnews.com, 30/9/2020)

Tantangan ini tak mungkin dijawab oleh sistem di luar Islam, yang visi politiknya fokus pada akumulasi modal. Atau kepemimpinannya merepresentasi kepentingan para kapitalis. Apalagi di saat yang sama, sistem ini telah memecah belah umat Islam ke dalam sekat negara bangsa. Membuat satu sama lain fokus pada kepentingannya masing-masing, bahkan satu sama lain bersaing demi meraih tujuan nasionalnya semata. Wajar akhirnya pandemi ini menjadi problem yang tak berkesudahan.

Berbeda halnya dengan sistem Islam. Kepemimpinan di dalamnya menjadikan sentral penyelesaian problem keumatan. Penguasa di dalam Islam benar-benar berfungsi sebagai pengurus dan penjaga umat, yang pertanggungjawabannya tak hanya berdimensi dunia saja, tapi juga berdimensi akhirat.

Penguasa Islam tak mungkin abai terhadap satu pun nyawa manusia. Berbanding terbalik dengan sistem demokrasi kapitalisme neolib hari ini yang justru abai bahkan tega mengorbankan ratusan juta manusia.

Penguasa Islam memegang amanah berat, mengurus umat dan menyejahterakan mereka. Yakni dengan cara memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar mereka seperti pangan, sandang, dan papan. Selain itu juga memenuhi kebutuhan publik seperti pendidikan, keamanan, dan kesehatan.

Semua ini benar-benar diniscayakan karena Islam memiliki seperangkat aturan, yang jika diterapkan akan mampu menolong para penguasa menunaikan seluruh amanah mereka. Termasuk aturan tentang perekonomian yang membuat negara memiliki modal besar agar dapat mensejahterakan rakyatnya.

Di luar itu, kepemimpinan Islam pun dipastikan mampu menjadi jawaban atas tantangan kekinian, yaitu kondisi wabah dan krisis lain yang juga bersifat global. Karena kepemimpinan Islam juga bersifat global, yaitu satu kepemimpinan untuk semua.[]