June 30, 2022

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Sontak mengejutkan publik kabar mengenai Ustadz Abdul Somad dideportasi di Singapura. Kabar UAS dideportasi di Singapura diungkapkan dalam akun Instagram @ustadabdulsomad_official pada Senin, 16 Mei 2022. “UAS di ruang 1×2 meter seperti penjara di imigrasi, seperti dipenjara sebelum dideportasi dari Singapura,…” ujar UAS. (www.newsmedia.co.id)

Penolakan pemerintah Singapura atas UAS ke negeri mereka mendapat sorotan masyarakat dan reaksi beragam dari sejumlah pihak. Salah satu yang patut disoroti adalah respon beberapa pejabat yang notabene menjadi penguasa di negeri Muslim terbesar di dunia ini.

Staf khusus Menteri Agama RI, Ishfah Abidal Aziz, mengatakan makna yang bisa dipetik dari peristiwa itu adalah penceramah agama “perlu menjaga dan berhati-hati dalam hal melakukan kegiatan keagamaan, atau menyampaikan pandangan-pandangan keagamaan, utamanya terkait dengan kehidupan berbangsa dan bernegara”.

Senada dengan itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, secara tidak langsung juga menyinggung perihal dicekalnya UAS oleh pihak Singapura. Beliau menyampaikan agar sebaiknya mulai jaga mulut, agar kita bertamu ke tetangga tak diusir.

Apa yang dilakukan oleh pihak Singapura dan respon beberapa pejabat yang terkesan memojokkan UAS ini tentu patut dikritisi. Sebagaimana yang kita ketahui, UAS adalah sosok ulama yang lurus yang begitu mencintai umat dan sebaliknya umat pun begitu mencintai beliau.

Bukti kecintaan beliau yang begitu besar pada umat ini bisa kita rasakan dari keistiqomahan beliau dalam berdakwah. Hampir sebagian besar waktu yang beliau miliki diwakafkan untuk dakwah. Yaitu menyampaikan kebaikan (Islam), dan menyeru agar menjauhi kemungkaran. Apa yang beliau lakukan sudah sepatutnya hargai sebesar-besarnya, baik dengan memuliakan dan mendo’akan beliau.

Patut kita pahami pula bahwa apapun yang beliau sampaikan, selama itu bagian dari ajaran Islam, baik itu menyebarkan kebaikan maupun menyinggung atau mencela kemungkaran -seperti menghinakan perilaku korupsi, gay, lesbian, kedzoliman penguasa, dan berbagai kemungkaran lainnya- adalah bagian yang tidak terpisahkan dari dakwah.

Maka tidaklah sewajarnya UAS sebagai sosok ulama -yang dikabarkan sebagai pewaris para nabi- mendapat perlakukan kerdil, apalagi sampai dihinakan dengan memasukkannya ke ruang penahanan. Terlebih lagi jika alasan penahanan dan pencekalan beliau itu diakibatkan rasa tersinggung atas dakwah yang beliau sampaikan. Ini sama saja dengan membenci seruan Islam.

Setidaknya dari fenomena pencekalan ini dan bergulirnya berbagai respon yang memojokkan UAS, kita bisa mengambil beberapa pelajaran. Pertama bahwa musuh-musuh Islam yang membenci ajaran Islam, dakwah, ulama, bahkan Nabi sekalipun itu nyata adanya.

Bukan hanya di kasus UAS ini, namun sebelumnya juga ada upaya pembakaran al-Qur’an, penghinaan Nabi Muhammad saw. melalui gambar karikatur dan sebagainya. Belum lagi pertumpahan darah saudara-saudara di Palestin, Rohingya, Uyghur, Suriah, Afganistan, Irak dan lainnya yang merupakan bagian nyata dari permusuhan tersebut.

Beberapa tahun yang lalu kita juga menyaksikan kebencian serupa terhadap ajaran Islam dan Ulama sempat diutarakan oleh salah satu mantan Gubernur di negeri ini, yang dengan sangat lantang mengatakan “dibohongin pakai Surat Al-Maidah 51”. Banyak ahli mengatakan bahwa ucapan beliau itu terindikasi kuat menistakan ajaran Islam dan para ulama yang menyampaikannya.

Kedua, fenomena ini semakin mempertegas bahwa sistem politik sekuler tidak memiliki kapabilitas untuk menjaga Islam, dakwah, dan ulama sepenuhnya. Umat juga tidak bisa berharap banyak kepada kekuatan politik sekuler. Kenapa? Karena memang faktanya menunjukkan realitas tersebut. Ulama dihinakan, nyawa umat Islam begitu mudahnya ditumpahkan, bahkan al-Qur’an dan Nabi sekalipun dengan bebas dihinakan, itu semua adalah berkat diterapkannya politik sekuler didunia.

Jika kita menggali lebih dalam lagi maka akan terungkap bahwa sistem politik sekuler memang pada dasarnya tidak bisa menghindari segala macam keburukan tadi. Terjadinya berbagai macam keburukan dan kejahatan adalah sebuah keniscayaan dari sistem politik sekuler. Sebab, asas yang membangun sistem ini adalah kebebasan. Baik itu kebebasan berpendapat, bersikap, maupun memiliki sesuatu. Maka wajar, penghinaan terhadap ajaran Islam, Ulama, Nabi, bahkan al-Qur’an tumbuh subur dalam sistem politik sekuler yang berlandaskan kebebasan tersebut.

Ketiga, politik demokrasi sekuler telah bertanggung jawab manghasilkan kader-kader penguasa bermuka dua. Apa maksudnya? Yaitu kader-kader penguasa yang alih-alih memuliakan Ulama, melainkan hanya menjadikan Ulama sebagai alat kepentingan politik untuk meraup popularitas dan suara politik sebanyak-banyaknya.

Tentu kita masih ingat jelas menjelang momentum Pilpres beberapa tahun lalu, dimana salah satu calon penguasa ‘mendekat’ dan duduk bersebelahan dengan UAS sambil mendengarkan nasehat Beliau. Adegan itu begitu serius dan meyakinkan, bahkan sampai bercucuran air mata. Namun pasca pilpres dan mendapatkan jatah kekuasaan, apa yang bisa kita saksikan? Atas nama dinamika politik demokrasi segala macam harapan pupus. Alih-alih menjaga harapan umat dan ulama, membela martabat dan kemuliaannya kini saja tidak mampu.

Keempat, umat seharusnya mulai sadar bahwa kemuliaan ulama dan ajaran Islam akan benar-benar terjaga hanya dengan sistem politik Islam saja, bukan yang lain. Umat harus segera berlepas diri dari sistem politik sekuler ini jika memang memiliki keinginan dan kesungguhan untuk menjaga kemuliaan Ulama dan Islam.

Sistem politik Islam adalah sistem politik yang berkedaulatan Islam yang para pemimpinnya selalu dituntut (wajib) untuk taat dan takut hanya kepada Allah SWT semata.

Sebagaimana kisah Khalifah Umar r.a. yang begitu takut dengan amanah kekuasaan yang beliau pikul. Khalifah Umar r.a. pernah satu kali bertutur, “Seandainya seekor keledai terperosok ke sungai di Kota Baghdad, niscaya Umar akan ditanya, ‘Mengapa engkau tidak meratakan jalan untuknya?’.”

Itu hanya baru seekor keledai yang begitu beliau susahkan. Maka dihinakannya Ulama sebagaimana yang kini kita saksikan tentu lebih membuat beliau gelisah.

Kesadaran politik Islam yang begitu khas ini akan membentuk mental politik yang baik. Penguasa akan dihantui dengan amanahnya. Setiap jengkal dari bagian kekuasaannya adalah amanah besar yang akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah SWT.

Dengan demikian, mari kita berlepas diri dari sistem sekuler ini dan kembali mewujudkan kehidupan Islam yang sempurna. Yakni dengan menghadirkan peradaban Islam sebagaimana para Khulafaur Rasyidin dan Khalifah setelahnya yang dimuliakan Allah SWT.

Sejatinya hanya dengan kekuatan Politik yang berkedaulatan Islam sajalah, para Ulama yang kita cintai bisa terlindungi dan dimuliakan. Tidak hanya itu saja, orang-orang bahkan negara-negara yang memusuhi Islam dan menghinakan Ulama bisa ditundukkan. Sebagaimana Nabi dan para sahabat menundukkan kota Mekah juga peradaban Persia.

Semoga Allah SWT segera menurunkan berkah dan pertolongannya, yaitu dengan tegaknya peradaban Islam. Aamiin. []